Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fiqih Kepemimpinan Perempuan, Ini Pesan Sekretaris PDA Kota Malang di Diksuswati Nasional

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Sesi foto bersama peserta Diksuswati Nasional dengan Dra Ruly Narulita. (Ahmad Ashim/PWMU.CO)

PWMU.CO – Agenda Pendidikan Khusus Immawati (Diksuswati) Nasional Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Malang Raya kali ini menghadirkan Sekretaris Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang, Dra Ruly Narulita sebagai narasumber Kajian Fiqih Shubuh.

Dengan mengangkat tema Fiqih Kepemimpinan Perempuan, ia mengungkapkan bahwa ajaran Islam tidak pernah melarang perempuan untuk menjadi pemimpin.

Dalam kajian yang berlangsung di Hall Pusdiklat UMM tersebut, ia menerangkan bahwa untuk bisa menjadi pemimpin perlu dimulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu.

Kita tidak bisa memaknai pemimpin hanya sebatas Menteri, Walikota atau pejabat lainnya. Karena untuk menjadi pemimpin yang sukses membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan.

“Coba kita tengok tokoh-tokoh Aisyiyah. Ada Siti Walidah, Siti Hayyinah, Siti Bariyah, dan lain sebagainya. Atau yang sekarang ini ada Bu Salmah Orbaniyah dan Bu Noordjanah Djohantini. Para tokoh teras Aisyiyah tadi juga memiliki profesi. Tapi kenapa bisa memimpin organisasi Aisyiyah dengan baik? Kenapa bisa menjalankan banyak peran?,” ucapnya.

Menurutnya, salah satu faktor dibalik kesuksesan kepemimpinan perempuan adalah adanya izin dari suami dan keluarga. Jika suami tidak mengizinkan, maka perempuan akan kesulitan menjadi pemimpin di luar rumah. Sebab keluarga sebagai orang yang paling dekat untuk tidak mengizinkan atau mendukung perempuan untuk berkarir di luar rumah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Di Malang ada yang namanya Bu As. Beliau mantan Ketua KPU Kota Malang dan alumni IMM. Beliau sangat eksis di luar dan memiliki mobilitas tinggi. Saya sempat bertanya kok bisa seperti itu. Bu As menjawab ya karena diizinkan mas Joko (suami) dan anak-anak,” katanya.

Maka suami dan keluarga juga memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan ruang serta menguatkan perempuan untuk menjadi pemimpin di luar rumah. Sehingga tenaga, waktu, dan pikiran perempuan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita perlu membuang pandangan orang Jawa pada zaman dulu yang menganggap perempuan tidak perlu pendidikan tinggi-tinggi kalo pada akhirnya menjadi ibu rumah tangga. Perempuan memiliki hak untuk belajar. Memiliki hak untuk berkembang dan mengeluarkan potensinya. Jadi jangan takut,” pesannya kepada peserta Diksuswati.(*)

Penulis Ahmad Ashim Muttaqin Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu