
PWMU.CO – Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran strategis dan menjadi ujung tombak keberhasilan siswa di sekolah. Ketika seorang guru BK pindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain, sering kali sulit dikabulkan oleh Dinas Pendidikan (Disdik), karena tidak ada pengganti yang tersedia.
Jumlah guru BK sangat terbatas, sementara siswa yang ditangani sangat banyak. Oleh karena itu, peran guru BK di SMA sangat strategis dan diharapkan dapat diberikan kepada semua siswa di sekolah.
“Karena semua harapan, permasalahan, dan solusi ada di tangan guru BK. Semoga apa yang diharapkan oleh siswa dapat tersampaikan dengan baik,” ujar Kabid Pembinaan GTK Disdik Jatim, Dra Ety Prawesty MSi, dalam acara Peningkatan Kompetensi Guru BK jenjang SMA tahap 1 di Hotel Pelangi, Malang, Senin (7/10/2024).
Menurut Ety, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya (generasi milenial), menghadapi anak-anak saat ini tidak terlalu sulit karena masalah yang dihadapi hampir sama. Namun, melayani anak-anak generasi Z (Gen Z) berbeda.
Gen Z memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan apa yang ada dalam pikiran mereka harus sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini membuat guru BK harus memahami apa yang diinginkan oleh anak-anak Gen Z. Anak-anak Gen Z memiliki pengetahuan dan kecerdasan yang lebih komprehensif.
“Oleh karena itu, guru BK harus selangkah lebih maju dan lebih tahu, karena anak-anak sudah bisa mengakses informasi yang mereka butuhkan melalui Google dan AI,” jelas PNS senior Disdik Jatim tersebut.
Lebih lanjut, Ety menyampaikan bahwa setiap kali dirinya berkunjung ke SMA, hal pertama yang dilihat adalah kebersihan toilet, dan yang kedua adalah ruang BK. Ia masih sering menemukan ruang BK yang hanya diisi dengan tumpukan berkas.
“Bagaimana anak-anak bisa curhat dan menyampaikan keinginannya jika ruang BK tidak tertata dengan baik?” katanya.
Diakuinya, setahun yang lalu ia pernah mengajukan proposal anggaran untuk pembenahan ruang BK kepada Kepala Dinas, namun karena situasi pandemi COVID-19, rencana tersebut dibatalkan.
Sebagai pejabat yang membidangi pembinaan guru, Ety mengakui prihatin dengan terbatasnya jumlah guru BK di SMA Negeri maupun Swasta di Jawa Timur, serta fasilitas ruang BK di sekolah yang belum representatif dan sesuai standar pelayanan.
Hal ini, menurut Ety, akan menjadi bahan evaluasi dan pekerjaan rumah (PR) bagi Disdik Jatim.
“Melalui pertemuan ini, kami mengharapkan ada masukan, saran, dan sharing terkait pelayanan BK di sekolah masing-masing,” tambahnya.
Permasalahan yang menjadi rahasia umum hingga saat ini adalah ketidakseimbangan jumlah siswa dengan keberadaan guru BK di sekolah, terutama di SMA Negeri.
Misalnya, di sebuah SMA dengan jumlah siswa lebih dari 1.200 orang, hanya terdapat 3-4 orang guru BK, padahal standar aturan menyebutkan bahwa satu guru BK harus menangani 150-200 siswa.
“Seharusnya sekolah tersebut memiliki 6-8 orang guru BK,” sebut Ety.
Jika masalah ini tidak segera diatasi, maka akan berdampak pada kurang optimalnya layanan BK kepada siswa. Akibatnya, beberapa permasalahan siswa, seperti kenakalan remaja, mungkin tidak tertangani dengan baik.
“Kita semua tentu prihatin dengan kondisi ini. Semoga melalui kegiatan ini, masalah tersebut dapat segera terselesaikan,” harapnya.
Ety juga berjanji akan berkoordinasi dengan perguruan tinggi di Jawa Timur untuk membahas minimnya lulusan BK yang dihasilkan.
“Apakah karena kurangnya sosialisasi dari pihak kampus, sehingga minat lulusan SMA untuk mengambil jurusan BK rendah? Ini akan kami diskusikan,” ungkap Ety.
Ety juga berharap agar kepala sekolah menyiapkan ruang BK yang representatif. Banyak siswa saat ini mengalami berbagai permasalahan, dan guru-guru sering kali sudah pusing dengan urusan pribadi mereka sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan pikiran yang terbuka, segar, dan jernih untuk menghadapi siswa-siswa yang juga menghadapi permasalahan.
Siswa mengharapkan guru yang ramah dan bisa mengalir dalam percakapan, agar mereka merasa nyaman dan terbuka untuk curhat. Jika tidak, mereka akan mencari tempat curhat di media sosial, yang bisa menambah kegelisahan dan sangat berbahaya.
“Peran guru BK sangat penting dan harus mampu menyelesaikan permasalahan yang ada di sekolah,” tutup Ety. (*)
Penulis Zulkifli Editor Wildan Nanda Rahmatullah





0 Tanggapan
Empty Comments