Dari Abdullah bin Amr ra bahwa Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya pada setiap amalan ada masa-masa semangatnya dan pada setiap masa semangat ada masa-masa futurnya (malas). Maka barangsiapa yang futurnya tetap berada di atas sunahku, sungguh ia telah beruntung. Dan barangsiapa yang futurnya condong kepada selain sunahku, maka ia binasa.” (HR. Ahmad no. 6764)
Hadis ini begitu jujur menggambarkan jiwa manusia. Kita bukan malaikat. Iman kita naik turun. Ada hari ketika hati terasa ringan untuk bangun sebelum subuh, air wudu terasa sejuk, dan doa-doa mengalir tanpa terasa.
Tetapi ada pula hari ketika alarm subuh dimatikan berkali-kali. Mushaf Al-Qur’an yang biasanya terbuka setiap malam kini terdiam di rak. Lidah terasa berat berzikir. Itulah futur.
Futur Itu Manusiawi
Bayangkan seorang pedagang yang di awal Ramadan begitu semangat. Ia memperbanyak sedekah, rutin tarawih, bahkan menambah witir dan tahajud.
Namun selepas Ramadan, perlahan semangatnya meredup. Masjid mulai jarang ia kunjungi. Sedekah kembali hitung-hitungan.
Bukan karena ia benci ibadah, tetapi karena gelombang semangat itu memang memiliki pasang surut.
Atau seorang mahasiswa yang di awal hijrahnya rajin menghadiri kajian. Catatannya penuh, unggahannya tentang nasihat agama bertebaran. Namun beberapa bulan kemudian, ia mulai sibuk dengan dunia. Kajian terasa jauh. Hatinya tak lagi hangat seperti dulu.
Inilah realitas yang telah diingatkan Nabi. Yang berbahaya bukanlah datangnya futur, tetapi ke mana kita membawa futur itu.
Ketika Futur Datang, Ke Mana Kita Berlabuh?
Rasulullah tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak akan futur. Beliau justru memberi jalan: ketika futur datang, tetaplah berada di atas sunnah.
Di antara sunnah Nabi dalam menghadapi masa-masa lemah adalah memperbanyak doa. Beliau sering berdoa:
Allaahumma yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘ala diinik
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Betapa dalam doa ini. Hati kita bukan milik kita sepenuhnya. Ia bisa berbalik dalam sekejap. Hari ini khusyuk, esok lalai. Hari ini lembut, esok keras. Maka saat futur melanda, jangan andalkan kekuatan diri. Adukan pada Pemilik hati.
Bayangkan seseorang yang duduk sendiri di kamar setelah merasa jauh dari Allah. Ia tidak punya energi untuk shalat malam panjang.
Tetapi ia angkat tangan dan berbisik lirih, “Ya Allah, jangan Engkau palingkan hatiku.” Bisa jadi bisikan itu lebih berharga daripada panjangnya rakaat yang ia tinggalkan.
Dosa yang Tak Disadari
Kadang futur datang bukan sekadar karena lelah fisik, tetapi karena dosa yang menumpuk. Dosa itu seperti debu halus di cermin hati. Awalnya tipis, lama-lama menutup pantulan cahaya.
Karena itu, istighfar adalah obat utama. Nabi yang maksum saja beristighfar lebih dari tujuh puluh kali sehari. Apalagi kita.
Seorang ayah yang mudah marah kepada anaknya, seorang pegawai yang menunda pekerjaan, seorang penulis yang mulai kehilangan kejujuran dalam kata-katanya—semua itu bisa menjadi pintu futur jika tidak segera dibersihkan dengan taubat.
Istighfar bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran bahwa kita lemah. Bahwa tanpa ampunan Allah, kita akan tenggelam dalam kelalaian yang semakin dalam.
Menguatkan Diri dengan Dzikir
Ada kalimat ringan tetapi dahsyat: Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.
“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Ketika malas membaca Al-Qur’an, ucapkan itu. Ketika berat melangkah ke masjid, ucapkan itu. Ketika hati terasa kosong, ucapkan itu.
Kalimat ini mengakui bahwa kita memang tidak punya daya. Justru dari pengakuan itulah pertolongan Allah turun.
Bayangkan seseorang yang hendak menghadiri majelis ilmu, tetapi tubuhnya letih sepulang kerja. Ia hampir membatalkan niatnya.
Namun ia berzikir pelan, memohon kekuatan. Ia tetap melangkah. Bisa jadi langkah kecil itu menjadi sebab Allah membukakan kembali pintu semangatnya.
Hati yang futur seperti tanah kering. Ia butuh hujan. Salah satu hujan itu adalah majelis ilmu.
Dalam majelis ilmu, sakinah turun. Rahmat meliputi. Malaikat menghadiri dan mendoakan. Betapa banyak orang yang awalnya datang dengan hati gersang, lalu pulang dengan mata berkaca-kaca.
Seorang pemuda mungkin datang hanya karena ajakan teman. Ia duduk di pojok, awalnya tak terlalu peduli.
Tetapi satu ayat yang ditafsirkan, satu hadis yang dijelaskan, menembus pertahanannya. Hatinya bergetar. Futur yang ia rasakan perlahan mencair.
Karena itu, jangan remehkan duduk satu jam di majelis ilmu. Bisa jadi itu titik balik.
Lingkungan yang Menentukan Arah
Betapa banyak orang terseret dalam kesalahpahaman dan kelalaian bukan karena niatnya buruk, tetapi karena salah pergaulan.
Jika teman-temannya gemar menunda shalat, ia pun terbawa. Jika lingkungannya meremehkan dosa, ia pun mulai terbiasa.
Sebaliknya, bergaul dengan orang saleh ibarat berada di taman bunga—kita ikut wangi meski tidak membawa bunga.
Carilah sahabat yang ketika melihat kita mulai malas, ia mengingatkan dengan lembut. Yang ketika kita jatuh, ia menarik tangan, bukan mendorong lebih jauh.
Mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an adalah penguat paling utama. Bukan sekadar membaca, tetapi merenungi maknanya. Mengaitkannya dengan hidup kita.
Ketika membaca tentang sabarnya para nabi, kita malu pada keluhan kita yang kecil. Ketika membaca janji surga, kita kembali bersemangat. Ketika membaca ancaman neraka, kita tersentak.
Membaca sirah para ulama dan orang saleh juga memberi energi baru. Mereka bukan manusia tanpa ujian. Mereka juga pernah lemah, pernah jatuh, tetapi bangkit lagi dan lagi.
Kisah-kisah itu seperti cermin. Kita melihat diri kita di sana—dan belajar bahwa futur bukan akhir perjalanan.
Futur Bukan Titik Akhir
Futur bukan tanda kegagalan. Ia adalah fase. Yang menentukan adalah respon kita.
Apakah kita menjadikannya alasan untuk menjauh? Ataukah menjadikannya momen untuk kembali?
Iman itu seperti api. Kadang menyala besar, kadang meredup. Tugas kita bukan menyesali redupnya, tetapi terus meniupnya dengan doa, istighfar, dzikir, ilmu, dan pergaulan yang baik.
Selama futur kita tetap berada di atas sunnah Nabi—tidak meninggalkan kewajiban, tidak terjerumus dalam maksiat—maka kita berada di jalur keselamatan.
Dan setiap kali hati terasa berat, ingatlah: yang membolak-balikkan hati adalah Allah. Mintalah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.
Karena satu sentuhan hidayah dari-Nya mampu mengubah kering menjadi subur, malas menjadi semangat, dan futur menjadi jalan pulang yang lebih dewasa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments