Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Guru Besar bidang Sejarah Intelektual Islam Klasik Uinsa Memaparkan Bekal Ibadah Ramadan dalam Pengajian Ahad Pagi PDM Gresik

Iklan Landscape Smamda
Guru Besar bidang Sejarah Intelektual Islam Klasik Uinsa Memaparkan Bekal Ibadah Ramadan dalam Pengajian Ahad Pagi PDM Gresik
Pengajian Ahad Pagi Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik Ahad (1/2/2026) menghadirkan Prof Dr H Achmad Zuhdi DH M.FilI. sebagai penceramah. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik menggelar Pengajian Ahad Pagi pada Ahad (1/2/2026) dengan menghadirkan Prof. Dr. H. Achmad Zuhdi DH, M.Fil.I. Tema kajian awal bulan ini adalah “Tarhib Ramadan: Meraih Taqwa dengan Menjalani Seluruh Ibadah Sesuai Sunnah.”

Dalam pemaparannya, Guru Besar Sejarah Intelektual Islam Klasik UIN Sunan Ampel Surabaya itu menyampaikan bahwa awal Ramadan 1447 H berpotensi berbeda antarumat Islam. Menurutnya, belum adanya kalender Islam global menjadi salah satu penyebab ketidaksamaan penentuan 1 Ramadan.

“Belum adanya kalender Islam secara global menjadikan perbedaan dalam mengawali Ramadan,” ujarnya.

Prof. Zuhdi yang dikukuhkan sebagai Guru Besar UINSA pada Sidang Terbuka Senat Akademik (30/4/2025) itu menjelaskan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini berlandaskan metode hisab hakiki dengan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagaimana tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.

“KHGT merupakan upaya mewujudkan keseragaman hari dan tanggal dalam penanggalan Islam secara global,” jelasnya.

Sistem ini dibangun atas prinsip kesatuan matla’ global—bumi dipandang sebagai satu kesatuan tanpa pembagian zona regional—sehingga memungkinkan tercapainya prinsip one day, one date globally. Hal ini berbeda dengan pembagian zona waktu yang sering menyebabkan perbedaan tanggal antarwilayah.

Amalan-Amalan Ramadhan Sesuai Sunnah

Memasuki bagian kajian inti, Prof. Zuhdi menyampaikan amalan-amalan penting yang dianjurkan Rasulullah Saw selama Ramadan.

Pertama, umat Islam dianjurkan meneguhkan niat puasa karena Allah semata. Niat dapat dilakukan setiap malam, saat sahur, atau sekaligus di awal Ramadan. “Yang penting, niat itu menghadirkan ketulusan,” tegas Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Timur tersebut.

Kedua, puasa harus dijalani dengan menjaga kondisi lahir dan batin. Ia mengingatkan bahwa puasa tidak boleh sekadar mengubah jadwal makan-minum, namun harus berdampak pada pengendalian diri. Jika dijalani dengan penuh kesadaran, puasa melahirkan kejujuran yang melekat baik di rumah maupun di luar pandangan orang lain.

Ketiga, umat disunnahkan menyegerakan berbuka dengan air atau kurma. Setelahnya dianjurkan membaca doa berbuka yang diriwayatkan Abu Dawud:

“Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insyaAllah.”
(Hilanglah rasa haus, urat-urat telah basah, dan insyaAllah pahala ditetapkan).

Keempat, kaum muslimin dianjurkan menunaikan salat tarawih dan menghidupkan malam dengan qiyamul lail. Guru Besar ke-103 UINSA itu mengajak masyarakat memakmurkan masjid.

“Jadikan Qiyamul Lail sebagai jalan meraih kemuliaan lahir dan batin,” pesannya.

Menurutnya, orang yang terbiasa qiyamul lail akan menjauhi makanan haram dan tetap jujur meski dalam kondisi yang memberi peluang untuk menyimpang. Ia juga menjelaskan ragam format salat malam seperti 4+4+3 atau 2+2+2+2+2+1 sesuai riwayat Bukhari dari Aisyah RA.

Kelima, Prof. Zuhdi menekankan pentingnya mempelajari Al-Qur’an secara mendalam, bukan sekadar membaca. Al-Qur’an harus menjadi petunjuk dalam menentukan mana yang halal-haram, baik-buruk, dan pantas-tidak pantas. Pemahaman yang baik akan mendorong seseorang mengamalkan nilai-nilai kebenaran dan menghindari keburukan meski hal itu terlihat menyenangkan sesaat.

Keenam, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai bulan beramal dan bersedekah. Nabi menegaskan bahwa sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan.

Selain itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mendekatkan diri kepada Allah, dan melakukan iktikaf terutama pada sepuluh hari terakhir. Ia mengutip hadis Muttafaq ‘Alaih:

“Rasulullah saw selalu beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.”

Kajian Tarhib Ramadan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya ritual tahunan, tetapi momentum penyucian diri dan peningkatan kualitas spiritual melalui sunnah-sunnah Nabi. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu