Kegiatan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) dilaksanakan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 36 PPI Kabupaten Gresik pada Kamis (14/8/2025, sebagai bagian dari program kerja Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang bekerja sama dengan Puskesmas Sukomulyo. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap enam bulan sekali untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
Seluruh siswa TK B ABA 36 PPI mengikuti kegiatan DDTK ini. Sebelumnya, petugas kesehatan dari Puskesmas Sukomulyo telah membagikan kuesioner berisi data siswa dan formulir skrining kesehatan. Sebanyak empat orang petugas kemudian melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap siswa.
Penanggung Jawab Program Tumbuh Kembang Anak Puskesmas Sukomulyo, Heny Rahmawati Amd Keb menyampaikan bahwa kegiatan kali ini tidak hanya mencakup DDTK, tetapi juga pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi anak usia balita, KB, dan TK. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
1. Skrining pertumbuhan anak untuk mengetahui status gizi, apakah termasuk gizi lebih, gizi kurang, atau pendek (stunting). Jika status gizinya kurang baik, akan dilakukan rujukan ke puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan dan konsultasi gizi.
2. Skrining perkembangan menggunakan Hasil Kuesioner Skrining Pra Pemeriksaan Perkembangan (KPSP) dan meta emosional studi. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi dini apakah anak mengalami kemunduran perkembangan, gangguan emosi, atau hiperaktivitas. Jika ditemukan masalah dan orang tua sudah melakukan penanganan, silakan dilanjutkan. Jika belum, akan dirujuk ke puskesmas.
3. Skrining Tuberkulosis (TBC) melalui pengukuran status gizi dan tinggi badan anak. Jika gizi dan tinggi badan kurang, dilakukan skrining TBC dan rujukan ke puskesmas.
4. Skrining kesehatan gigi untuk memeriksa apakah terdapat karies atau tidak. Jika ditemukan banyak karies, akan ada penyuluhan lanjutan dari puskesmas mengenai kesehatan gigi.
5. Skrining anemia, yang pada pemeriksaan kali ini sebagian besar hasilnya tidak memerlukan tindak lanjut ke puskesmas.
Dalam sesi interaksi, salah satu siswa, Kenzo memberikan jawaban yang mengundang tawa.
Saat ditanya petugas apa yang dilakukan ketika lapar, ia menjawab “makan”. Begitu pula saat ditanya apa yang dilakukan ketika kedinginan, Kenzo menjawab “selimut”. Namun, jawaban berbeda muncul ketika petugas menanyakan apa yang dilakukan saat mengantuk, dengan polosnya Kenzo menjawab, “main game”.
Adapun celetukan lucu datang dari salah satu siswa yang merasa takut disuntik.
“Ustadzah, aku tidak mau disuntik,” ujar salah satu siswa, Robih.
Dari hasil skrining, terdapat satu siswa yang memerlukan tindakan lanjutan dan dirujuk ke puskesmas.
“Sebenarnya ada dua siswa yang memerlukan rujukan terapi, tetapi salah satunya sudah menjalani terapi mandiri oleh orang tuanya di rumah sakit, sehingga tidak perlu dirujuk lagi. Sedangkan satu siswa lainnya, orang tuanya belum mengetahui bahwa anaknya memiliki gangguan konsentrasi dan motorik halus, sehingga perlu dilakukan rujukan. Yang sudah mendapatkan tindakan, tidak kita rujuk,” jelas Heny.
Sementara itu, Koordinator UKS, Ririn berharap Kerja sama antara sekolah dan Puskesmas Sukomulyo bisa terus berlanjut.
“Kerja sama antara sekolah dan Puskesmas Sukomulyo diharapkan dapat terus berjalan, sehingga kita bisa mendampingi para siswa dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Melalui kegiatan ini, sekolah juga dapat memberikan informasi mengenai perkembangan anak kepada para orang tua,” harapnya. (*)





