Saat itu tahun 1964. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka berusia 58 tahun. Hari itu, Senin 12 Ramadhan 1385, bertepatan 27 Januari 1964. Sekitar pukul 11, dia dijemput polisi di rumahnya. Ditangkap dan ditahan. Perihal penangkapan ini pernah ditulis dalam pengantar cetakan XII buku Tasawuf Modern.
“Diadakan pemeriksaan yang tidak berhenti-henti, siang malam, petang pagi. Istirahat hanya ketika makan dan sembahyang saja. 1001 pertanyaan, yah 1001 yang ditanyakan. Yang tidak berhenti-henti ialah selama 15 hari 15 malam,” tulis pria yang sejak 1953-1971 selalu masuk Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
“Di sana sudah ditetapkan lebih dahulu bahwa saya mesti bersalah. Meskipun kesalahan itu tidak ada, mesti diadakan sendiri. Kalau belum mengaku berbuat salah, jangan diharap akan boleh tidur,” kata Hamka yang menilai intograsi itu memang harus menetapkan Hamka bersalah.
Namun, ada satu kalimat tuduhan yang sangat menyakitkan hati Hamka. Sebuah kalimat yang sebelumnya tidak pernah didengar sebagai tuduhan pada dirinya. “Saudara pengkhianat, menjual Negara kepada Malaysia!,” inti tuduhan itu.
“Kelam pandangan mendengar ucapan itu. Berat!…. Remuk rasanya hati saya,” jelas Hamka setelah mendengar tuduhan itu. Sungguh berat hati Hamka menerima ujian ini. Dia merasa sangat sedih dan tertekan. Termasuk, pernah punya niatan untuk melakukan bunuh diri. Dalam kondisi galau, dia teringat isi buku Tasawuf Modern yang ditulisnya.
Sekedar review, buku Tasawuf Modern adalah kumpulan tulisan Hamka di salah satu rubrik Majalah “Pedoman Masyarakat.” Kemudian banyak pembaca yang meminta agar berbagai tulisan itu dikumpulkan dan dijadikan buku. Maka lahirlah buku yang pertama kali cetak pada Agustus 1939.
Hamka ingat betul bahwa melalui buku Tasawuf Modern, dia menyeru orang agar sabar, tabah dan teguh hati bila menderita satu percobaan Tuhan. Orang yang membaca bukunya itu semuanya selamat karena nasihatnya. Sungguh lucu jika sang penulisnya sendiri justru memilih jalan sebaliknya.
Setelah selesai pemeriksaan 15 hari 15 malam itu, mulailah dilakukan tahanan berlarut-larut. Karena kesehatannya yang memburuk, Hamka dipindahkan ke rumah sakit Persahabatan di Rawamangun Jakarta. “Maka segeralah saya minta kepada anak-anak saya yang selalu melihat saya (besuk) agar dibawakan Tasawuf Modern,” lanjut Hamka.
Oleh Hamka, buku ini ia baca kembali isinya. Selain tentu saja rutin membaca Alqur’an. Dikisahkan, pernah seorang teman yang datang menjenguknya, mendapati Hamka sedang membaca Tasawuf Modern. Lalu dia pun berseru: “Eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka!”
“Memang!” –jawab saya: “Hamka sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri sesudah selalu memberi nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang memberitahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku Tasawuf Modern ini!” jawab Hamka.
Kisah ini menunjukkan bahwa Hamka pun merasakan manfaat dari membaca karangannya sendiri. Tentu saja bukan karena sekadar kenang-kenangan, tapi Hamka sedang mengingatkan dirinya sendiri. Bahwa ia harus konsisten dengan apa yang ditulisnya. Nasehatnya itu juga berlaku untuk dirinya sendiri, bukan hanya untuk orang lain.






0 Tanggapan
Empty Comments