Ustaz Abu Qosim menyampaikan ceramah mendalam di Masjid Al Ishlah Al Irsyad, Kota Pasuruan, Jawa Timur pada Senin (25/8/2025). Dalam tausiyahnya, Ustaz Abu Qosim membahas pentingnya ketaatan kepada ajaran Allah, terutama dalam menghadapi tantangan dan cobaan, serta pentingnya menjaga hubungan silaturahmi.
Menurut Ustaz Abu Qosim, ada sebagian umat yang awalnya berharap agar Allah menurunkan ayat tentang perang, tetapi ketika perintah itu benar-benar turun, mereka justru dilanda ketakutan.
Hal ini bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad saw yang melarang umatnya berharap bertemu dengan musuh, namun jika pertempuran terjadi, mereka tidak boleh mundur karena mundur dari pertempuran adalah salah satu dosa besar.
Ustaz Abu Qosim menegaskan, menolak ayat-ayat Allah dapat berakibat pada kehidupan yang penuh kehinaan dan tanpa harga diri.
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُوْرَةٌ ۚفَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ مُّحْكَمَةٌ وَّذُكِرَ فِيْهَا الْقِتَالُ ۙرَاَيْتَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يَّنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِۗ فَاَوْلٰى لَهُمْۚ
Orang-orang mukmin Madinah berkata: “Alangkah baiknya sekiranya diturunkan sebuah surah Al-Qur’an yang jelas tentang perintah perang.” Wahai Muhammad, ketika surah Al-Qur’an yang jelas tentang perintah perang diturunkan, kamu saksikan orang-orang munafik itu memandang kamu dengan kebingungan karena takut mati. Seharusnya yang lebih patut mereka lakukan (QS Muhammad (47) : 20)
طَاعَةٌ وَّقَوْلٌ مَّعْرُوْفٌۗ فَاِذَا عَزَمَ الْاَمْرُۗ فَلَوْ صَدَقُوا اللّٰهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۚ
adalah taat dan menyambut secara baik perkara yang telah diperintahkan oleh Allah. Bila orang-orang itu jujur kepada Allah, niscaya menaati perintah perang itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad (47) : 21)
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ
Wahai kaum munafik, jika kalian menjauhkan diri dari agama Allah, tentulah kalian akan melakukan kedurhakaan kepada Allah di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim. (QS Muhammad (47) : 22)
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa orang-orang yang menolak kebenaran adalah mereka yang hatinya berpenyakit. Perbuatan dosa dapat dianggap sebagai “kerusakan di muka bumi”.
Mereka bahkan dapat berbuat kerusakan tanpa menyadarinya karena perbuatannya dihiasi oleh setan, sehingga yang salah terasa benar dan yang sesat terasa seperti hidayah. Mereka yang menolak kebenaran itu juga dikatakan Allah telah dibuat tuli pendengaran dan buta mata hatinya.
Perjuangan dan Hikmah di Balik Peperangan
Ustaz Abu Qosim kemudian menyoroti sejarah perjuangan umat Islam. Dia menjelaskan bahwa saat di Mekah, umat Islam dilarang berperang karena jumlah mereka sedikit dan banyak di antara mereka yang memiliki hubungan kekerabatan dengan orang kafir.
Namun, setelah hijrah ke Madinah dan jumlah mereka bertambah, Allah SWT mengizinkan mereka untuk berperang sebagai respons atas penindasan, pengusiran, dan perampasan harta yang mereka alami.
Dalam perang pertama, Perang Badar, meskipun kalah dalam jumlah dan senjata, Nabi Muhammad saw dan pasukannya meraih kemenangan berkat pertolongan Allah yang mengirimkan malaikat.
Kemenangan ini, dan kemenangan-kemenangan selanjutnya, membuktikan kebenaran Islam sehingga banyak orang berbondong-bondong masuk Islam.
Ustaz Abu Qosim juga mencontohkan fenomena terkini di mana banyak orang di Inggris masuk Islam setelah melihat ketabahan umat Islam yang menghadapi cobaan dengan kesabaran.
Dia juga membandingkan nilai kenikmatan duniawi dengan kenikmatan iman. Dengan mengutip sebuah hadis, ia menyebutkan bahwa dua rakaat salat sunnah sebelum subuh lebih berharga daripada dunia dan segala isinya, menunjukkan betapa berharganya kenikmatan iman yang hanya diberikan kepada orang-orang beriman.
Dosa Memutuskan Tali Persaudaraan
Pada bagian akhir ceramahnya, Ustaz Abu Qosim menekankan bahaya memutuskan tali persaudaraan atau silaturahmi.
Menurutnya, perbuatan ini merupakan bagian dari kerusakan di muka bumi dan bisa menjadi akibat dari penyakit hati. Mereka yang memutuskan silaturahmi akan dilaknat oleh Allah, dijauhkan dari rahmat-Nya, dan tidak akan masuk surga.
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ
Wahai kaum munafik, jika kalian menjauhkan diri dari agama Allah, tentulah kalian akan melakukan kedurhakaan kepada Allah di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim. (QS Muhammad (47) : 22)
Dia mengakhiri ceramahnya dengan mengisahkan sebuah hadis qudsi dari Abu Hurairah tentang pentingnya menjaga hubungan kekerabatan.
Hadis tersebut menceritakan bahwa tali persaudaraan (Rahim) berdiri dan bergelantungan pada Arsy Allah, memohon perlindungan agar tidak diputuskan.
Hadis tentang Rahim yang bergelantungan di Arsy Allah adalah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang berisi bahwa Rahim berkata: “Barang siapa menyambungku, Allah akan menyambungnya; barang siapa memutuskanku, Allah akan memutuskannya”.
Hadis ini menekankan bahwa Allah akan memberikan balasan yang setimpal kepada orang yang menjaga hubungan kekerabatan dan memutusnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments