Forum Gawagis Muhammadiyah kembali menunjukkan perannya sebagai ruang peneduh dialog keislaman. Bertepatan dengan momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Jumat (16/1/2026), Mustasyar Forum Gawagis Muhammadiyah Gus Aziz Musthofa Muhammad berhasil menjembatani silaturahmi dan dialog terbuka antara KH Ajir Ubaidillah (Gus Ajir) beserta tim dengan Herri Pras bersama para asatidznya.
Dialog yang sebelumnya sempat gagal terlaksana tersebut akhirnya berjalan lancar dan sukses digelar di Jakarta. Acara ini mengusung tema “Membedah Khurafat, Karomah, dan Tabaruk”, tema yang selama ini kerap memantik perdebatan di tengah umat Islam.
Gus Aziz Musthofa Muhammad menegaskan, Forum Gawagis Muhammadiyah hadir murni untuk menjembatani dialog secara objektif dan beradab, tanpa keberpihakan kepada salah satu pihak.
“Forum Gawagis Muhammadiyah hadir semata-mata untuk menjembatani silaturahmi dan dialog ilmiah. Kami tidak berpihak kepada siapa pun, baik kepada Gus Ajir maupun kepada Herri Pras. Yang kami jaga adalah adab berdialog dan kejujuran ilmiah,” ujar Gus Aziz.
Dia juga bersyukur karena dialog yang sebelumnya gagal tersebut akhirnya dapat terlaksana dengan suasana yang kondusif.
“Alhamdulillah, dialog ini bisa terlaksana dengan baik, terbuka, dan tanpa hambatan berarti. Semua pihak diberikan ruang yang sama untuk menyampaikan pandangan masing-masing,” tambahnya.
Sebelumnya, dialog antara Gus Ajir dan Herri Pras sempat direncanakan melalui sebuah kanal publik, namun batal terlaksana karena dinilai sepihak.
Masuknya Forum Gawagis Muhammadiyah sebagai mediator dinilai mampu mendudukkan kedua belah pihak secara setara, meskipun forum ini tidak memiliki afiliasi dengan tim Gus Ajir maupun tim Herri Pras.
Pendekatan silaturahmi dan netralitas inilah yang akhirnya membuat dialog dapat terlaksana tanpa gesekan berarti.
Menanggapi tuduhan keberpihakan yang dilontarkan oleh oknum tertentu, Gus Ibnu Yusuf bin Kholil, selaku Munasiq A’la atau pimpinan tertinggi Forum Gawagis Muhammadiyah, memberikan penegasan keras.
“Tuduhan keberpihakan yang dilemparkan oleh oknum tertentu itu hanya berdasar prasangka dan asumsi. Ketika diminta bukti, mereka tidak bisa menunjukkan satu pun bukti yang valid,” tegas Gus Ibnu Yusuf.
Dia menambahkan bahwa pihak-pihak yang menuduh juga enggan melakukan tabayun secara langsung.
“Kami sudah meminta agar dilakukan tabayun kepada pihak-pihak terkait, namun mereka hanya beralasan tanpa kejelasan. Bahkan ketika ditanya latar belakang terselenggaranya acara, jawabannya meleset jauh dari fakta,” ungkapnya.
Gus Ibnu Yusuf mengingatkan bahwa penyebaran tuduhan tanpa bukti melalui media sosial dapat berimplikasi hukum.
“Jika tuduhan keji seperti ini terus disebarkan tanpa bukti, maka secara hukum bisa masuk ke ranah pidana karena pencemaran nama baik,” imbuhnya.
Dialog tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Seluruh pihak sepakat bahwa cerita-cerita khurafat yang bersumber dari oknum tertentu tidak patut dijadikan teladan bagi umat Islam dan wajib diingkari.
“Cerita-cerita khurafat dari oknum tertentu tidak patut dijadikan contoh dan harus diingkari. Namun tidak boleh digeneralisasi bahwa semua habaib atau semua kisah adalah khurafat,” demikian salah satu kesimpulan forum.
Di sisi lain, para peserta dialog juga sepakat bahwa mengingkari karomah para wali dan orang saleh merupakan bentuk kejahilan terhadap khazanah keilmuan Islam.
“Mengingkari karomah adalah kejahilan. Adapun terkait tawasul dan tabaruk di kubur, perbedaan pendapat di antara para ulama adalah warisan keilmuan Islam yang harus dihargai,” disepakati bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ibnu Yusuf bin Kholil juga mengumumkan agenda besar Forum Gawagis Muhammadiyah dalam waktu dekat.
“Dalam waktu dekat, kami akan menggelar Kongres Forum Gawagis Muhammadiyah di Yogyakarta, ibu kota Muhammadiyah. Kongres ini akan dibuka oleh perwakilan Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa rangkaian acara akan dilanjutkan dengan kegiatan dakwah terbuka.
“Setelah acara formal, akan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar yang menghadirkan KH Ajir Ubaidillah dari NU dan Gus Sholahuddin Zuhri, tokoh Muhammadiyah Yogyakarta, pada 25 Januari 2026,” tandasnya.
Melalui dialog dan agenda-agenda tersebut, Forum Gawagis Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk merawat ukhuwah Islamiyah, menjaga adab perbedaan, serta memperkuat tradisi dialog ilmiah di tengah dinamika umat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments