Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, menyampaikan Pidato Kebangsaan dalam rangka peringatan 80 Tahun Indonesia Merdeka, Ahad (15/8/2025) melalui YouTube channel Muhammadiyah.
Dalam pidatonya, Haedar tidak hanya menebar optimisme, tetapi juga mengajak bangsa untuk melakukan refleksi mendalam atas perjalanan delapan dekade kemerdekaan.
Kemerdekaan sebagai Mandat Sejarah
Haedar menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, kemerdekaan adalah mandat sejarah yang harus terus diperjuangkan agar tujuan luhur para pendiri bangsa dapat diwujudkan.
“Alhamdulillah, dalam perjalanan 80 tahun Indonesia Merdeka, terdapat banyak kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Pendidikan, kesehatan, sosial, politik, ekonomi, kehidupan beragama, dan dimensi kehidupan lainnya memberi banyak harapan bagi masa depan Indonesia,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak boleh membuat bangsa lengah. Justru tantangan di era baru yang penuh kompleksitas menuntut generasi muda—milenial dan generasi Z—untuk siap memegang estafet perjuangan.
Apresiasi Political Will Presiden Prabowo
Dalam pidatonya, Haedar juga memberikan apresiasi terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya berani melakukan perubahan mendasar menuju pemerintahan yang lebih bersih, efisien, dan bebas korupsi.
“Patut diapresiasi political will Presiden Prabowo Subianto yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, mendorong para pengusaha besar agar peduli bangsa, memihak sepenuhnya rakyat kecil, menegakkan kedaulatan bangsa, serta terobosan kebijakan lainnya berbasis Asta Cita,” jelas Haedar.
Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu menekankan, komitmen politik Presiden tidak boleh berhenti pada wacana. Kementerian dan seluruh institusi pemerintahan harus berjalan dalam satu irama agar menghasilkan perubahan nyata.
“Yang terpenting, seluruh kementerian dan institusi pemerintahan hingga ke daerah mengikuti satu irama, sehingga memberi jalan dan harapan baru bagi masa depan Indonesia yang lebih berkemajuan setelah 80 tahun merdeka,” pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode ini.
Amanat Konstitusi sebagai Pedoman
Haedar juga menyinggung pentingnya kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan panjang penuh pengorbanan. Karena itu, para elite pemerintahan diminta menjadikan amanat konstitusi sebagai pedoman utama.
“Khusus bagi para petinggi negeri di seluruh struktur pemerintahan, jadikan Indonesia merdeka sebagai mandat untuk mengabdi sepenuh hati dalam menjalankan perintah konstitusi. Lindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan sepenuh tanggung jawab untuk memberi, bukan meminta,” tegasnya.
Menuju Indonesia Maju
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, Haedar kembali mengingatkan bahwa politik yang berpihak pada rakyat kecil serta pembangunan sumber daya manusia adalah kunci kemajuan bangsa.
“Mari wujudkan Indonesia yang ‘Bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, dan Indonesia maju’ sebagaimana tema hari ulang tahun kemerdekaan ke-80 tahun ini,” pungkasnya.
Pidato kebangsaan Haedar memberi pesan kuat bahwa 80 tahun kemerdekaan adalah momentum untuk memperkuat arah perjuangan bangsa: menjadikan kemerdekaan sebagai gerak nyata pengabdian, bukan sekadar perayaan simbolis. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments