Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Bukan Mencari Hidup di Muhammadiyah : Makna dalam Mengisi Kemerdekaan

Iklan Landscape Smamda
Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Bukan Mencari Hidup di Muhammadiyah : Makna dalam Mengisi Kemerdekaan
Fathurrahim Syuhadi
pwmu.co -

Pesan KH. Ahmad Dahlan yang terkenal, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” awalnya disampaikan dalam konteks menggerakkan organisasi Muhammadiyah.

Namun jika dimaknai lebih luas, pesan ini sejalan dengan spirit mengisi kemerdekaan: pengabdian tulus untuk bangsa, bukan menjadikan kemerdekaan sebagai ajang mencari keuntungan pribadi.

Kemerdekaan yang kita raih pada 17 Agustus 1945 adalah amanah besar. Para pejuang tidak mengorbankan nyawa demi keuntungan pribadi, melainkan demi kemerdekaan bangsa dan kemuliaan generasi penerus.

Dalam konteks ini, mengisi kemerdekaan berarti menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini mengajarkan bahwa kerja sama yang benar adalah yang dilandasi niat tulus demi kebaikan, bukan demi keuntungan sepihak. Begitu pula dalam mengisi kemerdekaan yakni kita harus saling bahu-membahu membangun bangsa tanpa memanfaatkan posisi atau peluang untuk kepentingan pribadi.

Rasulullah Saw bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad)

Hadis ini selaras dengan pesan KH. Ahmad Dahlan yakni kita harus menghidupkan organisasi, lembaga, dan negara dengan memberi manfaat, bukan sekadar mengambil manfaat. Mengisi kemerdekaan adalah berbuat nyata, memberikan sumbangsih tenaga, pikiran, bahkan harta untuk kepentingan bersama.

Sayangnya, dalam realitas kini, kita masih menjumpai pihak-pihak yang menjadikan kemerdekaan sebagai sarana memperkaya diri. Kemerdekaan dijadikan ladang bisnis kekuasaan, bukan ladang pengabdian. Hal ini mengkhianati semangat para pejuang yang rela berkorban tanpa pamrih.

KH. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa berjuang harus didasari semangat memberi, bukan mengambil. Jika semangat ini dihidupkan, maka pembangunan bangsa akan berjalan lebih cepat dan merata.

Sebaliknya, jika kemerdekaan diisi dengan mental mencari keuntungan, kita akan kembali terjajah yaitu bukan oleh bangsa lain, tetapi oleh keserakahan dan moral yang rusak.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menghidupkan Muhammadiyah dalam konteks kebangsaan berarti menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara: kejujuran, amanah, kerja keras, keadilan, dan persaudaraan. Nilai-nilai ini harus menjadi fondasi dalam politik, ekonomi, pendidikan, dan semua sektor kehidupan.

Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momen refleksi: apakah kita sudah benar-benar menghidupkan bangsa ini dengan pengabdian? Atau justru menjadi beban dengan mencari hidup dari hasil perjuangan orang lain?

Allah mengingatkan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11)

Artinya, perubahan bangsa dimulai dari perubahan mental setiap warganya. Jika setiap orang menghidupkan semangat pengabdian, Indonesia akan benar-benar merdeka — lahir dan batin.

Sementara itu, Prof Dr Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah mengingatkan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka, masih ada stagnasi dan penyimpangan dari cita-cita pendiri bangsa. Oleh karena itu, pengisian kemerdekaan harus diwarnai dengan moral, persatuan, dan keadilan

Haedar Nashir juga menekankan bahwa kemajuan fisik saja tidak cukup. Negeri ini membutuhkan jiwa luhur — nilai-nilai Pancasila, agama, dan budaya — agar kemerdekaan tidak hanya soal bentuk tetapi juga makna

Mari kita hidup-hidupkan bangsa ini dengan amal nyata, sebagaimana KH. Ahmad Dahlan menghidupkan Muhammadiyah. Jadikan kemerdekaan sebagai ladang ibadah, bukan ladang keuntungan pribadi.

Amanah KH. Ahmad Dahlan bukanlah wacana kosong. Ia menjadi pengingat bahwa organisasi, lembaga, dan negeri ini mesti dihidupkan dengan semangat pengabdian. Mengisi kemerdekaan berarti menjadikan kemerdekaan sebagai ladang amal, menumbuhkan keadilan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjaga persatuan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu