Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hari Ketiga Tarawih PRM Giri Gajah: Ramadan adalah Madrasah Pembentuk Karakter Taqwa

Iklan Landscape Smamda
Hari Ketiga Tarawih PRM Giri Gajah: Ramadan adalah Madrasah Pembentuk Karakter Taqwa
Ustadz Muhammad Hilmi menyampaikan Kultum hari ketiga pelaksanaan sholat Tarawih di Musholla Al-Jihad PRM Giri Gajah PCM Kebomas. (Lilik/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pelaksanaan salat Tarawih hari ketiga di Musala Al-Jihad Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Giri Gajah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Kamis (19/2/2026), berlangsung khusyuk dan penuh antusiasme jamaah.

Pada kesempatan tersebut, Imam dan kultum disampaikan oleh Ustadz Muhammad Hilmi, Majelis Tabligh dan Ketarjihan PCM Kebomas.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Hilmi menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah madrasah ruhani yang mendidik dan membentuk karakter takwa dalam diri seorang muslim.

Beliau mengutip firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Menurut Ustadz Hilmi, ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan utama perintah puasa adalah agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa.

Puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi latihan pengendalian diri. Saat seseorang mampu menahan diri dari hal yang halal seperti makan dan minum pada waktu tertentu, maka seharusnya ia lebih mampu lagi menahan diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

“Ramadan melatih kita untuk sabar, bukan hanya sabar menahan lapar, tetapi sabar dalam menjaga lisan, menjaga emosi, menjaga sikap, dan menjaga hati,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ciri orang bertakwa adalah menjalankan semua kewajiban yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Orang bertakwa bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga jujur dalam perkataan, amanah dalam tugas, santun dalam bersikap, serta menjauhi perbuatan dosa, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Ustadz Hilmi—demikian ia biasa disapa—kemudian menjelaskan beberapa cara untuk menjadi orang yang bertakwa.

Di antaranya adalah memperbaiki niat dalam setiap amal, memperbanyak membaca dan mentadabburi al-Quran, menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak istighfar, serta memperkuat kesabaran dalam menghadapi ujian kehidupan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menurutnya, takwa tidak terbentuk dalam sehari, tetapi melalui proses pembiasaan yang terus-menerus. Dalam tausiyahnya, beliau juga menyampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ustadz Hilmi menjelaskan bahwa hati adalah pusat kendali kehidupan manusia. Jika hati dipenuhi iman, keikhlasan, dan rasa takut kepada Allah, maka perilaku seseorang akan mencerminkan kebaikan.

Sebaliknya, jika hati dipenuhi iri, dengki, dan kesombongan, maka perbuatannya pun akan cenderung menyimpang.

“Hati yang baik akan menuntun kita ke jalan yang baik. Karena itu, Ramadan adalah waktu terbaik untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya,” ungkapnya.

Menjelang akhir kultum, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memperbaiki hati dan meningkatkan kualitas ketakwaan.

Ia juga mengingatkan agar senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hati tetap istiqamah dalam kebaikan.

“Semoga di bulan Ramadan ini hati kita semakin lembut, semakin dekat kepada Allah, dan selalu menuntun kita dalam kebaikan. Jangan pernah lelah memohon perlindungan kepada Allah agar dijaga dari hati yang keras dan jalan yang menyimpang,” tutupnya.

Kultum malam itu meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah yang hadir, sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah kesempatan emas untuk membentuk pribadi yang bertakwa.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu