Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hisab dan Rukyat Sama-Sama Benar, Nabi Memilih yang Lebih Mudah

Iklan Landscape Smamda
Hisab dan Rukyat Sama-Sama Benar, Nabi Memilih yang Lebih Mudah
Ustaz Ach Fawaid. Foto: Istimewa
Oleh : Ustaz Ach Fawaid, S.Hum Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah Pamekasan
pwmu.co -

Belakangan ini kembali ramai perbincangan tentang penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri. Ada pernyataan yang beredar dari sebagian tokoh bahwa orang yang tidak mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal Ramadan dan Syawal dihukumi haram.

Di saat yang sama, sebagian kalangan juga menuduh bahwa organisasi yang berbeda dengan pemerintah dianggap tidak taat kepada ulil amri, bahkan dituduh tidak mengikuti hadis Nabi tentang rukyat.

Tuduhan seperti ini tentu perlu dijawab dengan tenang, jernih, dan ilmiah. Sebab dalam tradisi keilmuan Islam, persoalan penentuan awal bulan Hijriyah bukan perkara baru. Ia telah menjadi bagian dari khazanah fikih yang panjang, dengan berbagai metode yang semuanya memiliki dasar.

Memahami Ulil Amri dengan Tepat

Allah memerintahkan umat Islam untuk taat kepada ulil amri. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)

Para ulama menjelaskan bahwa ulil amri memiliki dua dimensi:

1. Ulil amri dalam urusan pemerintahan (pemimpin negara).

2. Ulil amri dalam urusan agama (para ulama dan ahli ilmu).

Karena itu, ketaatan kepada ulil amri dalam agama tidak bisa dilepaskan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ulama sejak dahulu menegaskan kaidah besar dalam Islam:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)

Artinya, ketaatan dalam Islam bukanlah ketaatan buta, tetapi ketaatan yang selalu terikat dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, jika ada yang meminta Muhammadiyah untuk taat kepada pemerintah, maka Muhammadiyah pun dengan penuh hormat mengajak semua pihak untuk bersama-sama taat kepada Rasulullah dalam memahami metode penentuan awal bulan Hijriyah.

Islam Menghendaki Kemudahan, Bukan Kesulitan

Al-Qur’an ketika menjelaskan tentang puasa Ramadan menyampaikan sebuah prinsip besar dalam agama ini:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini bukan sekadar penjelasan tentang puasa, tetapi juga menggambarkan watak dasar syariat Islam. Islam datang bukan untuk mempersulit manusia, tetapi untuk memudahkan kehidupan mereka.

Prinsip ini juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw dalam banyak hadis. Di antaranya:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa ketika Nabi dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama dibolehkan, beliau memilih yang lebih mudah, selama tidak mengandung dosa. Ini menunjukkan bahwa kemudahan adalah bagian dari ruh syariat.

Hisab dan Rukyat Sama-Sama Diakui dalam Fikih

Dalam persoalan penentuan awal bulan Hijriyah, para ulama sejak dahulu mengenal dua pendekatan utama:

1. Rukyat (melihat hilal)

2. Hisab (perhitungan astronomi)

Keduanya tidak muncul dari ruang kosong. Keduanya lahir dari ijtihad ulama dalam memahami hadis Nabi:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama memahami hadis ini secara rukyat langsung, sementara sebagian ulama lain memahami bahwa hisab astronomi dapat membantu memastikan kemungkinan terlihatnya hilal.

Karena itu, dalam literatur fiqih klasik hingga modern, hisab dan rukyat sama-sama memiliki tempat. Keduanya adalah hasil ijtihad yang sah dalam tradisi keilmuan Islam.

Maka menuduh satu metode sebagai tidak mengikuti hadis adalah penyederhanaan yang terlalu jauh dari tradisi ilmiah Islam.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Muhammadiyah Juga Mengikuti Prinsip “Melihat Hilal”

Sering kali muncul tuduhan bahwa Muhammadiyah tidak mengikuti hadis tentang rukyat. Tuduhan ini sebenarnya tidak tepat.

Muhammadiyah tetap berpegang pada konsep terlihatnya hilal, hanya saja pendekatannya menggunakan perhitungan astronomi modern untuk memastikan kemungkinan terlihatnya bulan.

Bahkan, dalam konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), standar visibilitas hilal dibuat lebih ketat.

Jika di Indonesia selama ini dikenal kriteria sekitar 3 derajat, maka dalam konsep global digunakan standar sekitar 5 derajat agar kemungkinan terlihatnya hilal semakin kuat secara ilmiah.

Artinya, bukan meninggalkan rukyat, tetapi menguatkan rukyat dengan ilmu astronomi modern.

Penjelasan Tafsir tentang “Siapa yang Menyaksikan”

Al-Qur’an menyatakan:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu maka hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam penjelasan tafsir modern, termasuk yang dijelaskan oleh Prof. Quraish Shihab, ayat ini tidak selalu harus dipahami secara sempit dalam batas satu wilayah negara.

Dalam forum ulama internasional yang membahas kalender Hijriyah global, disepakati bahwa jika hilal telah terlihat di suatu tempat di dunia dan masih dalam malam yang sama, maka informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi umat Islam di wilayah lain.

Dengan demikian, yang ditekankan oleh ayat ini bukanlah batas negara, tetapi kesaksian terhadap hadirnya bulan baru.

Inilah yang menjadi dasar pemikiran lahirnya gagasan penyatuan kalender Hijriyah secara global.

Justru Ingin Menyatukan Umat

Ironisnya, ketika ada usaha untuk memikirkan kalender Islam yang lebih terintegrasi secara global, justru muncul tuduhan bahwa langkah tersebut memecah belah umat.

Padahal semangatnya justru sebaliknya: mencari titik temu bagi umat Islam di berbagai negara.

Nabi Muhammad saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain disebutkan:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan dalam Islam tidak dibatasi oleh negara, bahasa, atau bangsa. Umat Islam di berbagai penjuru dunia adalah satu tubuh yang sama.

Karena itu, gagasan kalender Hijriyah global lahir dari keinginan agar umat Islam di berbagai belahan dunia dapat memulai Ramadan dan merayakan Idul Fitri secara lebih terpadu.

Menjaga Perbedaan dengan Kedewasaan

Dalam tradisi fikih Islam, perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Para imam besar pun berbeda dalam banyak masalah ijtihad.

Namun perbedaan itu tidak pernah menjadi alasan untuk saling menuduh, apalagi mengharamkan pihak lain yang memiliki dasar ilmiah.

Karena itu, dalam persoalan penentuan awal Ramadan dan Syawal, yang lebih dibutuhkan adalah kedewasaan ilmiah dan keluasan hati.

Biarlah para ulama dan ahli ilmu terus berdialog, saling mendekatkan pandangan, dan mencari titik temu terbaik bagi umat.

Sebab tujuan kita bukan memenangkan perdebatan, tetapi menjaga persaudaraan umat Islam.

Pada akhirnya, jika ada yang meminta Muhammadiyah untuk taat kepada pemerintah, maka Muhammadiyah pun dengan penuh hormat mengajak semua pihak untuk bersama-sama taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena di sanalah letak persatuan yang sejati. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡