Pengajian Milad Ke-113 Muhammadiyah di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, Ahad (30/11/2025), menghadirkan pemaparan menarik dari Gus Ibnu Yusuf bin Kholil mengenai sejarah hubungan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang jarang diketahui publik.
Acara bertema Al-Ma’un Wasiat Langkah K.H. Ahmad Dahlan itu dihadiri ratusan jamaah, mulai warga Muhammadiyah, simpatisan, masyarakat sekitar, hingga komunitas ojek daring. Masjid Ar-Royyan sendiri dikenal sebagai “Masjid Ramah Musafir”.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Dr. P.K. Prabowo, MT., Misbach, M.Pd., serta Ketua LPCR.PM PDM Sidoarjo Nur Chasan Basri, S.Ag. turut hadir memberi pengantar sebelum tausiah utama.
Gus Ibnu Yusuf merupakan putra aktivis NU dan Aisyiyah. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, dan menulis buku Peran Pondok Pesantren Tebuireng dalam Mencetak Kader Muhammadiyah. Buku tersebut menjadi rujukan utama dalam paparannya tentang persinggungan historis Muhammadiyah–NU.
Kedekatan Historis Muhammadiyah dan NU
Dalam tausiahnya, Gus Ibnu memaparkan beberapa poin penting:
- Tradisi Sapaan dalam Muhammadiyah
Menurutnya, setelah wafatnya KH Ahmad Dahlan pada 1923, Muhammadiyah semakin menonjolkan egaliterisme.
“Panggilan kiai, gus, atau mas dahulu lumrah digunakan, tetapi kini jarang dipakai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa budaya egaliter itu berkembang seiring dinamika organisasi, meski Muhammadiyah pada awalnya tidak jauh dari kultur pesantren.
- Gus Dur dan Pembaruan Pendidikan NU
Gus Ibnu menyampaikan kedekatan historis antara Gus Dur dan para kiai Muhammadiyah yang menunjukkan hubungan intelektual yang saling memengaruhi.
“Gus Dur melakukan reformasi pendidikan di NU setelah belajar dari para kiai Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta,” tuturnya.
- Pelurusan Anggapan tentang Orde Baru
Ia membantah anggapan bahwa Muhammadiyah dibesarkan oleh rezim Orde Baru. Muhammadiyah, kata dia, telah memiliki basis gerakan modern jauh sebelum era Orde Baru.
“Sejak awal, Muhammadiyah fokus pada pendidikan dan kesehatan, sementara sebagian ulama tradisional waktu itu masih menganggapnya sebagai produk Barat,” jelasnya.
- Peran Pesantren Tebuireng
Gus Ibnu menekankan bahwa banyak kader awal Muhammadiyah pernah berguru langsung kepada Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Hal itu menjadi bukti kuat adanya titik temu pemikiran pada masa awal.
“Sebagian pendapat Mbah Hasyim di masa lalu selaras dengan pandangan Muhammadiyah saat itu,” ungkapnya.
- Hubungan Intelektual Ulama Pesantren dan Tokoh Muhammadiyah
Ia menambahkan adanya hubungan intelektual antara ulama pesantren NU dan tokoh awal Muhammadiyah pada masa kolonial. Kedua organisasi lahir dari semangat pembaruan Islam dan perjuangan kemerdekaan, sehingga memiliki fondasi perjuangan yang saling berkaitan.
Pengajian Milad diakhiri dengan pembagian paket sembako, doorprize untuk jamaah, dan kupon bensin gratis bagi komunitas ojek daring. Suasana meriah dan inklusif menunjukkan semangat kebermanfaatan sebagaimana pesan Surah Al-Ma’un yang menjadi tema besar peringatan.






0 Tanggapan
Empty Comments