Bila kita menatap laut lepas, mata akan dimanjakan oleh hamparan biru yang seolah tak berujung. Gelombang demi gelombang datang silih berganti, menepi ke pantai tanpa pernah berhenti.
Begitulah gambaran paling dekat untuk memahami nikmat Allah yang senantiasa mengalir dalam kehidupan manusia.
Belum selesai satu gelombang nikmat kita terima, datang lagi gelombang berikutnya. Dan sebelum sempat kita menghitung, nikmat lain kembali berdatangan, seakan tak memberi jeda.
Bayangan sederhana ini sesungguhnya mengandung pesan yang dalam. Bahwa nikmat Allah bukan sesuatu yang bisa dibatasi, diukur, apalagi disangkal. Allah menegaskan dalam firman-Nya:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Ayat ini seolah menegur manusia agar jangan pernah merasa cukup dalam menghitung nikmat, apalagi merasa tidak diberi.
Sebab, nikmat itu hadir setiap detik, dalam bentuk yang kadang tampak jelas, kadang samar, kadang juga tersembunyi dalam peristiwa yang awalnya tidak kita sukai.
Seorang ulama pernah berkata, “Nikmat Allah itu terbagi dua: yang dirasakan dan yang dilupakan.”
Nikmat yang dirasakan misalnya kesehatan, rezeki, keluarga, teman yang baik, atau udara segar yang kita hirup.
Sedangkan nikmat yang sering terlupakan adalah nikmat terhindar dari musibah, nikmat diberi kesempatan bertobat, atau nikmat kecil lain yang jarang kita sadari.
Bukankah saat ini kita masih bisa membaca, mendengar, dan bernafas dengan leluasa adalah nikmat besar yang tak ternilai?
Tak heran, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia sering baru menyadari nikmat setelah nikmat itu hilang. Sama seperti seseorang yang baru merasakan berharganya kesehatan saat ia sakit, atau berharganya waktu lapang ketika ia sudah sibuk.
Uniknya, nikmat juga bisa menjadi ujian. Allah SWT berfirman: “Dan Kami uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. Al-Anbiya: 35).
Artinya, bukan hanya musibah yang menguji kita, tetapi juga nikmat. Banyak orang yang kuat menghadapi kesusahan, tetapi justru goyah saat hidupnya lapang.
Saat miskin ia tekun berdoa, namun ketika kaya ia lalai. Saat sakit ia rajin mengingat Allah, tetapi saat sehat ia terlena.
Di sinilah pentingnya kesadaran, bahwa nikmat bukan hanya untuk dinikmati, melainkan juga dipertanggungjawabkan.
Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya bagaimana diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi).
Dalam kehidupan sehari-hari, contoh gelombang nikmat begitu nyata. Seorang ayah yang bekerja keras mencari nafkah pulang disambut oleh anak-anaknya dengan senyum riang. Itu nikmat.
Seorang ibu yang lelah mengurus rumah tangga namun masih diberi kekuatan untuk menunaikan shalat malam. Itu juga nikmat. Seorang mahasiswa yang masih diberi kesempatan belajar meski dalam keterbatasan ekonomi, itu pun nikmat.
Setiap kali kita menoleh ke sekitar, selalu ada alasan untuk bersyukur. Bahkan, musibah sekalipun bisa menyimpan nikmat.
Seorang yang kehilangan pekerjaan, mungkin justru menemukan jalan baru yang lebih baik. Seorang yang tertimpa sakit, bisa jadi lebih dekat kepada Allah. Nikmat memang tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan, tetapi ia selalu hadir dalam bentuk yang kita butuhkan.
Menyadari gelombang nikmat yang tak pernah henti, manusia seharusnya menjelma menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur.
Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tetapi diwujudkan dengan hati yang ridha, lisan yang memuji, dan perbuatan yang memanfaatkan nikmat pada jalan kebaikan.
Ketika sehat, gunakan untuk ibadah. Ketika kaya, gunakan untuk berbagi. Ketika punya waktu luang, manfaatkan untuk ilmu dan amal. Syukur adalah cara kita menjaga nikmat agar tidak berubah menjadi bencana.
Allah SWT menjanjikan dalam QS. Ibrahim: 7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Nikmat Allah bagaikan gelombang yang tiada henti. Datang silih berganti, menyapu pantai kehidupan kita tanpa pernah putus. Sayangnya, manusia seringkali lebih sibuk menghitung kekurangan daripada mensyukuri kelebihan. Padahal, semakin kita bersyukur, semakin Allah tambahkan nikmat itu.
Maka, mari belajar melihat hidup dengan kaca mata syukur. Apa pun yang kita miliki hari ini, sekecil apa pun bentuknya, sejatinya adalah lautan nikmat yang tak bertepi.
Tinggal bagaimana kita mengarungi lautan itu dengan perahu syukur, agar setiap gelombang nikmat yang datang menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (*)
*) Disarikan dari kanal Youtube LPCRPM PDM Kota Probolinggo






0 Tanggapan
Empty Comments