Di tengah gegap gempita perayaan Milad Emas ke-50 SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo, sebuah kejutan sederhana justru menjadi momen paling mengharukan, Sabtu (31/1/2026).
Bukan panggung megah atau lantunan musik yang paling membekas, melainkan hadiah umrah dari seorang alumni kepada dua guru yang pernah menuntunnya menapaki masa depan.
Kejutan itu datang dari Malik Atmaja, alumni Smamda angkatan 2007 yang lulus pada 2010. Sosok yang semasa sekolah dikenal dengan julukan “Unyil” itu secara khusus memberikan hadiah umrah kepada dua guru yang dianggapnya sangat berjasa dalam hidupnya, yakni Bu Nilam Suryawati dan Bunda Riana Wulan Ningrum.
Saat berdiri di atas panggung, Malik tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Ia mengenang perjalanan hidupnya sejak duduk di bangku SMA hingga kini tetap konsisten menekuni dunia musik.
“Saya masuk Smamda tahun 2007 dan lulus 2010. Tadi di rumah saya merasa sudah tua, tapi ketika sampai di sini ternyata banyak yang lebih senior. Lalu, yang saya lihat hari ini adalah wajah-wajah ceria, bahagia dunia dan akhirat,” ungkapnya.
Malik berkisah bahwa Smamda bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang tumbuh bagi cita-cita dan karakter. Dari sekolah itulah minatnya di dunia musik mendapat dukungan, bahkan hadiah prestasi yang ia terima kala itu menjadi modal awal berkarya.
“Dulu setiap juara lomba, hadiah dari sekolah saya gunakan untuk bermusik. Alhamdulillah, sampai hari ini saya masih konsisten menjadi musisi, dari Surabaya hingga nasional,” ujarnya.
Sebagai bentuk rasa terima kasih, Malik kemudian memanggil Bu Nilam dan Bunda Riana naik ke panggung. Dengan suara bergetar, ia menyebut kedua guru tersebut sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidupnya, termasuk saat membimbingnya menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
“Saya masih ingat malam-malam digembleng agar bisa lolos ke ITS. Alhamdulillah saya diterima, dan kini aktif di alumni ITS. Semua itu berkat bimbingan guru-guru Smamda,” katanya.
Saat hadiah umrah diumumkan, suasana auditorium mendadak hening. Bu Nilam menitikkan air mata dan hanya mampu berkata lirih.
“Ini sudah kedua kalinya saya diberangkatkan umrah oleh murid. Dada saya sesak, terima kasih.”
Sementara itu, Bunda Riana langsung sujud syukur di atas panggung. Tangis haru pun pecah, terlebih ketika diketahui ia baru saja pulang dari umrah bersama keluarga dan kembali dipanggil Allah menjadi tamu-Nya.
Di Milad Emas Smamda, hadiah umrah itu menjadi lebih dari sekadar kejutan. Ia menjelma simbol ketulusan, bakti murid kepada guru, dan bukti bahwa pendidikan yang berakar pada nilai mampu melahirkan manusia yang memberi manfaat.





0 Tanggapan
Empty Comments