Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ibadah Tak Selalu Ubah Perilaku, Ini Pesan Ustaz Rifqi di Kajian Ahad Malam AQBS Ponorogo

Iklan Landscape Smamda
Ibadah Tak Selalu Ubah Perilaku, Ini Pesan Ustaz Rifqi di Kajian Ahad Malam AQBS Ponorogo
Pemberian sertifikat Juziyah kepada santriwati setelah Kajian Rutin Ahad Malam. Foto: Istimewa.
pwmu.co -

Aisyiyah Qur’anic Boarding School (AQBS) Kabupaten Ponorogo kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Malam yang diisi langsung oleh Direktur AQBS, Ustaz Rifqi Ihsanu Najib, M.Pd. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Ahad (25/1/2026) malam, bertempat di Masjid AQBS, dan diikuti oleh seluruh santriwati dengan penuh kekhusyukan.

Kajian kali ini mengangkat tema reflektif dan mendalam, “Mengapa Ibadah Tidak Selalu Mengubah Perilaku”. Tema tersebut mengajak para santriwati untuk tidak hanya berfokus pada rutinitas ibadah secara lahiriah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran hati serta menerapkan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sambutannya, Ustaz Rifqi menyampaikan sebuah ungkapan yang menggugah.

“Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya menuntut ilmu, maka ia akan merasakan pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pertemuan para santriwati di pondok ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari takdir Allah SWT. AQBS pun berada dalam alur takdir tersebut, bermula dari menempati bangunan pinjaman hingga kini memiliki gedung sendiri.

Seluruh perjalanan itu merupakan proses panjang yang Allah tetapkan sebagai sarana pendidikan dan penempaan karakter.

Namun, realitas kehidupan menunjukkan adanya fenomena yang memprihatinkan. Ustaz Rifqi mencontohkan kondisi sebagian orang yang secara lahiriah tampak taat beribadah, tetapi perilakunya belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai ibadah tersebut, antara lain:

• Orang yang rajin melaksanakan salat, tetapi masih menjalani hubungan pacaran.

• Hafizh atau hafizah Al-Qur’an yang justru terjerumus dalam perbuatan zina.

Fenomena ini, menurutnya, bukan semata-mata persoalan kurangnya ibadah, melainkan berakar pada penyakit hati yang belum tersentuh pembinaan secara mendalam.

Pada sesi berikutnya, ia mengulas fenomena yang dikenal dengan istilah STMJ (Salat Terus, Maksiat Jalan). Banyak orang yang rajin melaksanakan salat, menghafal Al-Qur’an, bahkan aktif berdakwah, namun masih terjerumus dalam berbagai bentuk kemaksiatan.

Ustaz Rifqi kemudian mengajukan pertanyaan kunci, “Mengapa hal ini bisa terjadi?” Jika ibadah ritual semata sudah cukup, tentu orang yang tekun beribadah akan secara otomatis menjadi pribadi dengan akhlak terbaik. Namun, pada kenyataannya, hal tersebut tidak selalu demikian.

Ia menyampaikan sebuah kalimat reflektif yang sangat mengena.

“Banyak yang sujudnya panjang, tetapi khianatnya juga panjang,” tuturnya.

Melalui pernyataan tersebut, Ustaz Rifqi menegaskan adanya satu hal penting yang kerap luput dari perhatian, yakni pengendalian hawa nafsu. Ibadah yang belum mampu mengekang hawa nafsu sejatinya masih berhenti pada tataran lisan dan gerakan semata, belum sepenuhnya meresap dalam moral diri.

Menurutnya, akar permasalahan ini terletak pada arah hati dan fungsi otak. Hati berfungsi untuk merasa, sementara otak berfungsi untuk berpikir. Ketika ibadah tidak mampu menyentuh keduanya secara bersamaan, maka ia hanya menjadi rutinitas kosong. Oleh karena itu, ia mengajak santriwati untuk bertanya pada diri sendiri, “Ibadah dan hafalan ini karena apa?”

Ustaz Rifqi menegaskan bahwa ibadah sejatinya harus mampu mengendalikan hati dan otak. Ibadah tanpa kesadaran dapat berubah menjadi topeng moral, yakni pembenaran atas kesalahan kecil dengan dalih sudah banyak melakukan kebaikan. Bahkan, seseorang bisa merasa cukup dengan amal-amalnya, lalu meremehkan dosa yang dilakukan.

Ia juga menegaskan bahwa salat adalah kunci segala perbuatan baik. Banyaknya amal kebaikan akan menjadi sia-sia jika salat ditinggalkan atau dilakukan tanpa kehadiran hati.

Dalam pandangan Al-Qur’an, kondisi ini disebut sebagai penyakit hati. Ustaz Rifqi mengutip QS. Al-Baqarah ayat 10: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakitnya.”

Penyakit ini ditandai dengan sikap seseorang yang mengetahui bahwa perbuatannya salah, namun tetap melakukannya karena pandai membenarkan diri sendiri (self-justification).

Kajian kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari sisi biologis. Secara medis, perilaku buruk yang terus dilakukan meskipun sadar salah berkaitan dengan melemahnya fungsi korteks prefrontal, yaitu pusat kendali moral dalam otak.

Selain itu, muncul fenomena dopamin murahan, yaitu kecanduan terhadap sensasi instan dan validasi sesaat. Inilah yang sering terjadi pada perilaku pacaran dan maksiat lainnya: kenikmatan singkat yang tampak menggoda, namun sesungguhnya merusak.

Dampak lain dari kondisi ini adalah hilangnya empati dan keterikatan sosial. Seseorang tidak lagi peduli terhadap dampak perbuatannya pada orang lain, dan hanya memikirkan kepuasan diri sendiri. Iman pun berhenti pada ucapan semata, mengaku beriman, tetapi tidak menunaikan amanah.

Lebih jauh, Ustaz Rifqi menjelaskan tentang kondisi di mana hawa nafsu dijadikan tuhan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah ayat 23. Hal ini terjadi ketika keinginan pribadi dijadikan standar kebenaran di atas perintah Allah SWT. Orang seperti ini cenderung keras kepala (ngeyel) dan sulit menerima nasihat.

Sebagai penutup materi, ia menegaskan bahwa solusi dari penyakit ini bukan sekadar menambah ibadah, melainkan memperbaiki sistem dari dalam diri, antara lain:

1. Memulihkan empati dengan merasakan dampak perbuatan terhadap orang lain.

2. Melatih kontrol impuls dengan belajar berkata “tidak” pada keinginan sesaat.

3. Memutus dopamin murahan dengan menjauhi pemicu maksiat instan.

4. Berani menanggung konsekuensi dan tidak lari dari tanggung jawab.

Ustaz Rifqi menutup kajian dengan penegasan yang mendalam.

“Ibadah yang benar adalah ibadah yang menyentuh hati, ibadah yang mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar,” imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa jika perilaku belum berubah, yang perlu diperiksa bukanlah kuantitas ibadah, melainkan kualitas kehadiran hati dalam setiap sujud.

Kajian ditutup dengan hadis Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Tirmidzi).

Setelah kajian Ahad Malam selesai, pihak pesantren memberikan sertifikat Juziyah kepada santriwati yang berhasil menyelesaikan target hafalan sebanyak 1 juz. Pemberian sertifikat ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi, agar para santriwati terus istiqamah dalam menjaga dan meningkatkan hafalan Al-Qur’an.

Selain itu, pada kesempatan yang sama juga diserahkan piala bergilir kamar terbersih sebagai bentuk penghargaan atas kedisiplinan santriwati dalam menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan pesantren. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman sekaligus mencerminkan karakter santri yang bertanggung jawab.

Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Kajian Rutin Ahad Malam tidak hanya menjadi sarana penguatan ruhiyah dan intelektual, tetapi juga menjadi media pembinaan karakter santriwati secara menyeluruh, mencakup aspek ibadah, akhlak, serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu