Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hari Milad Muhammadiyah Menjadi Perpisahan: Para Tokoh Ceritakan Sosok Abah Kasuwi yang Menginspirasi

Iklan Landscape Smamda
Hari Milad Muhammadiyah Menjadi Perpisahan: Para Tokoh Ceritakan Sosok Abah Kasuwi yang Menginspirasi
Ahmad Kasuwi Thorif (tengah barisan depan). (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Desa Godog, Laren, tenggelam dalam lautan duka pada Selasa malam, 18 November 2025. Tepat di hari Milad Muhammadiyah ke-113, sosok yang selama puluhan tahun menjadi penjaga ilmu, guru para pendekar, dan teladan, KH Ahmad Kasuwi Thorif, MA., P.Br, atau yang akrab disapa Abah Wi pulang menghadap Allah SWT.

Kabar wafatnya Pendekar Besar Tapak Suci ini beredar cepat, memanggil ribuan murid, sahabat, dan warga dari berbagai daerah. Rabu pagi, Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Godog tak mampu menampung jamaah yang datang.

Jenazah dishalatkan tiga gelombang pada pukul 09.00 WIB, tanda betapa luas cinta masyarakat kepadanya. Setelah itu, iringan pelayat memadati jalan menuju pemakaman Desa Godog, hamparan warna merah Tapak Suci menjadi saksi penghormatan terakhir.

Pendekar yang Dicintai Para Tokoh

Dari pusat persyarikatan, tokoh-tokoh Muhammadiyah, para pendekar Tapak Suci, hingga pimpinan partai politik tak henti memberi kesaksian atas keluhuran kepribadian almarhum.

Pendekar yang menguasai ilmu dan akhlaknya paling halus”

Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci, Pendekar Afnan Hadikusumo, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya sosok yang telah ia kenal lama sejak awal 2003-an.

 “Beliau pendekar yang betul-betul menguasai ilmunya. Akhlaknya baik, dan beliau ringan tangan. Kita kehilangan tokoh dunia persilatan yang mumpuni,” ujarnya.

Pendekar dermawan

Kesaksian penuh haru datang dari Pendekar Besar Dr. H Sukarno, M.Si, sahabat seperjuangan sejak 1985.

Ia mengenang: “Beliau selalu merujuk Al-Qur’an dan Hadis, baik di forum resmi maupun saat obrolan santai. Beliau dermawan, sering mentraktir kami yang lebih muda.”

Kedekatan itu membuat Sukarno menyaksikan langsung ibadah almarhum dari jarak dekat.

“Saya sering tidur satu kamar dengan beliau. Beliau selalu tahajud.”

Sukarno juga mengenang momen fenomenal keilmuan Tapak Suci era 1980-an:

 “Di Wonosalam, batu besar menghalangi jalur UKT. Almarhum Pendekar Besar Buchory Ahmad meminta kami bertiga menggesernya. Batu itu tak digeser… tetapi Abah Wi memeluk dan mengangkatnya, memindahkannya begitu saja.”

Kisah itu kini menjadi legenda yang kembali diceritakan para muridnya.

Teladan Muhammadiyah

Dari jajaran pimpinan Muhammadiyah, penghormatan datang bertubi-tubi.

PWM Jatim: “Kader sejati Muhammadiyah”

Menurut Ketua PWM Jawa Timur, Prof. Dr. Sukadiono, MM, Abah Kasuwi adalah orang yang istiqomah,apa adanya, suka menasihati, dan sangat militan dalam Bermuhammadiyah.

Selain itu, menurut Prof Sukadiono, Abah Kasuwi Pendekar Tapak Suci yang sangat kreatif, terbukti dengan menciptakan beberapa jurus dalam Tapak Suci.

Wakil Ketua PWM Jatim, Dr. Sholihin Fanani, menegaskan karakter kuat almarhum:

 “Beliau tegas, rajin shalat, dan sangat menjaga amar makruf nahi munkar. Komitmennya tinggi terhadap perjuangan Islam dan Muhammadiyah.”

Ketua PDM Lamongan, KH Drs Shodikin M.Pd, mewakili keluarga menyampaikan terima kasih dan meminta doa para pelayat.

Dalam taushiyahnya ia menekankan, “Orang cerdas adalah yang mempersiapkan kematian. Generasi muda, termasuk Tapak Suci, harus meneruskan kebaikan, cita-cita, dan ide-ide beliau.”

Selalu energik dan tak kenal lelah”

Wakil Ketua PDM Lamongan lainnya, Fathurrahim Syuhadi, masih sulit menerima kabar wafatnya Abah Kasuwi, mengingat mereka baru saja bersama dalam kegiatan LPCRPM di Banjarmasin pada 13-16 November 2025 kemarin.

“Beliau peserta aktif, energik, semangatnya selalu menyala. Beliau disegani ulama, dihormati para penguasa, dan dihargai para pendekar di Jawa Timur bahkan di Indonesia.”

Jejak Pendekar dalam Ingatan Murid, Sahabat, dan Tokoh Daerah

Sekretaris PCM Laren, Maslahul Falal, menambahkan satu sisi penting dari kepribadian Abah Kasuwi:

 “Beliau memiliki ketinggian spiritualitas. Dalam kisah hidupnya, beliau pernah menyembuhkan orang yang dianggap ‘gila’ pada zamannya.”

Dari unsur pemerintah dan militer, kesaksian datang dari Kasdam V/Brawijaya Brigjen TNI Zainul Bahar, S.H., M.Si.

 “Saya SMP sudah aktif Tapak Suci. Saat di Jakarta, saya pernah diuji langsung oleh beliau. Almarhum adalah teladan bagi pemuda mengajarkan karakter dan kedisiplinan.”

Sementara Ketua DPD PAN Lamongan, Ali Mahfudl, menyampaikan kesan paling personal:

 “Abah Kasuwi bagi saya bukan hanya guru, tapi seperti orang tua. Ilmu agamanya dalam, beliau tegas tapi sangat sabar. Meski pendekar, saya tak pernah melihat beliau marah. Kalau digoda, beliau hanya tersenyum. Senyum itu yang tak akan pernah saya lupakan.”

Kepergian Abah Kasuwi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah, Tapak Suci, dan masyarakat Lamongan. Namun jejaknya dalam akhlak, ilmu agama, kedisiplinan, keberanian, dan kesabaran telah tertanam kuat di hati ribuan murid dan orang-orang yang pernah disentuh oleh ketulusannya.

Pada Milad Muhammadiyah ke-113, ia menutup pengabdiannya di dunia.

Namun warisan perjuangan itu justru baru saja membuka babak baru: generasi penerus yang ia tempa kini berdiri untuk meneruskan langkahnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu