Ada satu kebiasaan buruk di tengah masyarakat kita yang perlu segera diubah, yaitu menganggap guru ngaji yang mengajar secara sukarela tidak perlu dihargai.
Padahal, mereka bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mewarisi peran para nabi. Mereka mendidik umat agar mengenal Allah dan memahami agama dengan benar.
Para guru ngaji, khususnya yang mengajarkan di masjid dan musholla, adalah sosok-sosok luar biasa. Mereka membeli kitab sendiri, belajar dengan tekun, lalu membagikan ilmunya kepada jamaah tanpa berharap imbalan.
Kadang jamaahnya hanya segelintir, 3 sampai 11 orang saja. Tidak jarang pula mereka menghadapi jamaah yang mengantuk, sibuk dengan ponsel, bahkan berbicara sendiri saat pengajian berlangsung.
Namun, semangat guru ngaji tidak padam. Mereka tetap hadir, tetap membuka kitab, tetap membaca, dan tetap menjelaskan, meski kadang tak ada yang mencatat atau menyimak serius. Inilah ketulusan yang jarang disadari banyak orang.
Ilmu itu Cahaya, dan Guru adalah Pelitanya
Allah Swt berfirman “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa orang berilmu memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Maka orang yang mengajarkan ilmu agama, sekecil apa pun, sebenarnya sedang memikul amanah yang agung. Mereka adalah penerus perjuangan Rasulullah Saw dalam menyebarkan petunjuk dan cahaya kebenaran.
Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di lautan, semuanya bershalawat (mendoakan) kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan seorang guru ngaji. Mereka mungkin tidak disorot kamera, tidak viral di media sosial, tidak disanjung layaknya penceramah kondang, tetapi mendapat doa dari langit dan bumi.
Mengajar Tanpa Bayaran, Bukan Berarti Tak Layak Dihargai
Sebagian masyarakat beranggapan: “Guru ngaji itu ikhlas, jadi tidak perlu diberi apa pun.” Padahal, ikhlas tidak berarti miskin penghargaan. Ikhlas itu urusan hati sang guru, tapi menghargai adalah kewajiban murid dan masyarakat.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa ilmu tidak akan berkah tanpa menghormati guru.
Beliau berkata “Hak seorang guru atas muridnya lebih besar daripada hak orang tua. Sebab, orang tua menjadi sebab kehidupan dunia, sedangkan guru menjadi sebab kehidupan akhirat.”
Bayangkan, guru ngaji yang mengajarkan ilmu fikih, tafsir, dan akhlak sedang menuntun jamaah menuju surga. Tapi seringkali mereka justru terlupakan, bahkan oleh pengurus masjid tempat mereka mengajar.
Sementara di sisi lain, mubaligh panggung yang berceramah satu jam di acara besar dihormati, disediakan amplop, konsumsi, dan dokumentasi. Tidak salah memberi penghargaan kepada mubaligh, tapi sangat keliru bila guru ngaji kitab yang istiqamah setiap pekan justru diabaikan.
Ulama Klasik Meneladani Ketulusan Guru Ngaji
Imam Malik, salah satu ulama besar, dikenal sangat menghormati majelis ilmu. Beliau tidak mau mengajar kecuali dalam keadaan suci, memakai pakaian terbaik, dan berwibawa di hadapan murid.
Bagi beliau, mengajar adalah ibadah, bukan pekerjaan biasa. Namun demikian, masyarakat di zamannya juga sangat menghargai para pengajar ilmu agama. Mereka diberi perhatian, tempat tinggal, dan dukungan materi agar bisa fokus mengajar.
Sayangnya, di zaman kini, banyak guru ngaji di kampung yang harus mencari nafkah tambahan di sawah, menjadi tukang, atau berdagang kecil-kecilan, karena mengajar tidak memiliki penghasilan tetap.
Padahal, tanpa mereka, generasi Muslim akan buta kitab, buta ilmu fikih, dan kehilangan akar keilmuan Islam tradisional.
Kewajiban Sosial Menghargai Guru Ngaji
Rasulullah Saw bersabda “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama di antara kami.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Menghormati guru ngaji termasuk dalam mengetahui hak ulama. Mereka tidak meminta imbalan, tapi sudah sepantasnya masyarakat memberi apresiasi, baik dalam bentuk penghormatan, dukungan moral, maupun santunan ekonomi.
Jika kita bisa menyisihkan uang untuk konser, kopi mahal, atau makan di kafe, mengapa tidak untuk mendukung guru ngaji yang menjaga warisan keilmuan Islam di masjid atau mushala kecil ?
Ingatlah, keberkahan ilmu datang dari keridhaan guru. Jika guru merasa dihargai dan didoakan, insyaAllah ilmunya menetes lembut ke hati kita dan anak-anak kita.
Guru ngaji adalah pahlawan senyap dalam dakwah Islam. Mereka tidak menuntut upah, tapi pantas mendapat penghormatan. Mereka tidak mengejar popularitas, tapi menyalakan cahaya ilmu di tengah gelapnya ketidaktahuan.
Maka, mari kita ubah cara pandang kita: menghargai guru ngaji bukan soal uang, tapi soal adab dan keimanan. Berikan dukungan, bantu mereka membeli kitab, bantu biaya transportasi, atau sekadar hadir dengan adab dan perhatian saat mereka mengajar.
Sebab, jika umat menghargai guru, maka ilmu akan hidup. Dan jika ilmu hidup, maka agama akan tegak, dan masyarakat akan diberkahi.
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Semoga kita menjadi bagian dari orang yang menghargai para guru ngaji yakni penjaga ilmu dan penjaga cahaya Islam di bumi ini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments