Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fokal IMM UM Gelar Diskusi Kamisan Bahas Budaya K3 dan Kesiapsiagaan Bencana

Iklan Landscape Smamda
Fokal IMM UM Gelar Diskusi Kamisan Bahas Budaya K3 dan Kesiapsiagaan Bencana
Fokal IMM UM Diskusi Kamisan Bahas Budaya K3 dan Kesiapsiagaan Bencana. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Malang (Fokal IMM UM) kembali menunjukkan komitmennya terhadap isu kemanusiaan dan kebencanaan.

Dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Fokal IMM UM menggelar agenda rutin Diskusi Kamisan pada Kamis (9/10/2025) pukul 19.30 WIB melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini berlangsung interaktif dan inspiratif, diikuti oleh 35 peserta dari keluarga besar IMM UM serta tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kota Batu.

Diskusi dipandu oleh Asyhab Mubarok selaku moderator, dengan menghadirkan dua pemantik berkompeten: Ayunda Nadiya Istighfara yang membahas Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam kehidupan sehari-hari, dan Arief Nur Rahman yang menyoroti pentingnya mengenali potensi bencana melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Budaya K3 Seringkali Diremehkan

Dalam pemaparannya, Ayunda Nadiya Istighfara—yang akrab disapa Mbak Farah—menyoroti jurang antara pengetahuan dan praktik K3 di masyarakat.

Menurutnya, banyak orang yang memahami teori K3 namun belum mampu mengaplikasikannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

“Orang dengan pengetahuan K3 yang baik pun belum tentu menerapkannya dengan benar, karena sering kali kita meremehkan hal-hal kecil yang berpotensi menjadi bencana,” ujarnya.

Yunda Farah mengajak peserta untuk menanamkan nilai K3 sebagai budaya, bukan sekadar prosedur formal di tempat kerja. Menurutnya, budaya keselamatan harus dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Sementara itu, Kanda Arief Nur Rahman mengingatkan peserta akan posisi geografis Indonesia yang sangat rawan bencana.

“Indonesia ini bisa disebut laboratorium bencana. Semua jenis bencana sudah pernah terjadi di negara kita. Karena itu, mengajarkan anak mitigasi bencana sejak dini sangat penting,” tegasnya.

Ia menambahkan, melalui program SPAB, sekolah dan kampus diharapkan menjadi ruang pembelajaran kesiapsiagaan agar generasi muda memiliki kesadaran dan kemampuan tanggap bencana.

Belajar dari Kasus Pondok Ambruk di Sidoarjo

Diskusi berlanjut dengan pembahasan aktual terkait tragedi robohnya bangunan pondok di Sidoarjo yang menewaskan puluhan santri.

Para peserta aktif memberikan pandangan kritis tentang pentingnya pengawasan struktur bangunan, penegakan standar K3 konstruksi, dan tanggung jawab lembaga pendidikan dalam menjamin keselamatan santri.

Dari dialog ini muncul kesadaran kolektif bahwa kepatuhan terhadap budaya K3 dan mitigasi bencana bukan hanya urusan teknis, melainkan bentuk nyata dari ikhtiar menjaga keselamatan jiwa.

Diskusi Kamisan Fokal IMM UM malam itu ditutup dengan pesan reflektif: kesadaran terhadap risiko bencana tidak boleh hanya hadir saat musibah datang, tetapi perlu menjadi bagian dari budaya organisasi, pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu