
PWMU.CO – Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur, M. Hengki Pradana, turut hadir dan memberikan sambutan pada pembukaan Konferensi Pimpinan Daerah (Konpida) yang digelar PD IPM Lamongan pada Jumat (30/5/2025) hingga Minggu (1/6/2025).
Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti berbagai isu krusial yang dihadapi pelajar Muhammadiyah saat ini, sekaligus memaparkan arah gerak strategis IPM ke depan.
Mengawali sambutannya, Hengki Pradana menekankan pentingnya membangun kembali semangat dalam menggerakkan roda organisasi. Ia menyampaikan bahwa semangat yang tinggi mampu meningkatkan energi hingga 100 persen, sehingga menjadikan gerakan IPM lebih dinamis, progresif, dan efektif.
Lebih lanjut, Hengki Pradana menguraikan sejumlah faktor yang sangat memengaruhi pola pikir, tindakan, dan pertumbuhan gerakan pelajar Muhammadiyah.
“Gerakan IPM hari ini, atau secara umum, pelajar Muhammadiyah, banyak dipengaruhi oleh berbagai hal dalam cara berpikir, bertindak, dan bertumbuh. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah krisis karakter dan dekadensi moral. Saat ini, tidak sedikit pelajar yang terjerumus dalam judi online. Bahkan, banyak anak muda yang harus dirawat di rumah sakit jiwa. Jika kita lihat data, pasien di RSJ saat ini didominasi oleh generasi muda, khususnya generasi Z,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyinggung isu pornografi sebagai salah satu faktor yang memengaruhi cara berpikir pelajar. Selanjutnya, Hengki Pradana mengajak seluruh audiens untuk membentengi diri dari dampak negatif kemajuan teknologi.
“Pornografi merupakan salah satu hal yang memengaruhi cara kita berpikir. Kita tentu tidak menolak kemajuan teknologi sebagai bagian dari proses tumbuh kembang kita. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu membentengi diri dari pengaruh buruknya. Jangan-jangan justru kita sendiri yang terlibat dalam hal itu. Sudahkah kita bertanya pada diri sendiri?,” tuturnya.
Selanjutnya, ia juga menyampaikan mengenai transformasi generasi Z dan generasi Alpha. Ia menjelaskan bahwa saat ini IPM telah didominasi oleh generasi Z, bahkan sebagian anggotanya sudah memasuki generasi Alpha.
Kedua generasi ini, menurutnya, lahir dan tumbuh di tengah arus digitalisasi sehingga tidak mengalami era analog. Hal ini membuat pola pikir dan karakter mereka sangat dipengaruhi oleh kecepatan informasi serta perkembangan teknologi yang serba instan.
Menurutnya, IPM Lamongan dikenal dengan jumlah kadernya yang besar, namun tidak hanya unggul secara kuantitas, melainkan juga memiliki kualitas yang mumpuni. Kombinasi ini menjadikan IPM Lamongan sebagai role model bagi Pimpinan Daerah lainnya, khususnya di lingkungan IPM se-Jawa Timur.
“IPM Lamongan ini bukan hanya unggul dalam jumlah, tetapi juga dalam kualitas kader. Banyak kader Lamongan yang mengabdi di IPM tidak hanya dengan tenaga dan pikiran, tetapi juga dengan kontribusi materi. Kader IPM Lamongan bahkan mendominasi di tingkat Pimpinan Wilayah hingga Pimpinan Pusat,” ucapnya.
Terakhir, Hengki Pradana menyoroti model-model pendidikan yang memengaruhi arah gerak IPM. Ia menegaskan bahwa PW IPM Jawa Timur menolak pendekatan pendidikan yang bersifat memaksa. Sejak awal berdirinya pada tahun 1961, IPM telah konsisten menggunakan pendekatan yang persuasif, dialogis, dan menyentuh hati, dengan landasan pedagogi dan andragogi.
Ia juga sependapat dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bahwa anak-anak Indonesia tidak boleh dilabeli nakal, karena mereka masih berada dalam proses pencarian jati diri dan pembentukan karakter. Menurut Hengki, IPM memiliki peran penting dalam menyiapkan ruang-ruang dialog yang membimbing generasi muda menuju “Generasi Emas” 2045.
Menutup sambutannya, Hengki Pradana memaparkan tiga pilar kepemimpinan IPM Jawa Timur pasca-Tanwir, yaitu kepemimpinan kolaboratif yang inklusif dan tidak elitis, kepemimpinan transformatif yang adaptif terhadap perubahan, serta kepemimpinan regenerasi yang sistematis dan berkelanjutan.
Ia mengutip pemikiran Bung Karno bahwa Indonesia akan bercahaya dari obor di desa-desa, bukan hanya di Jakarta. Demikian pula IPM, cahayanya akan terpancar dari gerakan di cabang dan ranting.
“Salam cinta, salam juang, karena dengan cinta kita berjuang,” tutupnya. (*)
Penulis Eka Julia Rohmawati Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments