Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Haedar Nashir: Bumi Diciptakan untuk Dimakmurkan, Bukan Dirusak

Iklan Landscape Smamda
Haedar Nashir: Bumi Diciptakan untuk Dimakmurkan, Bukan Dirusak
Haedar Nashir saat menyampaikan Keynot Speaker dalam Kajian Ramadan PWM Jatim 1447 H secara daring. (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si menjadi keynote speaker dalam pembukaan Kajian Ramadan 1447 H/2026 M yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Sabtu (21/2/2026) siang di Universitas Muhammadiyah Jember.

Dalam pemaparannya secara daring , Haedar menilai tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” sebagai pembahasan yang menarik dan relevan dengan tantangan zaman. Tema tersebut menegaskan pentingnya perspektif teologis dalam menjaga keseimbangan alam sekaligus menjalankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 29:

 “Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Menurut Haedar, ayat tersebut menegaskan bahwa Allah menciptakan segala yang ada di bumi untuk manusia. Penegasan “segala yang ada di bumi untukmu” menunjukkan anugerah besar yang diberikan Allah kepada manusia untuk dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Ia menjelaskan, dalam Tafsir At-Tanwir yang disusun Majelis Tarjih Muhammadiyah, ayat ini dipahami sebagai pandangan Al-Qur’an yang bersifat universal dan memberi pesan teologis tentang kehidupan. Allah menganugerahkan seluruh potensi bumi agar dimanfaatkan untuk membangun kehidupan yang bermartabat dan berkemajuan.

“Sebagai Muslim dan warga Muhammadiyah, kita hidup di dunia bukan untuk menghindarinya atau bersikap anti-dunia. Kita menjalani kehidupan dunia dengan peran dan fungsi kekhalifahan,” ujarnya.

Haedar kemudian merujuk Surah Hud ayat 61 yang menegaskan tugas manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Tuhan memberikan kekayaan alam di darat dan laut agar dikelola demi kesejahteraan manusia.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ia mencontohkan negara-negara yang memanfaatkan sumber daya alamnya secara optimal hingga mencapai kemajuan ekonomi. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama bukan sekadar eksploitasi, melainkan kemakmuran yang berkeadaban.

“Bumi dan isinya tidak untuk dibiarkan, tetapi dimakmurkan. Namun dalam memakmurkan harus dalam konsep Islam: membangun, memanfaatkan, dan mengelola tanpa merusaknya,” tegasnya.

Haedar menambahkan bahwa tugas kekhalifahan mencakup pembangunan konsep, pemikiran, dan kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan. Dengan pendekatan ini, umat tidak terjebak pada dua kutub ekstrem: eksploitasi yang merusak alam atau sikap pasif yang membiarkan potensi alam tanpa pemanfaatan.

Menurutnya, peradaban tidak dapat dibangun tanpa kemakmuran, tetapi kemakmuran harus diwujudkan dengan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab moral.

Kajian Ramadan PWM Jawa Timur ini diharapkan memperkuat kesadaran teologis umat Islam untuk merawat bumi sekaligus mendorong pembangunan peradaban yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkelanjutan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu