Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hutan Mengirim Pesan Lewat Kayu

Iklan Landscape Smamda
Hutan Mengirim Pesan Lewat Kayu
Zainal Arifin Emka. Foto: Dok/Pri
Oleh : Zainal Arifin Emka Wartawan Tua, Pengajar Stikosa-AWS
pwmu.co -

Banjir di Sumatra datang seperti kabar duka yang terlambat. Air membawa lumpur, membawa kepanikan. Dan entah mengapa, ia juga membawa kayu-kayu gelondongan yang mengapung seperti pesan rahasia dari hulu.

Seakan-akan hutan sedang menulis surat, dan setiap gelondongan adalah kalimat yang tak sempat ia ucapkan.

Lalu seseorang di Jakarta berkata, “Itu hanya pohon tumbang, bukan kayu tebangan.”

Kalimat itu jatuh seperti daun kering—ringan, namun terasa menutupi sesuatu yang jauh lebih gelap.

Publik mendengarnya, mengangguk sebentar, lalu saling berpandangan: benarkah hutan serapuh itu, hingga tumbangnya saja bisa menghasilkan gelondongan sebesar itu?

Seseorang itu adalah Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan. Pernyataannya: “Itu bukan hasil pembalakan liar, hanya pohon tumbang,” meluncur begitu cepat, begitu pasti, begitu meredupkan keresahan publik. Raja Juli seolah ingin melontarkan tuduhan bahwa yang kita lihat hanya ilusi mata.

Kita tahu, pejabat publik bisa—dan bahkan pandai—berbohong.
Tapi kita juga tahu, hutan tak pandai berbohong. Ia menyimpan luka dalam lorongnya sendiri. Ia tidak pandai menyusun narasi yang meredakan kritik.

Ia hanya bisa mengirim tanda. Kadang melalui longsor, kadang lewat sungai yang marah, dan kali ini melalui tumpukan kayu yang terbawa arus seperti sisa-sisa tubuhnya.

Dan kita, sebagai bangsa, sering kali lebih lihai membaca pidato daripada membaca isyarat alam.

Maka wajar jika publik bertanya: apakah pejabat sungguh tidak tahu, atau hanya belum siap mengucapkan kebenaran yang pahit?

Karena kehancuran hutan bukan puisi, tetapi ia selalu menyisakan metafora: pohon-pohon yang hilang, sungai yang kehilangan teduhnya, dan pemerintah yang kehilangan kepekaan untuk melihat luka sebelum semuanya tenggelam.

Banjir selalu membawa sesuatu. Kali ini, ia membawa sebuah pertanyaan: berapa banyak lagi gelondongan yang harus hanyut sebelum kita berhenti menyebutnya “pohon tumbang”?

Jika negeri ini ingin sembuh, barangkali ia harus mulai dari keberanian paling sunyi: menyebut kerusakan sebagai kerusakan, menyebut salah sebagai salah, dan mendengar suara hutan sebelum suara itu lenyap sepenuhnya dari peta.

Untuk saat ini, hutan masih mencoba bicara. Melalui banjir, melalui kayu, melalui keheningan yang memaksa.

Tinggal kita yang memilih: mau membaca pesannya, atau kembali menutup mata sambil berharap air surut dan ingatan masyarakat ikut hanyut. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu