Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

I’am Possible

Iklan Landscape Smamda
I’am Possible
Edy Susanto, M.Pd.(Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Edy Susanto, M.Pd. Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya
pwmu.co -

Pada tahun 1989, di kampung kelahiran saya, Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, saya bertemu dengan seorang tetangga paruh baya yang biasa dipanggil Mas Agung. Saat itu kami sama-sama membeli makan sahur di bulan Ramadan di sebuah warung desa. Dalam pertemuan singkat itu, Mas Agung berbincang santai dengan saya dan beberapa pembeli lainnya.

Ketika itu saya baru satu tahun lulus dari SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk (1988). Mas Agung kerap memberi nasihat ringan, namun futuristik, kepada anak-anak muda yang masih galau menatap masa depan. Kebingungan antara bekerja atau melanjutkan studi, ditambah keterbatasan biaya, membuat banyak dari kami ragu untuk melangkah. Namun, impian kami saat itu justru melambung tinggi.

Pesan yang Mengubah Arah Hidup

Dari Mas Agung saya mendapatkan pesan yang terus melekat dalam benak. Katanya, jika ingin sukses maka harus kuliah, jangan hanya mengandalkan ijazah SMA. Pilih jurusan yang memberi peluang kerja besar, bukan sekadar kuliah. “Ambil jurusan Bahasa Inggris atau teknik komputer,” sarannya.

Sejak itu saya mulai rajin menabung untuk biaya kuliah secara mandiri. Tahun 1990, dengan doa restu kedua orangtua, saya memutuskan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surabaya, jurusan Bahasa Inggris. Saat itu kampus FKIP masih berada di kawasan Pucang, satu kompleks dengan SMP Muhammadiyah 5 Pucang dan SMA Muhammadiyah 2 Pucang Surabaya.

Dari kampus inilah saya dibentuk menjadi guru inovatif, cakap, dan berintegritas. Guru, bagi saya, bukan hanya penguasa materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu mengelola kelas. Mengajar pun merupakan sarana ibadah dan dakwah.

Langkah Baru di Dunia Mengajar

Sebelum wisuda, pada tahun 1994, saya sudah ditawari mengajar di SMA 10 November Surabaya, sebuah sekolah swasta di sebelah selatan Tugu Pahlawan. Mengajar di sana sampai tahun 2000 menjadi pengalaman berharga. Saya kerap membantu sekolah mencari murid dengan menyebarkan brosur ke SMP terdekat.

Dari sana saya banyak belajar menghadapi murid dengan beragam karakter: ada yang nurut, bandel, atau bahkan cuek. Guru dituntut memiliki cara untuk “menaklukkan” muridnya, juga memiliki jiwa seni dalam mengajar agar siswa senang belajar dan tidak cepat bosan.

Setahun mengajar di SMA, saya juga ditawari mengajar di sebuah SMP swasta di kawasan Sidotopo Wetan. Tantangannya tak jauh berbeda. Selain mengajar, guru juga dituntut mengelola kegiatan sekolah. Hampir enam tahun saya menjalani peran sebagai guru bahasa Inggris di SMP dan SMA, dengan banyak suka dan duka.

Bergabung dengan Mudipat: Tantangan Baru

Tahun 2001 menjadi titik baru perjalanan saya, saat mulai bergabung di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) sebagai guru Bahasa Inggris kelas VI. Sebagai guru baru, saya dituntut cepat beradaptasi dengan kultur sekolah teladan nasional itu.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Suatu hari, seorang staf Dinas Pendidikan Kota Surabaya menelpon saya pada hari Senin, memberi tahu bahwa Kamis akan digelar lomba dialog Bahasa Inggris. Ia menanyakan apakah Mudipat bersedia ikut serta. Hari itu juga adalah batas pendaftaran.

Saya langsung berkoordinasi dengan tim guru Bahasa Inggris. Beberapa sempat meragukan kesiapan kami karena waktunya sangat terbatas. Bahkan seorang guru senior, Ustadzah Siti Zubaidah, berkata dengan nada pesimis: “It’s impossible.” Namun saya menimpali dengan penuh keyakinan: “I am possible.” Keyakinan inilah yang membuat semua bersemangat.

Kemenangan Bersejarah

Kami segera berbagi tugas: ada yang menyusun naskah, menyiapkan properti, hingga menyeleksi calon peserta. Selasa sudah tersusun jadwal latihan. Justru karena waktu terbatas, pembina dan murid berlatih dengan penuh semangat.

Hari Jumat, tim Mudipat tampil dalam lomba. Panitia mengumumkan para finalis yang akan berlaga keesokan harinya. Alhamdulillah, tim Mudipat lolos ke babak final melawan sekolah-sekolah ternama di Surabaya, termasuk sekolah nasional dan internasional.

Dan pada Sabtu itu, sejarah tercipta: Mudipat menjadi juara 1 lomba dialog Bahasa Inggris. Beberapa guru terharu dan meneteskan air mata bahagia atas kemenangan tersebut.

Makna di Balik Kata I’am Possible

Dari pesimisme lahir optimisme. Dari kata impossible, saya menemukan semangat I am possible. Keyakinan inilah yang terus saya bawa dalam mendidik anak-anak bangsa, bahwa dengan usaha, doa, dan kerja sama, segala keterbatasan bisa diubah menjadi keberhasilan.

Barakallah.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡