Dalam upaya memperdalam dan memperluas pemahaman keislaman, jamaah Masjid Al-Falah Jalen, Genteng, Banyuwangi, mengikuti kajian kitab Nashoihul Ibad selama bulan Ramadan 1447 H. Kajian dilaksanakan setiap hari seusai shalat Subuh dan diasuh langsung oleh Ustadz Taslim, M.Pd., Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Genteng.
Kajian dimulai pada Rabu, 1 Ramadan 1447 H (18/2/2026) dan akan berlangsung hingga menjelang Idulfitri. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diisi kultum (kuliah tujuh menit) secara bergiliran, Ramadan kali ini Takmir Masjid bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jalen berinisiatif menghidupkan kembali tradisi kajian kitab secara utuh.
Zaenul Arifin, Ketua Majelis Dakwah PRM Jalen, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya melanjutkan tradisi yang pernah dirintis pendiri Muhammadiyah Ranting Jalen, KH Mu’arif, yang selama bertahun-tahun mengisi Ramadan dengan kajian kitab.
“Kami ingin menghidupkan kembali kajian kitab secara menyeluruh agar jamaah memperoleh tambahan ilmu dari satu referensi yang utuh dan mendalam,” ujarnya.
Nasihat yang Berisi Dua Perkara
Pada pertemuan perdana, Ustadz Taslim memaparkan pengantar tentang kitab Nashoihul Ibad. Kitab ini merupakan karya Ibnu Hajar al-Asqalani yang kemudian disyarahi oleh Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Indonesia yang diakui dunia Islam.
Ia menjelaskan bahwa kitab tersebut berisi kumpulan nasihat pilihan bagi para hamba Allah. Struktur pembahasannya disusun bertahap: Bab I membahas tema umum, Bab II memuat dua pokok bahasan, Bab III tiga pokok bahasan, Bab IV empat pokok bahasan, dan seterusnya.
Pada hari pertama, kajian membahas “Nasihat yang Berisi Dua Perkara”.
Pertama, tentang iman dan kepedulian sosial. Ustadz Taslim menyampaikan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa tidak ada dua perkara yang melebihi keutamaannya selain iman kepada Allah SWT dan memberi manfaat bagi kaum muslimin.
“Iman menjadi syarat utama diterimanya amal dan jalan menuju surga. Namun setelah itu, seseorang harus mampu memberi manfaat, bukan sekadar menerima manfaat,” jelasnya.
Kedua, tentang pentingnya dekat dengan ulama dan memperhatikan nasihat. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW agar umat bergaul dengan ulama dan mendengarkan perkataan para hukama (ahli hikmah), karena Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana tanah gersang menjadi subur oleh air hujan.
Menurutnya, hikmah adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan hukama adalah orang-orang yang memiliki kebijaksanaan, memahami kebesaran Allah, serta tepat dalam ucapan dan perbuatan. Adapun ulama adalah orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.
Setelah hampir 30 menit pemaparan, kajian ditutup dan akan dilanjutkan dengan pembahasan bab berikutnya pada pertemuan selanjutnya.
Kajian rutin ini diharapkan menjadi ruang penguatan spiritual dan intelektual jamaah selama Ramadan, sekaligus menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang telah lama menjadi ciri khas Masjid Al-Falah Jalen. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments