SD Muhammadiyah 1 Driyorejo (SD MUDRI) menggelar kegiatan Kajian Walimurid sekaligus Parenthink dengan menghadirkan trainer dan motivator nasional, Suhady Fadjaray, Ahad (5/10/2025).
Kegiatan bertema “Anak adalah Cerminan Orangtua” ini menjadi agenda pertama yang digelar di luar sekolah.
Berlokasi di Nothredam Adventure Park, Wisata Bukit Mas Surabaya, kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dan diikuti oleh seluruh walimurid dari kelas 1 hingga kelas 6.
Acara dipandu oleh Alfionita Kusumawardhani S.Si., S.Pd, dan turut dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Driyorejo, serta kepala sekolah dari beberapa amal usaha Muhammadiyah, seperti KB–TK ABA 38 Kota Baru Driyorejo, KB–TK ABA 45 Bambe, KB–TK ABA 49 Griya Kencana, dan SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo.
Menurut Laily Dwi Qonita Sari S.Pd, selaku penanggung jawab acara, kegiatan ini merupakan bentuk perhatian sekolah terhadap para orangtua.
“Acara ini ditujukan bagi walimurid sebagai bentuk kepedulian sekolah terhadap perkembangan pendidikan anak. Istilah Parenthink kami pilih, bukan Parenting, karena kami ingin mengajak orangtua untuk berpikir bersama menemukan kesamaan pola antara pembelajaran di sekolah dan praktik pendidikan di rumah,” jelasnya.
Salah satu walimurid, Maya Indah Sari, mengaku terkesan dengan kegiatan tersebut.
“Acaranya bagus karena membahas hal-hal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, apalagi kami sebagai orangtua pekerja. Waktunya juga pas di hari Minggu, bisa sekaligus liburan sambil belajar bersama anak,” ujarnya, yang merupakan ibu dari Gandhi Bryan Elvano, siswa kelas 1 Utsman bin Affan.
Dalam materinya, Suhady Fadjaray menghadirkan filosofi cermin kecil sebagai refleksi hubungan orangtua dan anak.
“Cermin merefleksikan apa yang ada di depannya, begitu pula anak. Anak adalah cerminan orangtua. Maka, berikanlah contoh sikap yang baik, karena mereka meniru apa yang dilihatnya, mulai dari perkataan sederhana hingga perilaku sehari-hari,” tuturnya tegas.
Penulis buku best seller Harmoni Cinta Keluarga ini juga mengingatkan agar orangtua tidak mewariskan lima kelemahan pada anaknya: fisik, emosi, intelektual, spiritual, dan finansial.
“Bertakwa dan bersyukur adalah dua kunci utama dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi tangguh dan beriman. Dengan keimanan dan rasa syukur, kita akan terhindar dari sifat sombong dan takabur,” pesannya.
Suhady menutup dengan ajakan penuh makna, “Perbanyaklah bersyukur agar anak-anak juga belajar bersyukur memiliki orangtua yang hebat. Anak adalah cerminan orangtua, maka jadilah orangtua yang pandai bersyukur agar keberkahan dari langit turun tanpa henti.” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments