Udara sejuk Hall Hotel Permata Biru, Trawas, menjadi saksi lahirnya para da’i peradaban digital. Sebanyak 47 santri pilihan dari Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah Kota Surabaya mengikuti kegiatan Baitul Arqam Da’i Muda LKSA Muhammadiyah pada Sabtu-Ahad (14–15/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu menjadi momen penting dalam mencetak pendakwah kreatif dan inovatif di era Society 5.0. Pemaparan materi pamungkas digelar pada Ahad (15/2/2026) mulai pukul 07.30 WIB.
Sinergi Pimpinan dan Semangat Muda
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Surabaya. Kehadiran para pimpinan memberikan motivasi bagi peserta yang antusias menyerap materi dari muballigh kontemporer, Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I.
Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya itu tampil energik dengan narasi yang segar dan komunikatif. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa da’i masa kini tidak boleh seperti nakhoda tanpa kompas di Selat Madura—berlayar tanpa arah dan tujuan.
Dakwah: Air Murni dalam Kemasan Estetik
Imam Sapari, yang akrab disapa Gus Imsap, menekankan pentingnya pengemasan dakwah di era digital.
“Islam adalah air murni yang segar. Namun, jika wadahnya kotor atau pecah, orang tidak akan mau meminumnya. Apalagi jika kemasannya tidak menarik. Semakin menarik kemasan dan brand air minum, semakin banyak orang yang membelinya,” ujarnya, mengibaratkan pentingnya kreativitas visual dalam berdakwah.
Ia mengajak peserta memahami kandungan QS An-Nahl ayat 125 tentang dakwah bil hikmah, yang dalam konteks kekinian dapat dimaknai sebagai penguasaan strategi dan teknologi. Adapun mau’izhah hasanah diwujudkan melalui konten yang kreatif dan menyentuh.
Gus Imsap juga menyitir QS Ibrahim ayat 4 tentang pentingnya menggunakan “bahasa kaumnya”. Menurutnya, bahasa generasi saat ini adalah bahasa visual—meme yang santun, podcast, video pendek, serta aksi nyata yang relevan dengan kehidupan remaja digital.
Inovasi dari Panti untuk Dunia
Antusiasme peserta semakin terasa saat sesi diskusi mengenai dakwah bil maal. Contoh konkret seperti gerakan “Sedekah Sampah Digital” menunjukkan bahwa panti asuhan bukan sekadar tempat menerima bantuan, melainkan pusat keunggulan (center of excellence) yang mampu memberi manfaat luas melalui pemanfaatan teknologi.
Salah satu simulasi menarik memperlihatkan bagaimana santri yang kurang percaya diri berbicara di depan umum tetap dapat berdakwah secara masif melalui video pendek yang estetik tentang adab sehari-hari di panti.
Tiga Pilar Dai Muda Surabaya
Menutup sesi, Imam Sapari merangkum tiga pilar utama yang harus dimiliki kader Muhammadiyah Surabaya:
- Keren spiritualnya – Berakar kuat pada shalat dan mengaji.
- Cerdas strateginya – Kokoh dalam memilih media dakwah yang tepat.
- Kreatif aksinya – Mampu melahirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Acara ditutup dengan tantangan kepada peserta untuk memanfaatkan aplikasi di ponsel mereka, seperti TikTok, Instagram, atau WhatsApp, guna mengunggah satu konten yang dapat mengingatkan orang kepada Allah dalam waktu 24 jam.
“Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya pandai mengkritik,” pungkasnya. “Dunia membutuhkan anak muda yang mampu mengemas kebenaran dengan keindahan,” tutupnya.






0 Tanggapan
Empty Comments