Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

HP Jadul Buat Nusuk, Mana Bisa?

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Oleh Eny Choi – Jamaah KBIH ‘Sidratul MuntahaPDM Jombang

PWMU.CO – Dalam rangka menjalankan tanggung jawabnya dalam melayani para tamu Allah, Kementerian Haji dan Umrah meluncurkan aplikasi Nusuk. Aplikasi ini untuk mereka yang ingin melaksanakan ibadah Umrah atau berkunjung ke Tanah Suci, untuk mengajukan izin masuk ke Dua Masjid Suci guna melakukan Umrah, Tawaf, serta shalat di Raudhah. Pemberian izin ini disesuaikan dengan kapasitas yang telah disetujui oleh otoritas terkait, demi memastikan terciptanya suasana yang spiritual dan aman. Sistem ini juga mengakomodasi penerapan langkah-langkah kesehatan, kontrol, serta pengaturan yang terintegrasi dengan aplikasi Tawakkalna guna memverifikasi kondisi kesehatan pemohon izin.

Aplikasi Nusuk ibarat nyawa bagi para jamaah umrah dan haji tahun 2025. Tanpa aplikasi ini, jamaah tidak dapat mengakses berbagai layanan haji dan umroh, serta tidak bisa memasuki tempat-tempat ibadah di Madinah dan Makkah. Di Makkah, penggunaan kartu fisik dari aplikasi Nusuk menjadi syarat utama yang setiap jamaah harus selalu membawanya untuk memenuhi kebutuhan ibadah mereka. 

Bahkan, muthowif kami pun mengalami pemeriksaan yang cukup ketat saat hendak melakukan perjalanan dari Makkah ke Madinah, yang memakan waktu hampir setengah hari. Akibatnya, terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan majelis taklim bersama kami, para jamaah KBIHU Sidratul Muntaha Jombang.

Sementara itu, di Madinah, meski secara fisik, kartu Nusuk tidak terpakai, namun aplikasinya tetap dibutuhkan. Karena pemesanan kunjungan ke Raudhah menggunakan aplikasi Nusuk. Tentu saja seluruh jamaah haji dan umrah sangat membutuhkan. Aplikasi Nusuk ini memanfaatkan data identitas masing-masing jamaah, seperti: nomor paspor, nomor visa, nomor telepon, tanggal lahir, serta alamat email.

Sempat beredar berita hoax yang menginformasikan bahwa satu aplikasi dapat digunakan secara bersama-sama. Akibatnya, banyak permintaan tangkapan layar (screenshot) pada jamaah yang telah berhasil mendaftar, untuk kemudian disebarluaskan dan digunakan oleh jamaah lain. Ternyata, cara tersebut sia-sia, karena pemindaian kode batang (barcode) pada aplikasi terkoneksi langsung dengan identitas pribadi setiap jamaah.

Kendala saat unduh aplikasi

Permasalahan yang sering muncul antara lain: pertama, sebagian besar jamaah merupakan lansia yang kurang familiar dalam menggunakan handphone. Kedua, tidak semua jamaah memiliki perangkat yang mendukung untuk mengunduh (download) aplikasi. Ketiga, informasi yang beredar sering simpang siur, sehingga muncul hoaks seperti satu aplikasi dapat digunakan oleh beberapa jamaah. Keempat, aplikasi yang tidak stabil, sehingga banyak yang mengalami error saat melakukan pendaftaran. Kelima, keterbatasan kuota membuat banyak jamaah yang berhasil mendaftar namun tidak dapat melakukan pemesanan kunjungan (booking visit)  ke Raudhah.

Ada pengalaman, pada Kamis (22/5/2025) pukul 08.40 Waktu Arab Saudi (WAS), kami dari KBIHU Sidratul Muntaha  mendapatkan jadwal kunjungan ke Raudhah. Sebelumnya kami berupaya keras selama beberapa hari untuk bisa mendaftar dan memperoleh booking visit melalui aplikasi Nusuk. Saat tiba di lokasi antrian, ada sejumlah jamaah asal Nigeria yang kebingungan tentang bagaimana caranya masuk di Raudhah. 

Kemudian salah seorang pemandu (guide) mereka memberikan isyarat atau kode agar jamaah Nigeria itu memberikan uang sebesar 5–10 riyal kepada laskar petugas penjaga gerbang (gate) Raudhah. Namun laskar itu langsung menolaknya. 

Dengan rasa ingin tahu, saya mendekati mereka dan sambil menunjukkan aplikasi Nusuk, saya bertanya, “apakah memiliki aplikasi Nusuk seperti ini?” Spontan mereka menjawab “tidak”, dan bahkan kemudian tampak seperti meminta tolong untuk dibuatkan akun atau booking kunjungan.

Nusuk tolak HP Jadul

Membuat saya semakin sedih, saat saya amati meminjam handphone-nya untuk membantu membuatkan aplikasi, ternyata handphone yang dipakai tidak supporting alias hp jadul. Saat mereka menyodorkan handphone yang lain, kondisinya sama saja. Ketika saya tanya, “apakah masih ada handphone yang lainnya lagi?” Mereka hanya menggeleng kepala sebagai jawaban. Sungguh tragis, dari 10 orang jamaah asal Nigeria itu, hanya membawa 2 handphone yang tidak supporting. Akhirnya, tampak mereka hanya mondar-mandir saja di sekitar Raudhah tanpa bisa masuk kedalamnya.

Terlihat juga seorang laki-laki asal Nigeria yang memohon untuk diizinkan masuk. Ada pula beberapa ibu yang masih membawa tangkapan layar (screenshot) barcode Nusuk. Saya mencoba mengingatkan mereka, namun tidak ingin mematahkan semangat sang ibu. Akhirnya, saya sampaikan agar tetap mencoba saja.

Menyaksikan fenomena itu, rasanya saya ingin menangis. Perjalanan jauh dengan impian besar ingin bisa masuk dan ibadah di Raudhah pun berpotensi gagal total. Meskipun penerapan kebijakanini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mencegah hal-hal yang buruk, penerapannya terasa sangat ketat. Kebijakan ini memang penting demi kelancaran dan keamanan, namun sayangnya dapat berdampak kurang menyenangkan bagi jamaah yang tidak memiliki ponsel yang mendukung aplikasinya. Semoga hal ini dapat menjadi perhatian pihak terkait, agar kebijakan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh jamaah tanpa terkecuali.(*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu