Di tengah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan semakin terbatasnya lapangan pekerjaan, semangat untuk berwirausaha semakin relevan bagi generasi muda.
Hal ini ditegaskan oleh Dr. Hairul Warizin, Direktur Elkisi Investama, yang mendorong pemuda agar tidak takut memulai usaha, meski dengan modal yang terbatas.
“Untuk memulai usaha itu tidak harus menunggu persiapan yang matang. Yang terpenting adalah berani memulai. Jangan tunggu sempurna, karena usaha itu belajar sambil jalan,” ujarnya.
Fenomena PHK massal dan banyaknya lulusan baru yang setiap tahun membanjiri pasar kerja, kata Hairul, harus menjadi alarm bagi generasi muda.
“Sekarang ini lulusan ribuan, PHK juga ribuan, sementara lapangan kerja sangat minim. Kalau hanya mengandalkan pekerjaan formal, rebutannya luar biasa. Karena itu, pemuda harus kreatif dan mandiri,” jelasnya.
Menurut Hairul, modal usaha bukan semata-mata uang. Ia menegaskan ada lima langkah penting yang wajib dimiliki setiap calon wirausahawan:
Pertama, niat. “Modal utama itu niat. Keinginan yang bersungguh-sungguh untuk memulai usaha. Tanpa niat, semua tidak akan berjalan,” ujar anggota Majelis Hukum dan HAM PDM Sidoarjo ini.
Kedua, eksekusi. Sebaik apapun ide, jika tidak dieksekusi tidak akan pernah terwujud.
“Ide tanpa eksekusi hanya akan menjadi mimpi. Program sederhana tapi dijalankan serius bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” papar Hairul seperti dikuti di kanal Youtube id. fasco.
Ketiga, mulai dari yang ada. Kaum muda tidak boleh menunggu modal besar.
“Kalau punya HP, mulai saja dengan berjualan online. Modal Rp 600 ribu saja bisa jadi usaha, tergantung bagaimana kita mengeksekusi,” ujarnya.
Keempat, sinergi, Ketika modal terbatas, sinergi menjadi kunci.
“Kalau kita tidak punya modal uang, carilah orang yang punya uang tapi tidak punya waktu. Bangun kerja sama. Begitu pula dengan jaringan—teman, tetangga, atau komunitas bisa menjadi mitra,” papar anggota Majelis Tabligh PWM Jatim ini.
Kelima, syukur dan kembangkan. Hairul mengingatkan agar keuntungan pertama jangan langsung habis untuk konsumsi.
“Kesalahan anak muda sering kali gaya hidupnya ikut naik. Padahal hasil usaha sebaiknya diputar kembali untuk mengembangkan bisnis,” tegas dia
Hairul mencontohkan bahwa kreativitas menentukan nilai sebuah produk. Pisang goreng biasa dijual seribu rupiah, tetapi dengan tambahan topping dan kemasan menarik, harganya bisa melonjak menjadi Rp10 ribu.
Begitu juga dengan semangka. “Kalau hanya dijual bulat, harganya Rp 10 ribu. Dipotong-potong bisa jadi Rp 12 ribu. Dijus, nilainya bisa naik menjadi Rp 30 ribu. Kalau dikemas bagus dengan merek, bisa lebih mahal lagi. Itulah bedanya pedagang dengan entrepreneur,” jlentrehnya.
Pandemi COVID-19, menurut Hairul, menjadi contoh nyata bahwa krisis selalu melahirkan peluang. Ada yang usahanya tutup, ada pula yang justru bangkit.
“Teman saya di Jogja yang biasanya jual mukena sempat nyungsep. Tapi dari nonton drama Korea, ia terinspirasi membuat sweater rajut. Dalam waktu singkat, ribuan pesanan datang. Itu bukti bahwa kreativitas bisa mengubah krisis jadi peluang,” kisahnya.
Hairul menekankan bahwa wirausaha adalah keterampilan, bukan sekadar teori.
“Seperti belajar motor, tidak cukup diajari teori oleh Valentino Rossi. Harus terjun langsung. Begitu juga usaha, harus siap jatuh bangun. Ukuran sukses bukan berapa kali jatuh, tapi berapa kali bangkit,” katanya.
Karena itu, dia menilai penting adanya pelatihan, pendampingan, dan komunitas. “Di Sukses Berkat Community misalnya, ada program pendampingan setahun penuh untuk pengusaha pemula. Mereka dibimbing dari start hingga grow,” katanya.
Dalam era digital, Hairul mengingatkan agar pelaku usaha tidak gagap teknologi. Namun, ia menekankan bahwa tidak semua harus dilakukan sendiri.
“Kalau tidak bisa digital marketing, gandeng anak-anak milenial. Mereka lahir dengan Android di tangan. Biarkan mereka mengelola konten dan pemasaran online. Itu simbiosis mutualisme,” jelasnya.
Hairul memberikan pesan sederhana namun kuat, “Percayalah, mulai usaha itu dari diri kita. Jangan tunggu kaya, jangan tunggu sempurna. Mulai dengan apa yang ada, eksekusi, manfaatkan peluang, bangun sinergi, lalu syukuri dan kembangkan. Kalau sudah niat tapi tidak berani eksekusi, percuma.” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments