Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Guru SMA NTB Punya Jurus Rahasia Ajarkan Unplugged 4 Pilar Computational Thinking

Iklan Landscape Smamda
Guru SMA NTB Punya Jurus Rahasia Ajarkan Unplugged 4 Pilar Computational Thinking
Ria Pusvita Sari saat mendampingi peserta kelas C. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Ria Pusvita Sari Guru SD Muhammadiyah Manyar
pwmu.co -

Ada pemandangan yang tak biasa dalam sesi pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) untuk guru-guru SMA di Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (8/11/2025). Sebagai seorang fasilitator, saya menantang para guru untuk merancang aktivitas unplugged—kegiatan sederhana tanpa komputer—yang mengasah empat pilar Berpikir Komputasional (Computational Thinking/CT).

Ekspektasi saya sederhana: mungkin aktivitas seputar logika, matematika, atau permainan kartu sederhana. Namun, apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan.

Para guru hebat ini membuktikan bahwa Berpikir Komputasional bukanlah domain eksklusif mata pelajaran Informatika. Mereka berhasil membongkar esensi CT dan menerapkannya secara brilian ke dalam mata pelajaran mereka masing-masing, dari Biologi hingga Bahasa Arab.

Tantangan Awal: Menjembatani CT dengan Kurikulum

Tugas yang saya berikan jelas, yaitu merancang sebuah aktivitas pembelajaran unplugged. Aktivitas ini bisa berupa permainan, simulasi, atau tugas kertas sederhana.

Setiap guru wajib merumuskan:

– Judul aktivitas yang jnik, menarik, dan menggugah rasa ingin tahu siswa.

– Deskripsi singkat: penjelasan alur kegiatan.

– Alat dan bahan: harus sederhana dan mudah ditemukan (karena unplugged).

– Analisis pilar CT: pilar mana yang dominan? (Dekomposisi, Pengenalan Pola, Abstraksi, atau Algoritma).

– Tujuan pembelajaran: harus selaras dengan kurikulum mata pelajaran yang diampu.

“Awalnya saya kira berpikir komputasional ini hanya untuk anak IPA atau yang suka komputer saja. Ternyata, ini soal cara kita memecahkan masalah,” ujar seorang guru Bahasa Inggris.

Hasil yang Mekar: Dari Bahasa Arab hingga Rantai Makanan

Keraguan di awal sesi dengan cepat berubah menjadi eksplorasi kreatif. Ruang pelatihan mendadak riuh dengan ide-ide segar. Para guru tidak hanya memenuhi tugas, melainkan tempat melahirkan inovasi.

Ada proyek Hidroponik Algoritmik, permainan simulasi Jaring Kehidupan, tuags terstruktur Master Resep, hingga permainan kartu kosakata Bahasa Arab.

Percikan Inspirasi dari Ruang Belajar Bersama

​Bagi saya, Bimtek guru di NTB ini menjadi bukti nyata bahwa berpikir komputasional bukanlah barang impor yang kaku dari dunia IT. Ia adalah keterampilan berpikir mendasar yang selama ini mungkin sudah dilakukan oleh para guru, namun kini memiliki nama dan struktur yang jelas.

​Perjalanan ini menegaskan satu hal: fondasi Koding dan Kecerdasan Artifisial tidak dimulai dari hardware yang canggih, tetapi dari software terbaik yang kita miliki, yaitu pola pikir guru yang adaptif dan kreatif.

​Namun, sebagai fasilitator, saya mendapatkan satu refleksi yang lebih mendalam. Potensi dan kreativitas luar biasa seperti yang ditunjukkan para guru hebat di NTB ini sebenarnya sudah ada. Ide-ide brilian itu terpendam, menunggu untuk dipantik.

​Ternyata, mereka hanya memerlukan seseorang yang dapat menggerakkan dan mendampingi. Lebih dari sekadar menyampaikan materi, peran terpenting saya adalah memfasilitasi mereka untuk saling belajar.

Ketika guru Biologi melihat ide guru Bahasa Arab, dan guru Bahasa Indonesia mendengar kesulitan guru Prakarya, saat itulah sihir terjadi. Ruang pelatihan berubah menjadi laboratorium ide. Mereka tidak hanya belajar dari saya; mereka belajar dari rekan sejawat mereka.

​Pada akhirnya, tugas seorang fasilitator adalah menciptakan ekosistem di mana inspirasi-inspirasi baru dapat tumbuh. Dan di NTB, saya melihat inspirasi itu mekar dengan luar biasa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu