Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Heru Irianto dan Keteladanan Sunyi di Muhammadiyah Karang Pilang

Iklan Landscape Smamda
Heru Irianto dan Keteladanan Sunyi di Muhammadiyah Karang Pilang
Musholla Da’wah Kedurus Surabaya. Foto: Pribadi/PWMU.CO
Oleh : Eka Maasyita Nabiilah Mahasiswa UMSURA
pwmu.co -

Muhammadiyah sering kali tumbuh dan bertahan bukan semata karena nama besar organisasi, melainkan oleh kerja-kerja sunyi para kadernya di tingkat cabang dan ranting. Salah satunya adalah Heru Irianto, pengurus Muhammadiyah di Cabang Karang Pilang–Ranting Kedurus, Kota Surabaya.

Pak Heru lahir di Surabaya pada 28 Mei 1964 dari keluarga sederhana. Sejak kecil, ia ditempa dalam lingkungan yang menanamkan nilai kedisiplinan dan religiusitas. Orang tuanya membiasakan jadwal harian yang teratur, menanamkan tanggung jawab, serta mendidik anak-anaknya agar tidak meninggalkan sholat lima waktu. Sepulang sekolah, Pak Heru kecil terbiasa membantu orang tua dan rajin mengaji.

Ketertarikannya pada dunia keagamaan tumbuh sejak dini. Karena kepandaiannya membaca Al-Qur’an dan kedisiplinannya sholat berjamaah di masjid, ia kerap diajak mengajari anak-anak mengaji. Dari sinilah benih pengabdian itu tumbuh—sebuah panggilan menjadi guru ngaji yang kelak mewarnai perjalanan hidupnya.

Seiring waktu, Pak Heru mulai aktif di Muhammadiyah. Sejak usia muda dan masih berstatus pelajar, ia sudah terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi. Tahun 1990 menjadi tonggak penting ketika ia tinggal di asrama Muhammadiyah. Di sana, ia ikut membantu aktivitas panti asuhan. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai pribadi yang rajin, cekatan, dan tidak pernah mengeluh meski harus membagi waktu antara sekolah dan pengabdian.

Pendidikan formal terakhir Pak Heru adalah SMA. Setelah lulus, ia menghadapi fase hidup yang tidak mudah. Melamar pekerjaan ke sana-sini belum langsung membuahkan hasil. Namun, kesabaran dan ketekunan menjadi modal utamanya. Hingga akhirnya, pada tahun 2014, ia diterima sebagai karyawan di SMK Muhammadiyah 2 Kota Surabaya.

Heru Irianto Takmir Mushola Da’wah Karang Pilang Surabaya.
Heru Irianto Takmir Mushola Da’wah Karang Pilang Surabaya. Foto: Pribadi/PWMU.CO

Di sekolah tersebut, Pak Heru dipercaya sebagai Koordinator Tata Usaha (TU). Selama bertugas, ia dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab, rapi dalam administrasi, dan tuntas dalam bekerja. Nyaris tidak pernah terdengar masalah dalam pelaksanaan tugasnya hingga akhirnya ia purna tugas. Meski sudah pensiun, pengabdiannya tidak ikut berhenti.

Penulis mengenal Pak Heru sejak masih bersekolah di SMK Muhammadiyah 2 Surabaya, ketika sekolah tersebut masih satu kompleks dengan SMP dan SMA Muhammadiyah di Jalan Kemlaten Baru, Karang Pilang. Sosoknya sederhana, mudah ditemui, dan selalu siap membantu siapa pun tanpa banyak bicara.

Kini, Pak Heru masih aktif sebagai pengurus Muhammadiyah Cabang Karang Pilang. Di wilayah yang masyarakatnya sangat majemuk—dengan mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) serta beragam latar belakang agama—Muhammadiyah Karang Pilang justru mampu berkembang secara sehat dan harmonis. Amal usaha di bidang pendidikan, dari TK hingga SMA/SMK, menunjukkan kemajuan yang signifikan dan menjadi pilihan favorit masyarakat.

Keunggulan ini tidak lepas dari strategi dakwah yang inklusif dan berorientasi mutu. Apalagi, di Kecamatan Karang Pilang tidak terdapat SMA Negeri sejak dulu, sehingga perguruan Muhammadiyah hadir sebagai alternatif utama pendidikan berkualitas. Namun lebih dari itu, keberhasilan ini juga ditopang oleh figur-figur penggerak seperti Pak Heru yang bekerja tanpa gaduh dan tanpa konflik.

Selain aktif di organisasi, Pak Heru juga mengabdikan diri sebagai takmir Musholla Da’wah di kawasan Bogangin III, Kedurus, Karang Pilang, Surabaya. Ia sekaligus menjadi imam musholla. Menjadi takmir bukan perkara ringan. Mengurus administrasi, merawat bangunan, hingga membina jamaah dilakukan dengan keikhlasan, sering kali tanpa imbalan materi yang sepadan. Namun, di situlah letak kepuasan batin seorang pejuang dakwah akar rumput.

Ada keunikan tersendiri dalam dinamika jamaah musholla yang dikelolanya. Jamaah diibaratkan seperti air laut—ada pasang dan surut. Di bulan-bulan biasa, jamaah sholat hanya berkisar empat hingga enam orang. Namun saat bulan Ramadan, musholla penuh di awal bulan, lalu perlahan berkurang hingga akhir Ramadan. Faktor demografis turut memengaruhi: banyak penduduk asli yang pindah, jamaah didominasi usia lanjut, dan generasi muda relatif sedikit.

Namun, semua itu tidak menyurutkan semangat Pak Heru. Baginya, dakwah bukan soal banyak atau sedikit jamaah, melainkan tentang istiqamah dan ketulusan. Ia tetap hadir, tetap melayani, dan tetap menjaga harmoni antarumat beragama di lingkungannya.

Di tengah sorotan terhadap tokoh besar dan elite organisasi, kisah Pak Heru Irianto mengingatkan kita bahwa Muhammadiyah sesungguhnya hidup melalui kerja-kerja senyap kader seperti dirinya. Tanpa sorak sorai, tanpa pamrih, tetapi dengan keteguhan yang menenangkan. Dari Karang Pilang, ia memberi pelajaran bahwa dakwah terbaik sering kali tumbuh dari keteladanan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu