Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gagal Puasa Sebelum Magrib: Menjual Akhlak demi Konten dan Nongkrong Malam

Iklan Landscape Smamda
Gagal Puasa Sebelum Magrib: Menjual Akhlak demi Konten dan Nongkrong Malam
Imam Sapari. Foto: Chat-GPT/PWMU.CO
Oleh : Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I Ketua Majelis Tabligh PDM dan Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya
pwmu.co -

Ramadan semestinya menjadi madrasah ruhani, tempat jiwa ditempa dan akhlak diperhalus. Namun realitas yang kita saksikan hari ini menghadirkan ironi. Di satu sisi, sebagian remaja muslim mampu menahan lapar dan haus sejak fajar hingga magrib. Di sisi lain, adab dan etika justru dibiarkan longgar. Raga berpuasa, tetapi jempol tetap “berpesta” dalam ruang digital tanpa kendali.

Fenomena ini layak disebut sebagai “puasa semu” — ketika fisik menahan diri, namun lisan dan jemari tetap melukai.

Tragedi di Balik Layar: Dosa Jariyah Era AI

Dunia maya kini menjelma menjadi jurang digital bagi sebagian generasi muda. Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya menjadi sarana produktif, justru disalahgunakan untuk membuat konten manipulatif, deepfake, hingga unggahan yang menjatuhkan martabat orang lain.

Belum lagi budaya perundungan siber (cyber-bullying) dan konsumsi konten vulgar yang merusak kesucian mata dan hati. Semua itu dilakukan sambil tetap mengaku sedang berpuasa.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar.” (HR. Ibnu Majah No. 1680).

Jempol yang sibuk menebar fitnah digital adalah tanda gagalnya puasa lisan. Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18).

Di era digital, “ucapan” bukan hanya suara, tetapi juga tulisan, komentar, unggahan, dan konten yang disebarkan.

Euforia Semu: Antara Angkringan dan Saf yang Kosong

Di ruang nyata, Ramadan sering kali bergeser menjadi sekadar festival sosial. Fenomena nongkrong hingga larut malam, meninggalkan salat Tarawih, bahkan diwarnai aksi perang sarung dan balap liar, menunjukkan bergesernya orientasi ibadah menjadi sekadar tradisi musiman.

Acara buka bersama yang semestinya mempererat silaturahim, tidak jarang berubah menjadi ajang ghibah, PDKT berlebihan, nostalgia yang melampaui batas (CLBK), bahkan berujung pada perilaku menyimpang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi No. 2317).

Meninggalkan yang bermanfaat demi kesia-siaan adalah bentuk kerugian yang nyata, terlebih di bulan yang penuh keberkahan.

Bahaya Laten Jika Dibiarkan

Jika fenomena ini terus berlangsung, kita bukan hanya kehilangan pahala puasa. Kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi.

Pertama, normalisasi dosa. Remaja bisa menganggap maksiat digital sebagai sesuatu yang wajar, selama masih berpuasa secara fisik. Ini berbahaya, karena melahirkan generasi yang terbelah secara spiritual.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua, degradasi mental dan empati. Fitnah berbasis AI dan perundungan siber mematikan rasa kasih sayang. Masyarakat tumbuh menjadi pribadi yang mudah menghakimi, sulit memverifikasi, dan gemar berkonflik.

Ketiga, hilangnya keberkahan generasi. Ramadan adalah momentum perubahan. Jika momentum ini gagal dimanfaatkan, kita akan memiliki generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi miskin nilai ketuhanan.

Sinergi Menyelamatkan Generasi

Memperbaiki kondisi ini tidak cukup dengan saling menyalahkan. Dibutuhkan kerja kolektif.

Pertama, orang tua sebagai benteng utama.

Tanamkan prinsip muraqabah — merasa selalu diawasi Allah. Ingatkan anak-anak bahwa Allah mengetahui apa yang mereka lihat dan unggah di tengah kesunyian malam. Jadilah teladan, termasuk tidak ikut menyebar hoaks di grup percakapan.

Kedua, guru dan sekolah sebagai pusat literasi.

Sekolah perlu menghadirkan edukasi fikih digital. Ajarkan bahwa pelanggaran di dunia maya bukan hanya berdampak hukum positif, tetapi juga berdampak ukhrawi. Dosa digital dapat menjadi dosa jariyah yang terus mengalir.

Ketiga, ustadz dan tokoh agama dengan pendekatan rangkulan.

Dakwah tidak cukup di mimbar. Ia harus hadir di ruang-ruang yang digandrungi generasi Z. Masuk ke platform digital dengan bahasa yang membumi, tanpa kehilangan substansi dan adab.

Keempat, pemerintah sebagai regulator.

Pengawasan terhadap konten provokatif dan vulgar perlu diperkuat, diiringi dengan penyediaan ruang publik kreatif bagi anak muda agar mereka memiliki alternatif positif untuk berekspresi.

Penutup

Kita tidak sedang berperang melawan teknologi. Kita sedang berjuang melawan kelalaian hati. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi ritual perpindahan jam makan, sementara akhlak justru tertinggal di belakang.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Mari jadikan sisa Ramadan ini sebagai momentum detoks adab dan tobat digital. Sebelum terlambat. Sebelum puasa kita benar-benar kehilangan makna di hadapan Sang Pencipta.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu