Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Happy Tanpa Bully: Upgrading Guru dan Karyawan SDMM

Iklan Landscape Smamda
Happy Tanpa Bully: Upgrading Guru dan Karyawan SDMM
pwmu.co -
Suasana pelatihan Happy Tanpa Bully yang dihadiri oleh guru, dan tenaga kependidikan serta Majelis Dikdasmen PPI (Khoirul Anwar/PWMU.CO)
Suasana pelatihan Happy Tanpa Bully yang dihadiri oleh guru, dan tenaga kependidikan serta Majelis Dikdasmen PPI (Khoirul Anwar/PWMU.CO)

PWMU.CO – 80% Bully atau perundungan terjadi tanpa kesengajaan, namun bagi korban itu bisa membekas hingga bertahun-tahun. Setidaknya narasi tersebut disampaikan oleh narasumber Irfan Nazhran Master Trainer PeaceGen kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Jawa Timur di Aula Welirang 1 Hotel Whizz Trawas, Mojokerto, Senin (7/7/2025).

Lebih dari 68 peserta yang terdiri dari guru, admin, security dan janitor SDMM mengikuti Upgrading Guru dengan tema “Happy Tanpa Bully”, dengan dua narasumber dari PeaceGen sebuah organisasi yang bergerak di bidang Pendidikan Perdamaian.

Dalam kegiatan ini hadir pula jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah Perumahan Pongangan Indah (PPI) Kecamatan Manyar, sekaligus Pimpinan Dikdasmen dan PNF ranting PPI. Kedua narasumber yang diundang adalah Irfan Amali Executive Director dan Irfan Nazhran Master Trainer dari organisasi yang bermarkas di kota Bandung Jawa Barat.

Perundungan

Irfan Nazhran mengungkapkan bahwa penyebab terjadinya bully adalah ketidak seimbangan kekuatan, kekuasaan atau kerap disebut dengan power imbalance. 

“Ada alasan kenapa terjadi sebuah perudungan, karena ada power imbalance dimana ada yang berkuasa dan ada yang dikuasai, namun terjadi ketidak seimbangan di antaranya,” ungkapnya.

Dalam pelatihan di hadapan guru dan tenaga kependidikan, Nazhran meminta ada delapan sukarelawan dari guru untuk maju ke depan bermain peran sebuah kejadian perundungan di salah satu sekolah.

“Ada yang menjadi korban perundungan , pelaku perundungan, pendukung aktif pelaku, pendukung pasif pelaku, pembela korban, teman setia pembela termasuk mereka yang tidak peduli atas kejadian perundungan,” ujarnya meminta setiap delapan guru berperan sesuai dengan perannya.

Maka dari peran tersebut mana yang perlu kita urai agar tidak terjadi perundungan. Nazhran kemudian meminta peserta menganalogikan kejadian seperti cara kita menyantap semangkuk bubur panas.

“Kira-kira sisi mana kita mulai makan semangkuk bubur panas?, apakah dari pinggir atau tengah? tentu dari pinggir karena lebih dingin duluan,”

Mengacu analogi tersebut, ketika menghadapi sebuah kejadian perundungan maka yang perlu kita dekati dan diajak berdamai adalah para pendukung pastif pelaku perundungan dan yang mengajak adalah pembela korban untuk solusi sebuah perdamaian. 

Irfan Amali kemudian, menambahkan dalam sesi bagaimana mengurai kasus perundungan adalah bagaimana kita menambahkan para pembela atau sering disebut dengan Upstander. “Kunci menghentikan pembulian adalah bagaimana menambah jumlah pembela korban perundungan,” ucapnya kepada seluruh peserta.

Dari pertemuan pelatihan yang akan berlangsung selama dua hari ini Senin-Selasa (7-8/7/2025), setiap individu dari guru dan tenaga kependidikan belajar bagaimana membuat suasana sekolah tanpa bully, selain belajar cara pemecahannya mulai dengan belajar tentang 20 bibit bully yang bisa berkembang menjadi kasus bully, sehingga setiap peserta bisa melakukan tindakan preventif dari sebuah kasus perundungan.

Bibit Bully

Berikut 20 bibit bully yang disampaikan oleh para trainer:

1.       Bermula dari Gosip

2.       Expulsion atau pengusiran kelompok atau anggota.

3.       Harrassement, mempermalukan

4.       Alianation atau mengasingkan anggota.

5.       Body shaming, mempermalukan secara fisik.

6.       Segregation, atau pengelompokan

7.       Satire, sindiran

8.       Streotipe atau gambaran subyektif yang negatif

9.       Discrimination atau diskriminasi

10.   Teasing atau mengejek

11.   Defacement dengan kata lain mendeskriditkan

12.   Name Calling, memanggil nama dengan julukan mengolok

13.   Stape Goating atau mencari kambing hitam.

14.   Upper sizing atau merasa berkuasa merasa besar.

15.   Bad Word, perkataan tidak baik

16.   Destruction, tdindakan destrukrif menghancurkan.

17.   Roasting, menyindir.

18.   Trolling, atau tindakan provokatif

19.   Repression atau tekanan.

20.   Mocking, meniru tindakan atau perkataan untuk tujuan mengejek. (*)

Penulis Zaki Abdul Wahid Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu