Pelaksanaan kuliah tujuh menit (kultum) pada Senin (9/3/2026) di Masjid Al-Falah PRM Jalen, Genteng, Banyuwangi menghadirkan penceramah dari kalangan generasi muda. Kultum tersebut dibawakan oleh siswa kelas X SMA Muhammadiyah Genteng, Reyhan Iftitan Ramadhanu, yang mengangkat tema “Shalat dan Pekerjaan”.
Dalam penyampaian materinya, Reyhan menjelaskan bahwa tema kultum salat tarawih selama Ramadan telah ditentukan oleh Majelis Tabligh PCM Genteng bersama masjid dan musala se-Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng. Karena itu, pada kesempatan tersebut ia menyampaikan materi amanah dari PCM Genteng mengenai hubungan antara ibadah salat dan aktivitas pekerjaan dalam kehidupan seorang Muslim.
Keseimbangan Kebutuhan Dunia dan Akhirat
Mengawali penjelasannya, Reyhan menyampaikan bahwa dalam ajaran Islam, baik salat maupun pekerjaan sama-sama termasuk dalam bentuk amalan. Salat merupakan amalan shalihah yang menjadi bentuk komunikasi langsung antara manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai Sang Pencipta.
Menurutnya, melalui salat manusia menunjukkan penghambaan, rasa syukur, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat. Sementara itu, pekerjaan yang berkaitan dengan urusan dunia juga memiliki dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi dunia dan dimensi akhirat.
Ia menjelaskan bahwa apabila seseorang bekerja hanya berorientasi pada kepentingan dunia semata, maka tujuan utamanya hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan kepuasan diri. Namun apabila pekerjaan dilakukan dengan niat ibadah dan orientasi akhirat, maka seseorang akan memperoleh dua keuntungan sekaligus, yakni manfaat dunia dan pahala akhirat.
“Jika bekerja memiliki tujuan akhirat, maka seseorang akan mendapatkan keduanya. Itulah yang disebut sebagai ibadah,” jelas Reyhan.
Dua Bentuk Ibadah dalam Islam
Lebih lanjut, Reyhan memaparkan bahwa dalam ajaran Islam terdapat dua jenis ibadah yang dikenal secara umum. Pertama adalah ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang berkaitan langsung dengan hubungan manusia kepada Allah SWT.
Contohnya adalah kewajiban salat lima waktu dan puasa Ramadan yang merupakan bentuk penghambaan langsung kepada Sang Khalik.
Sedangkan jenis ibadah kedua adalah ibadah ghairu mahdhah atau ibadah muamalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, seperti bekerja, melakukan aktivitas ekonomi, serta menjalin hubungan sosial dengan sesama manusia.
Islam Mengajarkan Keseimbangan Hidup
Reyhan menekankan bahwa dalam Islam kehidupan dunia dan akhirat harus berjalan secara seimbang. Setiap manusia diharapkan mampu mengupayakan keseimbangan tersebut agar dapat meraih kebahagiaan dan kesuksesan hidup.
Hal tersebut, menurutnya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashas ayat 77 yang berbunyi: “Wabtaghi fiimaaa ‘atakallahud darul akhirah (dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat), walaa tansa nashibaka minad dunya (dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia).”
Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia dianjurkan untuk mengejar kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kebutuhan hidup di dunia.
Menurut Reyhan, Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya sekaligus memberikan berbagai kenikmatan di dunia sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.
Karena itu, manusia perlu mensyukuri nikmat tersebut dengan memanfaatkan segala potensi kebaikan yang dimiliki sehingga setiap aktivitas yang dilakukan dapat bernilai ibadah.
“Dengan begitu, antara salat dan pekerjaan akan selalu berjalan beriringan dalam rangka meraih ridha Allah SWT,” pungkas Reyhan menutup kultumnya.






0 Tanggapan
Empty Comments