Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hikmah Karakter Malaikat di Balik Dua Sisi Kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Hikmah Karakter Malaikat di Balik Dua Sisi Kehidupan
Foto: stockcake.com
Oleh : Prof. Triyo Supriyatno Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
pwmu.co -

Dalam khazanah Islam, malaikat adalah makhluk gaib yang Allah ciptakan dari cahaya untuk menjalankan perintah-Nya.

Mereka tidak pernah mendurhakai apa yang diperintahkan dan senantiasa patuh. Namun, al-Qur’an dan hadis memberikan gambaran yang beragam tentang karakter malaikat: ada yang lembut penuh kasih, ada pula yang keras dan tegas.

Perbedaan ini bukan kontradiksi, melainkan refleksi dari keluasan hikmah Allah dalam mengatur kehidupan manusia.

Al-Qur’an menyebut adanya malaikat yang menyampaikan kabar gembira kepada hamba yang taat: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fussilat [41]: 30).

Malaikat dalam ayat ini tampil dengan wajah penuh kelembutan, memberi rasa aman, menenangkan jiwa, serta menghapus ketakutan.

Namun, di sisi lain, ada malaikat yang digambarkan amat keras terhadap orang kafir dan durhaka. Al-Qur’an menegaskan: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Al-Tahrim [66]: 6). Inilah potret malaikat Zabaniyah, para penjaga neraka, yang bertugas menghukum tanpa kompromi.

Riwayat Hadis sebagai Ilustrasi

Sebuah riwayat hadis dari al-Bukhari dan Muslim menceritakan kisah ketika Rasulullah saw menjenguk seorang Muslim yang sedang sakit. Beliau berkata, “Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahannya dengan itu.”

Dalam konteks ini, malaikat berperan lembut: mereka mencatat amal baik, mendoakan ampunan, dan menghadirkan rahmat Allah bagi hamba yang sabar.

Berbeda dengan kisah malaikat maut dalam riwayat lain. Ketika malaikat maut datang mencabut nyawa orang beriman, ia tampil dengan wajah bersinar, membawa kabar bahagia. Sebaliknya, saat mendatangi orang kafir atau durhaka, ia hadir dengan rupa yang menakutkan.

Hadis riwayat Ahmad menyebutkan bahwa malaikat membawa kain kafan dari surga bagi orang beriman, dan kain kafan dari neraka bagi orang kafir. Inilah perwujudan “kasar dan lembut” dalam tugas malaikat, sesuai dengan kondisi manusia yang dihadapinya.

Malaikat dan Naza‘ Seseorang

Momen naza‘ (sakaratul maut) adalah saat paling genting dalam kehidupan manusia. Di sinilah wajah malaikat yang “lembut” atau “kasar” tampak nyata. Bagi orang beriman yang menjaga tauhid, malaikat akan datang dengan kelembutan, menenteramkan jiwa, bahkan memberikan isyarat surga.

Al-Qur’an menggambarkan: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. al-Fajr [89]: 27–30).

Namun, bagi orang yang ingkar, malaikat datang dengan kasar, mencabut ruh bagaikan bulu basah yang ditarik dari dahan berduri.

Allah SWT berfirman: “Maka alangkah dahsyatnya apabila malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (seraya berkata): ‘Rasakanlah siksa neraka yang membakar!’” (QS. al-Anfal [8]: 50).

Kisah Sahabat: Umar bin Khattab

Dalam catatan sejarah, Umar bin Khattab ra adalah sosok sahabat yang terkenal keras dalam menegakkan kebenaran, tetapi hatinya lembut di hadapan Allah.

Menjelang wafatnya setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’, Umar menangis lirih. Ia berkata: “Andai saja aku keluar dari dunia ini dengan selamat tanpa membawa dosa dan tanpa membawa pahala, itu sudah cukup bagiku.”

Ketika itu, ia meminta putranya, Abdullah bin Umar, agar meletakkan pipinya di tanah. Umar ingin wafat dalam keadaan paling rendah hati di hadapan Allah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kisah ini menunjukkan bahwa pada momen naza‘, meski Umar dikenal “keras” di dunia, ia menyambut kematian dengan kelembutan iman.

Para malaikat, sebagaimana janji Allah, akan mendatangi jiwa-jiwa yang tenang seperti itu dengan wajah penuh cahaya, bukan dengan kekerasan.

Kisah Umar memberi pelajaran bahwa “keras” dan “lembut” bukan sifat yang saling bertentangan, melainkan harus hadir dalam kadar yang tepat.

Keras terhadap kebatilan, tetapi lembut dalam keimanan. Dan saat ruh diambil, yang menentukan adalah bagaimana seseorang menjaga tauhid dan amalnya.

Dua Sisi yang Saling Melengkapi

Mengapa ada malaikat yang lembut dan ada yang keras? Hikmahnya adalah agar manusia menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berisi rahmat, tetapi juga azab; tidak hanya janji, tetapi juga ancaman.

Islam bukan sekadar agama kasih sayang, melainkan juga agama keadilan. Jika malaikat hanya lembut, manusia mungkin terlena. Jika hanya keras, manusia bisa putus asa. Maka Allah menyeimbangkan keduanya agar manusia hidup dengan rasa cinta sekaligus takut kepada-Nya (khauf wa raja’).

Konsep ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah tentang Islam sebagai agama rahmatan lil-‘alamin.

Rahmat bukan berarti tanpa batas, melainkan juga meliputi tegaknya hukum dan keadilan. Malaikat yang lembut mencerminkan rahmat kasih sayang, sedangkan malaikat yang keras mencerminkan rahmat dalam bentuk penjagaan terhadap kebenaran.

Relevansi bagi Kehidupan Umat

Dalam kehidupan sosial, umat Islam perlu meneladani sifat malaikat ini dalam konteks yang tepat. Ada saatnya dakwah disampaikan dengan kelembutan: menenangkan hati, merangkul yang lemah, dan menghibur yang putus asa. Namun, ada pula saatnya dakwah harus tegas: melawan kezaliman, menegakkan kebenaran, dan meluruskan penyimpangan.

Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid juga mempraktikkan keseimbangan ini. Di satu sisi, Muhammadiyah dikenal dengan pendekatan lembut: pelayanan pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Di sisi lain, Muhammadiyah tampil tegas terhadap segala bentuk penyimpangan akidah, bid‘ah, dan ketidakadilan sosial. Inilah wujud nyata meneladani “malaikat yang lembut dan kasar” dalam dakwah dan amal usaha.

Karakter Malaikat Bagi Manusia

Malaikat dengan karakter keras maupun lembut sejatinya adalah cermin dari sifat Allah yang Maha Adil dan Maha Penyayang. Mereka bekerja bukan dengan hawa nafsu, melainkan sepenuhnya dalam ketaatan.

Bagi orang beriman, keberadaan malaikat yang lembut adalah kabar gembira. Sedangkan gambaran malaikat yang keras adalah peringatan agar tidak lengah.

Umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, perlu mengambil hikmah dari kedua sisi ini. Dalam berdakwah, jangan hanya lembut hingga melupakan ketegasan; jangan pula hanya keras hingga menghilangkan kasih sayang. Keseimbangan adalah kunci.

Dengan itu, dakwah Muhammadiyah akan semakin kokoh sebagai pancaran Islam yang mencerahkan, menebar rahmat, sekaligus menegakkan keadilan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu