
PWMU.CO – Program Studi (Prodi) Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo) menggelar kegiatan Open House dan kuliah umum secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (29/5/2025).
Mengusung tema Peran Artificial Intelligence (AI) dalam Deep Learning di Era Transformasi Digital, acara ini diikuti oleh mahasiswa aktif serta calon mahasiswa Program Magister Pedagogi.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu Rofiq Ali Muhsin MT Ketua Guru Penggerak Jawa Timur, serta Aris Dianto SKom mahasiswa Magister Pedagogi Umpo angkatan 2024 yang juga menjabat sebagai Kepala SMK Maharati Kalimantan Tengah.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Pedagogi Umpo, Dr Bambang Hermanto MPd menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan kualitas guru di era digital yang terus berkembang pesat.
“Sebagai guru, kita dituntut untuk adaptif terhadap perubahan zaman. Salah satu upaya kami untuk menjawab tantangan ini adalah melalui penyelenggaraan kuliah umum seperti hari ini,” ujarnya.
Sebagai pemateri pertama, Rofiq Ali Muhsin mengungkapkan keprihatinannya terhadap kualitas pengajaran di Indonesia.
“Meskipun kurikulum telah berkali-kali diperbarui, sebanyak 85% guru di Indonesia masih menggunakan metode ceramah satu arah. Bahkan, data dari 2015–2021 menunjukkan 81% guru tidak mencapai nilai minimum dalam Uji Kompetensi Guru (UKG),” paparnya.
Rofiq menekankan pentingnya melanjutkan pendidikan pascasarjana di bidang pedagogi untuk meningkatkan kompetensi. Menurutnya, pendidikan lanjutan ini membekali guru dengan kemampuan untuk mentransformasi metode mengajar, mengadopsi pedagogi baru, serta mengintegrasikan literasi emosional dalam kurikulum.
“Guru juga perlu mampu merancang pembelajaran berbasis teks kompleks, meningkatkan kemampuan bernalar kritis siswa, serta menjadi motor dalam komunitas pendidikan untuk berbagi inovasi dan metodologi terkini,” tambahnya.
Sementara itu, Aris Dianto dalam sesi kedua menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah pengguna AI.
“Guru tidak bisa menutup mata, kita harus berkolaborasi dengan AI sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. AI memungkinkan pembelajaran menjadi lebih variatif, inovatif, dan menarik,” jelas Aris.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital bagi guru, termasuk kecakapan dalam produksi dan diseminasi materi digital, serta pemahaman terhadap etika dan keamanan digital.
“Dengan menguasai AI, guru bisa mengembangkan berbagai media pembelajaran digital seperti materi interaktif, game edukatif, dan lainnya,” pungkasnya.
Acara kuliah umum ini diharapkan mampu membuka wawasan dan memotivasi para pendidik untuk terus mengembangkan diri, khususnya dalam menghadapi tantangan pendidikan di era transformasi digital.
Penulis Miftahul Rahman Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments