Di tengah arus perubahan zaman yang bergerak cepat, Ia tidak hanya memimpin organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi representasi moderasi Islam Indonesia di panggung global. Ia adalah Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Sejak terpilih dalam Muktamar ke-47 di Makassar pada 2015, dan kembali dipercaya pada Muktamar ke-48 di Surakarta (Solo) tahun 2022, Haedar membawa Muhammadiyah memasuki fase transformasi yang semakin progresif dan berorientasi internasional.
Organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu kini menapaki jejaring global dengan langkah yang lebih terstruktur dan visioner.
Akademisi Cumlaude dari Bandung Selatan
Lahir di Bandung Selatan pada 25 Februari 1958, perjalanan intelektual Haedar Nashir mencerminkan konsistensi dan ketekunan.
Ia menempuh studi Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude.
Latar belakang pendidikannya memadukan dua dunia: tradisi pesantren di Pondok Pesantren Cintawana dan disiplin ilmu sosial modern.
Perpaduan ini membentuk karakter kepemimpinannya religius secara nilai, namun rasional dan saintifik dalam pendekatan sosial.
Tak mengherankan jika namanya tercatat dalam jajaran 100 Ilmuwan Sosial Teratas di Indonesia, sekaligus dikenal luas sebagai pemikir Islam progresif yang konsisten mengusung jalan tengah.
Internasionalisasi Muhammadiyah: Menembus Batas Negara
Di bawah kepemimpinannya, gagasan “Internasionalisasi Muhammadiyah” tidak berhenti sebagai retorika. Sejumlah langkah konkret diwujudkan melalui pendirian institusi pendidikan di luar negeri, antara lain:
- Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), universitas milik Muhammadiyah di Malaysia.
- Muhammadiyah Australia College (MAC) di Melbourne, Australia.
- Markaz Dakwah Muhammadiyah di Kairo, Mesir.
Ekspansi ini mempertegas posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam transnasional yang tetap berakar pada nilai kebangsaan Indonesia.
Kepemimpinan Kemanusiaan di Masa Krisis
Ujian besar datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), Haedar memobilisasi jaringan rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, serta ribuan relawan di seluruh Indonesia. Respons cepat dan sistematis ini mendapat apresiasi nasional, termasuk PPKM Award dari Presiden Joko Widodo.
Di tingkat global, kiprah kemanusiaannya juga mendapat pengakuan melalui Zayed Award for Human Fraternity tahun 2024 di Abu Dhabi. Ia pun secara konsisten masuk dalam daftar The 500 Most Influential Muslims sejak 2017.
Pemikir yang Tajam dan Menyejukkan
Di balik kesibukannya memimpin organisasi dengan jutaan anggota, Haedar tetap produktif menulis.
Artikel dan refleksinya kerap hadir di berbagai media nasional, membahas relasi agama, demokrasi, kebangsaan, dan politik.
Gaya tulisannya dikenal tenang, argumentatif, dan substansial mengkritik tanpa menyulut polarisasi, serta menawarkan solusi tanpa kehilangan prinsip.
Islam Berkemajuan sebagai Arah Peradaban
Bagi Haedar Nashir, Muhammadiyah adalah “tenda besar” bagi umat dan bangsa.
Dengan visi Islam Berkemajuan, ia menegaskan bahwa agama tidak boleh menjadi beban sejarah, melainkan harus tampil sebagai energi transformasi sosial.
Di tangannya, Muhammadiyah terus bergerak sebagai kekuatan moral, intelektual, dan kemanusiaan membumi di Indonesia, namun menjangkau dunia.






0 Tanggapan
Empty Comments