
Hati-Hati terhadap Fitnah Akhir Zaman oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.
PWMU.CO – Kajian Hati-Hati terhadap Fitnah Akhir Zaman ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَشْرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى قَالُوا لَا قَالَ فَإِنِّي لَأَرَى الْفِتَنَ تَقَعُ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَوَقْعِ الْقَطْرِ(رواه البخاري)
Dari Usamah bin Zaid radliallahu ‘anhuma, mengatakan; Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki sebuah benteng Madinah lantas mengatakan; ‘Apakah kalian melihat yang kulihat?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Sungguh aku melihat fitnah telah terjadi di tengah-tengah rumah kalian sebagaimana hujan turun.’ (HR Bukhari)
Benteng Madinah
Asyrafa dalam hadits di atas bermakna nadhara min makanin ‘alin. Yakni melihat dari tempat yang tinggi. Sedangkan Atham bermakna hisnun min husunin min ahlil Madinah. Yakni benteng dari benteng penduduk Madinah.
Peristiwa pada hadits di atas, Rasulullah pada suatu hari naik ke salah satu benteng kota Madinah dan memandang ke sekelilignya, kemudian beliau bersabda kepada para sahabat beliau, sebagaimana teks hadits di atas.
Mukjizat Rasulullah
Rasulullah sebagai penutup utusan Allah juga diberikan mukjizat oleh Allah sebagaimana nabi-nabi pendahulunya. Hal ini juga sebagai tanda kenabian beliau atau alamatun nubuwah.
Di antara mukjizat itu adalah kemampun memprediksi terhadap kejadian yang akan terjadi pada umatnya. Hal ini dalam rangka memberikan kewaspadaan kepada umat ketika menghadapi masa tersebut. Sehingga ada sikap hati-hati agar tidak terjebak pada hal-hal yang justru menjauhkan umat ini dari ajaran beliau.
Dan mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah al Quran sebagai kitab suci yang akan terus terjaga keotentikannya atau keorisinilitasnya sampai akhir zaman. Karena senantiasa dijaga oleh Allah subhanahu wa taala sebagai Sang Pemilik wahyu itu.
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr 9)
Dengan demikian memahami al-Quran sesuai dengan generasi terbaik (khairul kurun) yakni pemahaman Rasul dan para sahabat beliau serta tabi’in dan tabi’ut tabi’in merupakan keniscayaan yang tidak dapat dielakkan.
Termasuk memahami hadits Rasulullah shallahu alaihi wasalam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dan tentu untuk hadits ini impelentasi atau pengejawantahannya pun juga mengacu pada kehidupan beliau dengan para shabat beliau yang mulia.
Misalnya bagaimana praktik beliau saat shalat berjamaah di masjid dan sesudahnya, apa dan bagiamana yang beliau lakukan bersama para sahabatnya, dan lain sebagainya dengan praktik ibabah mahdhah lainnya.
Jadi untuk memahami kedua pegangan hidup bagi Muslim tersebut yakni al-Quran dan as-Sunnah haruslah melihat pada bagaimana praktek Rasulullah dan sahabat beliau kala itu. Oleh karena itu sesungguhnya tidak ada celah untuk mencoba membuat kesimpulan atau tafsiran sendiri khususnya dalam kerangka ibadah makhdhah yang terkait langsung dengan hak prerogative mutlak Allah dan Rasul-Nya.
Baca sambungan di halaman 2: Derasnya Fitnah


0 Tanggapan
Empty Comments