Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang kian marak di era digital menjadi topik utama dalam kegiatan Kajian dan Silaturahmi yang diselenggarakan SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita). Kegiatan tersebut berlangsung di kediaman Ericha Aulia, Desa Tawangsari, pada Sabtu (31/1/2026).
Program kajian keliling bulanan ini diikuti perwakilan guru ISMUBA serta siswa International Class X-5B. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi digital sekaligus membangun kesadaran bermedia sosial secara bijak.
Sejumlah siswa turut berperan dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ahmad Faruqi Sirhindi (Bahasa Inggris), Rizqy Khoirunnisa Rahmadani, Qalam Ilahi Rafif Aldan, Rasita Halwa (kultum Bahasa Inggris), Rasyad Muhammad Shabri (Bahasa Indonesia), serta penampilan Evelyn Veronika.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Ahmad Syihabuddin, S.Sos. selaku pemateri menjelaskan bahwa Fear of Missing Out merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa takut tertinggal dari apa yang dilakukan, dimiliki, atau dicapai orang lain.
“Fenomena ini semakin menguat seiring masifnya penggunaan media sosial yang menampilkan potongan-potongan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial menjadi pemicu utama FOMO melalui budaya pamer (flexing) yang kerap menampilkan keberhasilan, gaya hidup mewah, dan pencapaian tertentu tanpa memperlihatkan proses serta realitas sesungguhnya. Kondisi ini melahirkan standar hidup semu, ketika seseorang mengukur kebahagiaan dan nilai diri berdasarkan apa yang dilihat dari orang lain.
Ahmad Syihabuddin menegaskan bahwa FOMO membawa dampak psikologis, seperti rasa tidak puas, cemas, minder, hingga kehilangan kepercayaan diri. Secara spiritual, FOMO dapat menjauhkan seseorang dari rasa syukur, memicu iri dan hasad, serta membuat hati gelisah karena terlalu fokus pada urusan dunia.
Sementara itu, secara sosial FOMO dapat mendorong perilaku konsumtif, kompetisi tidak sehat, serta hubungan yang didasari pencitraan, bukan ketulusan.
Ia mengajak jamaah untuk menyikapi media sosial secara bijak, memperkuat literasi digital, serta membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki jalan hidup dan ujian yang berbeda.
“Kunci ketenangan hidup adalah kembali pada rasa syukur, menerima takdir Allah, dan tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar kebahagiaan kita,” pesannya.
Kajian ini menjadi pengingat bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ditampilkan di media sosial, melainkan oleh kualitas iman, akhlak, serta kebermanfaatan bagi sesama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments