Bukan langsung tentang dua pria itu. Tapi ini tentang hidup. Ingin yang makarim atau yang kamil? Jika diartikan; hidup dengan kemuliaan atau hidup dengan kesempurnaan?
Keduanya pilihan baik. Mencapai makarim/kemuliaan bukan mustahil meskipun hanya Tuhan yang punya semua itu.
Pun kamil/kesempurnaan. Punya standar kriteria yang sangat tinggi, manusia yang ingin mencapai makarim dan kamil pasti dicoba dengan ujian tak terkira.
Seperti yang didera Mr. Makarim dan Mr. Kamil. Dalam hitungan dunia, yang diderita itu tampak sangat menghancurkan hidup mereka lahir batin.
Tetapi sangat mungkin di situlah Tuhan memberikan Mr. Makarim sebuah kemuliaan dan Mr. Kamil sebuah kesempurnaan.
Kita pun. Bedanya, sanggupkah kita menjadi manusia yang dicontohkan Tuhan sebagai peraih kedua hal itu dengan berperan di posisi Mr. Makarim dan Mr. Kamil? Belum tentu.
Saya sungguh mempercayai bahwa Tuhan selalu bekerja mencintai makhluk-Nya. Sekalipun salah benar sudah ditimpukkan manusia yang lain kepada kedua manusia ini.
Rahasia besar di balik itu tak semua akan dibuka-Nya wantah hingga setiap orang mendulang hikmah yang sama. Tapi Dia memberi kita kuasa untuk menjalani.
Renung saya, jika akhir hidup hanya ingin ditutup dengan husnul khatimah, setiap manusia berpeluang meraih makarim dan kamil. Pun Mr. Makarim dan Mr. Kamil.
Semoga Tuhan mencobakan saya dengan ujian yang bisa saya terima.
Ampuni saya ya Allah. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments