Judul tulisan ini memang tidak memenuhi standar jika dikaji dari aspek kaidah bahasa Indonesia kekinian. Namun, kata-kata yang tidak efektif dan efisien ini mengingatkan kritik tajam terhadap umat Islam pada tahun 1940-an. Dilontarkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno tentang Islam Sontoloyo.
Judul tulisan ini adalah bagian dari potongan tulisan Bung Karno di paragraf akhir “Islam Sontoloyo”. Islam Sontoloyo awalnya merupakan tulisan Bung Karno yang dimuat di Majalah Panji Islam pada tahun 1940. Kemudian tulisan itu disatukan dengan tulisan-tulisan lainnya dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”.
Setidaknya ada 5 definisi Islam Sontoloyo yang dikenalkan oleh Bung Karno dalam tulisan pendeknya itu. Dan, salah satu definisinya adalah penggunaan paham fiqih hanya untuk menyenangkan diri sendiri, dengan mengabaikan etiknya. Secara lahiriyah memang mengerjakan syariat Allah swt, tapi seenaknya sendiri.
“Halalnya orang yang mau main petak umpet dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan, kalau mau memakai kata yang lebih jitu, halalnya orang yang mau mengelabui mata Tuhan!” begitu kritik Bung Karno dalam salah satu paragraf tulisannya.
Dalam momen Ramadan dan Lebaran 2026 di Indonesia, harus diakui jika tidak sedikit umat Islam yang “bermadzhab” Sontoloyo. Mengawali puasa Ramadan yang berbeda, mereka memilih untuk berpuasa berpegang pada yang terakhir memulai. Tapi saat mengakhiri puasa, mereka mengikuti pihak yang terlebih dahulu merayakan Idulfitri.
Saat mereka memulai berpuasa, penganut madzhab Sontoloyo ini berpegang pada alasan hilal belum dirukyah. Alasan lainnya, mereka mengikuti “ulil amri” yang dipersempit maknanya hanya sekedar pemerintah.
Dengan satu dua alasan ini, ada sebagian umat Islam Sontoloyo memulai puasa pada 19 Februari 2026. Mengabaikan mereka yang berkeyakinan bahwa puasa dimulai 18 Februari 2026 berdasarkan hisab haqiqi yang dikompilasi di Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Sayangnya, penganut Islam Sontoloyo mengingkari alasan memulai puasa itu ketika menetapkan hari Idulfitri. Alasan hilal belum terlihat oleh rukyah maupun ketaatan kepada ulil amri, diabaikan. Katanya, berdasarkan pemahaman fiqih, seseorang dilarang puasa jika sudah mendengar takbiran sebagai penanda tanggal 1 Syawal.
Umat Islam Sontoloyo ini memulai berpuasa 19 Februari 2026, bukan 18 Februari 2026. Tapi Idulfitrinya ikut yang tanggal 20 Maret 2026, bukan 21 Maret 2026. Yang lebih sontoloyo lagi, tanggal 20 Maret 2026 sudah tidak berpuasa, tapi salat Idulfitrinya baru dilakukan pada 21 Maret 2026.
“Seolah-olah Tuhan dikelabui mata! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah dilaksanakan, kalau dilahirkannya syariat saja sudah dikerjakan! Tapi tidaklah justru yang demikian ini sering sering kita jumpakan?” begitu kritik keras Bung Karno tentang keberadaan umat bermadzhab Islam Sontoloyo ini.
Padahal jika benar-benar mengambil ajaran etik agama Islam, memulai dan mengakhiri puasa Ramadan –seperti di 2026 ini– harus konsisten keyakinannya. Jika memang berdasarkan rukyatul hilal, puasa di Indonesia dimulai pada 19 Februari 2026 dan diakhiri pada 21 Maret 2026. Hanya dengan alasan telah mendengar takbir pada 19 Maret 2026 malam, tiba-tiba mengikuti Idulfitri pada 20 Maret 2026.
Tapi ternyata ada yang lebih sontoloyo dari umat Islam di Indonesia. Mereka memulai puasa 19 Februari 2026, tanggal 20 Maret 2026 sudah tidak puasa, tapi salat Idulfitrinya pada 21 Maret 2026. Kesontoloyoan juga dilakukan oleh mereka yang memulai puasa pada 18 Febrauari 2026, tanggal 20 Maret 2026 sudah tidak puasa. Tapi salat Idulfitrinya baru 21 Maret 2026 karena dijadwal sebagai imam-khatib salatnya di tanggal itu.
Janganlah memulai puasa berdasarkan rukyatul hilal, tapi mengakhirinya dengan hisab. Begitu pula jangan memulai puasa berdasarkan hisab haqiqi KHGT, tapi salat Idulfitrinya berdasarkan rukyatul hilal hanya gara-gara dijadwal sebagai imam-khatibnya.
Mengulang kembali pertanyaan “nyelekit” Bung Karno 86 tahun silam, benarkah banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam Sontoloyo?
Semoga kita bukan termasuk dari bagian Islam madzhab Sontoloyo itu. Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.





0 Tanggapan
Empty Comments