GOR Gajah Mada Kota Batu bergemuruh, Selasa (18/11/2025). Sorak-sorai dan alunan merdu angklung dari ibu-ibu Aisyiyah turut menyemarakkan puncak Milad ke-113 Muhammadiyah, menciptakan gelombang kebahagiaan dan kebanggaan.
Gelar budaya yang dipandegani Lembaga Seni Budaya (LSB) PDM Kota Batu ini menjadi panggung spektakuler bagi warga Muhammadiyah dan siswa-siswi dari berbagai amal usaha untuk menampilkan kreasi seni terbaiknya.
Acara dibuka dengan pembagian hadiah berbagai lomba yang digelar dua hari sebelumnya, memanaskan suasana sebelum pertunjukan talenta-talenta keren siswa-siswi, ibu-ibu Aisyiyah, dan komunitas budayawan Muhammadiyah dimulai.
Budaya Sebagai Ekspresi Iman dan Identitas
Dalam sambutannya yang berapi-api, Ketua PDM Kota Batu, Tsalis Rifa’i S.T M.M menegaskan filosofi Muhammadiyah dalam memandang kebudayaan.
“Kita tidak alergi pada budaya,” tegasnya di hadapan ratusan hadirin.
“Justru, Muhammadiyah memberikan ruang bagi optimalisasi budaya yang harus kita lestarikan. Implementasinya secara positif menantang kita untuk mampu mengkreasikan seni dalam wujud ekspresi dan kecintaan pada budaya,” tambahnya.
Pidato tersebut bukan sekadar retorika. Di atas panggung, Aisyiyah membuktikannya dengan aksi nyata. Dengan penuh semangat dan keceriaan, mereka memainkan angklung, mengalunkan dua lagu daerah legendaris: Suwe Ora Jamu dan Gundul-Gundul Pacul.
Penampilan apik dan harmonis mereka berhasil menyihir seluruh audiens, menyedot perhatian dan decak kagum.
Keceriaan Menular, Panggung Menjadi Satu Padu
Momen Milad ke-113 ini tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun, tetapi juga sebuah deklarasi nyata bahwa Muhammadiyah, melalui pelajar Muhammadiyah, komunitas pecinta budaya, dan Aisyiyah, hadir sebagai pelestari budaya dengan cara yang ceria, modern, dan mengakar di hati masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments