Warga Muhammadiyah Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, menggelar Salat Tarawih perdana pada Selasa (17/2/2025), di Musala Al-Khairat, yang terletak di Jalan Kaliurang, Kecamatan Lowokwaru dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah.
Para jamaah tampak memadati area musala untuk menunaikan Salat Isya dan Tarawih secara berjemaah, sekaligus menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Salat tarawih dipimpin oleh Ustaz Salman yang juga menyampaikan kultum setelah pelaksanaan salat. Suasana ibadah berlangsung khusyuk sekaligus hangat. Para jamaah tampak antusias dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
Dalam kultumnya, Ustaz Salman mengangkat tema “Mantapkan Bekal dalam Menyambut Ramadan.” Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjalani Ramadan tidak hanya ditentukan oleh semangat di awal, tetapi juga oleh kesiapan hati serta arah ibadah yang jelas.
Bekal pertama, kata Ustaz Salman, adalah menyucikan hati dengan tobat serta muhasabah diri. Ia mengutip firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 8, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.”
Ustaz Salman menjelaskan bahwa tobat yang benar ialah meninggalkan dosa, menyesalinya, serta bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya bermuhasabah atau melakukan introspeksi diri sebelum memasuki bulan Ramadan.
“Ramadan yang sukses dimulai dari keberanian untuk menilai diri sendiri dan bertekad menjadi lebih baik. Jika merasa pernah berbuat salah kepada seseorang, segeralah meminta maaf. Apabila merasa memiliki dosa yang pernah dilakukan, segeralah bertobat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sejatinya seorang muslim adalah pribadi yang senantiasa mengasihi diri sendiri dengan cara terus memperbaikinya agar terhindar dari perbuatan sia-sia.
Bekal kedua ialah belajar dan memahami ilmu tentang Ramadan serta puasa. Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah yang memiliki rukun, syarat, sunah, adab, serta hal-hal yang dapat membatalkannya dan semuanya harus dipahami dengan baik.
“Ibadah harus dibangun di atas ilmu yang benar, bukan sekadar kebiasaan. Sebab, para ulama menegaskan sebuah kaidah agung: ilmu didahulukan sebelum berkata dan beramal,” imbuhnya.
Bekal ketiga adalah membuat target amal dan program ibadah. Ia mengingatkan jamaah agar menjalani Ramadan dengan perencanaan yang matang, sehingga ibadah dapat dilakukan secara konsisten sekaligus terjaga keikhlasannya.
“Puasa di bulan Ramadan bukan sekadar rutinitas yang diperingati setiap tahun, melainkan perjalanan iman yang harus memiliki tujuan agar mampu memberikan dampak, baik bagi diri sendiri maupun kehidupan sosial,” tuturnya.
Kegiatan tarawih perdana tersebut menjadi penanda kuat bahwa semangat Ramadan 1447 H di Musala Al-Khairat telah tumbuh sejak malam pertama. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments