Fenomena penundaan pernikahan di kalangan generasi muda semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir.
Jika dulu menikah di usia muda dianggap sebagai fase wajar menuju kedewasaan, kini banyak anak muda memilih menunggu—bukan karena menolak pernikahan, melainkan karena ingin memastikan kesiapan mental, finansial, dan emosional benar-benar matang sebelum melangkah ke komitmen seumur hidup.
Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Halim Purnomo, M.Pd.I, menjelaskan, penundaan pernikahan tidak terjadi tanpa sebab.
Dia menegaskan bahwa pernikahan merupakan ibadah jangka panjang yang membutuhkan kesiapan komprehensif, bukan sekadar dorongan emosional sesaat.
“Pernikahan bukan perjalanan satu atau dua hari, melainkan perjalanan hidup. Karena itu diperlukan persiapan matang, bagaimana menyatukan dua pribadi dan dua keluarga yang berbeda agar dapat berjalan bersama serta meminimalkan risiko dalam rumah tangga,” jelas Halim seperti dilansir di laman resmi UMY.
Menurutnya, salah satu faktor utama penundaan pernikahan adalah kesiapan personal. Generasi muda saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk mengakhiri masa lajang.
“Pertimbangan finansial, kemantapan karier, serta kesiapan mental menjadi variabel dominan dalam proses pengambilan keputusan tersebut,” jelasnya.
Halim menerangkan, selain aspek ekonomi dan karier, faktor psikologis juga berpengaruh signifikan generasi muda tunda nikah. Munculnya kekhawatiran terhadap komitmen dan kepercayaan antar pasangan menjadi salah satu penyebab yang kerap tidak disadari.
“Pengalaman masa lalu dalam keluarga, seperti perceraian orang tua, dapat membentuk sikap yang lebih hati-hati terhadap pernikahan,” kata Halim.
Selain itu, imbuh Halim, Ada yang merasa takut terhadap komitmen atau dalam istilah psikologi disebut gamophobia.
“Ada pula yang menyaksikan perceraian orang tuanya sehingga muncul kekhawatiran akan mengulang pengalaman yang sama. Ketika rasa tidak percaya itu muncul, seseorang cenderung menunda pernikahan karena ingin benar-benar yakin bahwa pilihannya tepat,” terangnya.
Halim juga menyoroti adanya pergeseran paradigma dalam peran gender di kalangan generasi muda. Perempuan kini semakin rasional dan realistis dalam merencanakan masa depan, termasuk memilih memantapkan karier terlebih dahulu sebelum menikah.
Di sisi lain, laki-laki juga menghadapi tekanan sosial untuk memiliki stabilitas ekonomi sebagai pencari nafkah utama.
Penundaan tersebut, lanjutnya, sering kali dimaksudkan untuk meminimalkan potensi masalah setelah menikah.
Generasi muda ingin memastikan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, hingga pendidikan anak di masa depan dapat terpenuhi dengan baik. Namun, Halim mengingatkan bahwa kesiapan tidak selalu identik dengan kondisi yang sempurna.
Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi kesiapan menikah yang tidak bersifat memaksa, melainkan membekali generasi muda dengan pemahaman utuh mengenai makna dan tanggung jawab pernikahan.
“Generasi muda perlu banyak berkonsultasi dengan orang yang lebih berpengalaman. Belajar tidak hanya dari bangku kuliah, tetapi juga dari pengalaman orang lain. Dengan berdiskusi dan memperoleh perspektif yang lebih luas, seseorang akan lebih mantap dalam mengambil keputusan. Menikah adalah ibadah sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak, sehingga keputusan itu harus diambil dengan kesiapan, bukan dengan ketakutan,” tegas Halim. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments