Search
Menu
Mode Gelap

Hidup Lapang karena Syukur, Hidup Sempit karena Keluh

Hidup Lapang karena Syukur, Hidup Sempit karena Keluh
Foto: Muslim.sg
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti berhadapan dengan berbagai keadaan: lapang dan sempit, senang dan susah, berhasil dan gagal.

Pada titik inilah, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan sikap batin: bersyukur atau mengeluh. Keduanya sama-sama lahir dari hati, namun menghasilkan dampak yang sangat berbeda terhadap ketenangan jiwa dan kualitas iman seseorang.

Bersyukur akan mendekatkan kita kepada rida Allah Wa Ta’ala, sementara mengeluh tanpa batas dapat menyeret hati pada kegelisahan dan ketidakpuasan yang berkepanjangan.

Bersyukur bukanlah sekadar ucapan alhamdulillah di bibir, tetapi merupakan sikap hidup yang utuh dan menyeluruh. Para ulama menjelaskan bahwa syukur mencakup tiga dimensi utama:

Syukur dengan hati, yaitu menyadari sepenuhnya bahwa setiap nikmat—kecil maupun besar—berasal dari Allah Wa Ta’ala, bukan semata-mata hasil kecerdasan, kerja keras, atau kemampuan pribadi.

Syukur dengan lisan, yakni memperbanyak pujian kepada Allah, menyebut nikmat-Nya, serta menahan diri dari keluhan yang tidak perlu.

Syukur dengan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat yang diberikan untuk ketaatan, kebaikan, dan kemaslahatan, bukan untuk maksiat.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa syukur adalah sebab bertambahnya nikmat, bukan hanya nikmat materi, tetapi juga ketenangan batin, keberkahan waktu, kesehatan, dan kelapangan hati.

Sering kita jumpai seseorang yang secara materi hidup sederhana, tetapi wajahnya tenang dan hatinya lapang.

Sebaliknya, ada pula yang bergelimang harta, namun mudah gelisah, mudah marah, dan merasa hidupnya selalu kurang. Perbedaannya bukan pada jumlah nikmat, melainkan pada kemampuan bersyukur.

Orang yang bersyukur akan melihat apa yang ia miliki, sementara orang yang gemar mengeluh hanya fokus pada apa yang belum ia dapatkan.

Bahaya Mengeluh

Mengeluh sesekali sebagai ungkapan lelah adalah hal yang manusiawi. Namun, mengeluh secara berlebihan dan terus-menerus mencerminkan ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah Wa Ta’ala. Sikap ini tidak akan menyelesaikan masalah, justru menimbulkan berbagai dampak negatif, di antaranya melemahkan hati dan semangat, menghilangkan keberkahan nikmat, menjadikan hidup terasa sempit meskipun sebenarnya lapang

Allah Wa Ta’ala mengingatkan: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Yusuf: 87)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mengeluh yang berujung pada putus asa adalah tanda hati yang jauh dari pengharapan kepada Allah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Inilah prinsip hidup seorang mukmin:

  • Mendapat nikmat → bersyukur
  • Mendapat musibah → bersabar

Keduanya sama-sama bernilai ibadah.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah teladan utama dalam hal syukur dan kesabaran. Beliau menjalani kehidupan yang sangat sederhana.

Bahkan diriwayatkan bahwa beliau pernah menahan lapar selama beberapa hari, tidur di atas tikar kasar hingga membekas di punggungnya. Namun, tidak pernah kita dapati beliau mengeluh atau menyalahkan keadaan.

Sebaliknya, beliau memperbanyak doa, memperkuat tawakal, dan terus memuji Allah dalam setiap kondisi. Ketika diuji, beliau bersabar. Ketika diberi kelapangan, beliau semakin rendah hati dan bersyukur.

Hidup ini bukan tentang seberapa banyak nikmat yang kita miliki, tetapi seberapa besar rasa syukur yang hidup di dalam hati.

Dengan syukur, hidup yang sederhana terasa cukup. Tanpa syukur, hidup yang berlimpah pun terasa sempit.

Mari kita latih diri untuk mengurangi keluhan, memperbanyak syukur, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah Wa Ta’ala. Sebab, syukur mengundang ridha-Nya, dan ridha Allah adalah sumber ketenangan sejati.

Semoga Allah Wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, kuat dalam bersabar, dan dijauhkan dari sifat suka mengeluh.

Yaa Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat-Mu kami hidup, dan dengan kehendak-Mu kami mati. Kepada-Mu kebangkitan seluruh makhluk.

Yaa Allah, kami memohon kekuatan dari-Mu atas kelemahan kami, kekayaan dari-Mu atas kefakiran kami, serta kearifan dan ilmu dari-Mu atas kejahilan kami. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments