Kapan saja, tema ”Urgensi Membaca dan Menulis” penting kita bahas. Terutama, di saat kita sedang berada di suasana peringatan Nuzulul Quran yaitu di 17 Ramadan.
Terlebih lagi, karena ada sejumlah berita yang sangat memprihatinkan terkait aktivitas membaca. Prihatin di Indonesia, bahkan juga di Amerika Serikat. Apa itu?
Masalah Kita
Minat baca warga Indonesia, bagaimana? Bacalah ini: Indonesia Darurat Literasi: Gadget Merajalela, Minat Baca Tergerus Sejak Dini. Demikian, judul sebuah tulisan di https://pasca.unair.ac.id edisi 27 Juli 2025. Bahwa, menurut data UNESCO, Indonesia menempati posisi kedua terbawah dalam literasi global. Minat baca masyarakatnya, hanya 0,001% (dari 1000 orang hanya satu yang suka membaca). Di sisi lain, berbagai platform media sosial justru menjadi “bacaan utama” sehari-hari.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam Airlangga Forum bertajuk “Literasi Anak dan Tantangan Era Digital”. Bagaimana solusinya? Menurut tulisan di situs milik Sekolah Pascasarjana Unair itu, usaha untuk mengembalikan Minat Baca itu Tanggung Jawab Bersama.
Krisis minat baca di Indonesia bukan hanya soal keterbatasan buku, tetapi masalah sistemik yang mencakup kebijakan pendidikan, pola pengasuhan, dan gaya hidup digital.
Jika tidak ditangani sejak dini, Indonesia akan kehilangan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan berbudaya baca.
Lalu, bagaimana performa mahasiswa di Amerika Serikat (AS)? Bacalah ini: Banyak Gen Z Masuk Kuliah Tidak Bisa Baca, Dosen Sampai Nyerah. Intinya, ada laporan di media Fortune yang berasal dari wawancara kepada sejumlah profesor di kampus ternama. Terungkap, ada fenomena tidak biasa di kampus AS, yakni kemampuan membaca mahasiswa Gen Z yang sangat rendah.
Masalah ini bahkan membuat para dosen menyerah. Mereka telah menurunkan standar akademiknya. Terkait, mereka mengaku kesulitan memberikan tugas membaca sebab kemampuan mahasiswa untuk memahami teks dinilai sudah jauh sangat menurun.
Para mahasiswa Gen Z itu tidak mampu membaca sebuah kalimat. Fakta ini membuat seorang dosen yaitu Prof. Jessica Hooten Wilson menghapus tugas membaca di luar kelas. Sebagai gantinya dia mengadakan membaca bersama di dalam kelas baris per baris namun ternyata tidak juga efektif.
“Saya merasa harus membaca keras-keras karena tidak ada yang membaca malam sebelumnya,” kata profesor sastra itu.
Hal yang sama dialami profesor lain, Timothy O’Malley. Guru Besar di bidang teologi ini bilang, bahwa tugas membaca 25-40 halaman yang pernah dilakukannya di masa lalu dianggap tidak bisa dilakukan saat ini. Mereka, mahasiswa yang diberi tugas itu, sering kali tidak tahu harus bagaimana (www.cnbcindonesia.com edisi 27 Februari 2026).
Siapa gen Z? Gen Z merupakan generasi yang lahir pada kisaran tahun 1995 sampai 2010. Gen Z adalah generasi yang masih muda dan tidak pernah mengenal kehidupan tanpa teknologi sejak lahir. Mereka menjadi generasi pertama yang tumbuh dengan smartphone dan media sosial (https://umsida.ac.id/ 25 September 2023).
Utama dan Kuat
Atas situasi tak menggembirakan ini, mari menunduk. Dalam Islam, Nuzulul Quran adalah peristiwa agung dalam sejarah kemanusiaan, yaitu turunnya lima ayat Al-Qur’an yang pertama. Itu petunjuk hidup yang pertama dan utama.
Peristiwa itu terjadi pada malam yang mulia di bulan Ramadhan, sebagaimana dijelaskan ayat ini: ”… bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil) ……” (QS Al-Baqarah [2]: 185). ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS Al-Qadr [97]: 1).
Turunnya Al-Qur’an di Gua Hira pada saat Muhammad saw menyengaja diri untuk tafakkur, adalah momentum spiritual. Juga, merupakan peristiwa intelektual yang luar biasa. Kejadian ini harus kita simak secara serius.
Cermatilah lima ayat pertama dari Allah, QS Al-Alaq [96]: 1-5, ini:
”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (ayat 1).
”Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (ayat 2).
”Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” (ayat 3).
”Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (baca-tulis)” (ayat 4).
”Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (ayat 5).
Dari wahyu pertama yang turun kepada Muhammad saw di Gua Hira itu, tampak bahwa yang mengawali risalah Islam adalah perintah membaca: Iqra’. Inilah fondasi peradaban Islam: Membaca. Bacalah ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (ayat qauliyah) maupun yang tak tertulis berupa alam raya dan semua kejadian di dalamnya (ayat kauniyah).
Perhatikan, firman Allah tidak diawali dengan perintah shalat, puasa, zakat, atau haji. Juga, tidak dimulai dengan perintah terkait kekuasaan, perang, atau harta. Perintah yang pertama adalah membaca.
Pasti, hal ini punya maksud luar biasa. Bacalah apapun termasuk membaca diri sendiri, membaca fenomena alam, membaca realitas sosial, membaca kisah atau sejarah di masa lalu, dan lain-lain. Menarik, dalam rangkaian lima ayat pertama itu disebutkan tentang aktivitas baca-tulis (baca QS Al-‘Alaq [96]: 4). Ini adalah isyarat kuat tentang pentingnya menulis. Ini, petunjuk bahwa membaca dan menulis adalah dua sisi ilmu yang saling melengkapi.
Keberadaannya seperti dua muka dari sebuah mata uang. Hasil membaca tanpa ditulis akan mudah hilang. Sementara, hasil menulis tanpa membaca sebelumnya akan hambar isinya.
Nuzulul Quran, sejatinya, semacam pintu bagi lahirnya masyarakat literasi. Risalah yang dibawa Rasul Saw menempatkan literasi sebagai pokok peradaban. Apa literasi? Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis.
Lalu, apa yang terjadi kemudian? Para Sahabat Nabi Saw segera merespons. Mereka menghafal Al-Qur’an serta menuliskannya di berbagai media yang mungkin (seperti pelepah kurma, dan lain-lai). Tradisi literasi ini terus berkembang hingga melahirkan generasi ulama, ilmuwan, dan penulis besar dalam sejarah Islam.
Di kemudian hari, dunia pernah menyaksikan berdirinya perpustakaan-perpustakaan megah dan pusat-pusat ilmu. Ada Baitul Hikmah di Baghdad – Irak yang berdiri pada masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786–809 M).
Selain fungsi utamanya sebagai perpustakaan, di dalamnya juga ada biro penerjemahan, observatorium, ruang administrasi, dan tempat tinggal ilmuwan.
Ada Perpustakaan Islam Cordoba, yang dirintis oleh Abd ar-Rahman II yaitu pemimpin Cordoba di Al-Andalus pada 822-852. Namun, Khalifah Al-Hakam II (pemimpin pada 961-976 M) adalah sosok yang membawa perpustakaan ini ke level yang sangat maju. Ada lagi, Perpustakaan Al-Qarawiyyin yang didirikan pada 859 M di Fez, Maroko. Juga, Perpustakaan Khalifah Fatimiyah – Kairo (909-1171 M).
Selain yang telah disebut, banyak perpustakaan lain yang juga tak kalah penting. Di luar itu, tokoh-tokoh ilmuwan Muslim, pada sebuah masa turut memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang ilmu.
Di bidang Astronomi, misalnya, terdapat al-Battānī yang menulis karya penting seperti Kitab Zij aş-Şabi dan mendirikan observatorium Astronomi. Dalam bidang kedokteran, Ibn Sīnā menulis kitab al-Qanun fi at-Tibb yang menjadi referensi penting dalam dunia kedokteran Barat.
Di bidang Matematika, Muhammad Ibn Mūsā al-Khawārizmi menciptakan aljabar dan mengembangkan teori-teori yang masih digunakan hingga saat ini. Selain itu, ada al-Hasan Ibn al-Haisam yang memberikan kontribusi dalam bidang optik.Juga, Ibn Yünus yang mengembangkan teori fisika dan astronomi (https://pusatstudi.umy.ac.id/cisic/integrasi-keilmuan-dalam-peradaban-islam-menurut-prof-dr-h-syamsul-anwar-ma/).
Kesemua itu, menunjukkan bahwa semangat Iqra’ tidak berhenti pada aspek membaca saja, tetapi berkembang menjadi riset. Hasilnya, ditulis. Kedua aktivitas yang bertemali itu, membaca dan menulis, kini kita kenal sebagai literasi.
Spirit membaca dan menulis juga tampak dalam kehidupan para ulama Indonesia. Hamka, sekadar menyebut satu contoh. Dia yang pendidikan formalnya tak sampai lulus SD, tapi memiliki karya tulis lebih dari seratus judul buku/kitab. Adapun puncak keulamaan dan kepenulisannya adalah Tafsir Al-Azhar yang masyhur itu.
Tentu, apa yang dihasilkan Hamka tak akan pernah terwujud jika Hamka tak aktif membaca dan menulis. Hamka tak akan punya ilmu dan/atau gagasan untuk ditulis jika tak suka membaca. Hamka tak akan punya karya yang bermanfaat dan berguna bagi masyarakat luas (bahkan sampai ke negeri lain) jika pemikirannya tak ditulis.
Bersama, Aktif!
Peristiwa Nuzulul Quran seharusnya menggerakkan kita untuk melakukan refleksi: Apakah kita sudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan harian? Apakah menulis telah menjadi amal jariyah yang ringan kita jalankan?
Memang, akan selalu ada ujian. Berikut ini, fenomena umum di era digital. Bahwa, sumber bacaan melimpah. Hanya saja, kita mudah membaca banyak sumber tapi hanya sekilas.
Tentu, yang seperti ini, tak bisa menelaah secara serius. Hal lain, kita gemar berbagi kutipan tetapi jarang melahirkan tulisan yang utuh. Padahal, peradaban besar dibangun oleh teks yang berisi gagasan baru dan argumentatif.
Kembalilah kepada Al-Qur’an. Mari Kitab Suci ini kita baca serta tadabburi. Kemudian, inspirasi yang berasal darinya segera ditulis dan dipublikasikan.
Terakhir, jadilah pihak yang memuliakan Al-Qur’an dengan cara aktif membaca dan memahaminya. Dengan cara ini, insya Allah juga akan memuliakan aktivitas menulis. Keduanya, membaca dan menulis, adalah ibadah yang bisa berbuah berupa kebermanfaatan bagi sesama dalam bingkai rida Allah.
Banyak membacalah, agar pikiran kita terus segar dan ilmu bertambah. Banyak menulislah (kemudian dipublikasikan), supaya masyarakat dapat memanfaaatkan ilmu di dalamnya. Banyak menulislah, yang insya Allah bernilai sebagai amal jariyah.
Sungguh, tulisan adalah jejak yang bisa melampaui usia si penulis. Artinya, tulisan menjadi amal yang terus mengalir pahalanya. Alhasil, mari aktif dalam gerakan literasi dalam berbagai bentuknya. Rajin membacalah dan aktif menulislah. Semoga dengan aktivitas itu, kita bisa turut menyegerakan berakhirnya musibah berupa darurat literasi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments