Era serba digital saat ini, mendidik anak ibarat berjalan di atas dua sisi mata pisau. Di satu sisi, gadget memberi kemudahan yang sangat luar biasa. Akses informasi maupun hiburan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.
Anak-anak pun bisa belajar melalui video edukatif, aplikasi interaktif, bahkan menjalin komunikasi lintas negara.
Namun sisi lainnya, dunia digital juga menyembunyikan bahaya yang tak kalah mengancam: konten tak layak, kecanduan layar, hingga serangan nilai yang berpotensi merusak fitrah anak.
Dalam situasi semacam ini, peran perempuan —terutama seorang ibu— begitu krusial. Ia adalah garda depan dalam menjaga, mengarahkan, dan membentuk literasi digital keluarga.
Hanya, sebelum kita membincang lebih jauh — tentang gadget, literasi, atau algoritma —, satu hal yang tak boleh diabaikan, yaitu: “kesehatan mental ibu”.
Karena dari sinilah semua peran pengasuhan bermula. Tema, “Ibu Sehat Mental Anak Sehat Digital” muncul dari kesadaran bahwa literasi digital anak tidak akan bisa ditegakkan dengan baik jika ibu sebagai tokoh sentral pendidikan di rumah tidak berada dalam kondisi fisik dan mental yang sehat.
Mendidik anak di era digital
Anak-anak zaman sekarang hidup di dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dunia mereka adalah dunia dengan notifikasi tak henti, konten yang bergulir cepat, dan layar yang seakan tak punya ujung.
Para orang tua menjadi kelabakan. Akhirnya, sebagian memberikan ‘kebebasan’ pada anak untuk memilih video, channel, atau aplikasi yang mereka suka. Seolah-olah memberikan pendidikan tentang demokratisasi dalam bidang informasi.
Padahal, tatkala akal anak belum siap untuk menerimanya secara sadar, kebebasan bisa menjadi liar dan justru memantik timbulnya tanpa petaka.
Anak yang belum mampu berpikir secara logis dan kritis akan lebih mudah tergoda oleh tampilan luar: lucu, keren, seru —tanpa memikirkan baik buruk dan benar salah dari kontennya. Karena itulah, maka perlu adanya pendampingan pada mereka.
Sayangnya, tanggung jawab berat ini seringkali hanya dibebankan pada sang ibu. Kita tidak menutup mata jika hari banyak superwoman. Mereka harus bekerja di luar rumah, mengurus rumah tangga, mengurus anak, dan sekaligus dituntut untuk memberikan pendidikan terbaik.
Padahal tidak semua ibu memiliki kondisi ideal. Ada yang “lelah fisik” karena bekerja seharian, ada yang “lelah emosional” karena tekanan sosial, dan ada yang mulai kehilangan arah karena merasa sendirian dalam mengasuh.
Padahal tanggung jawab untuk melakukan pendampingan pada anak dalam dunia digital terus menuntutnya. Literasi digital bukan sekadar soal “boleh atau tidak boleh pegang HP”.
Lebih dari itu adalah membekali anak agar memiliki kesadaran, daya pilah, dan nilai-nilai moral saat berhadapan dengan konten digital.
Ketidaktahuan dan ketidakmampuan
Hal utama yang membuat persoalan semakin besar, yaitu: “ketidaktahuan” dan “ketidakmampuan”. Ketidaktahuan terjadi karena kurangnya informasi yang dimiliki ibu mengenai bahaya penggunaan gadget.
Banyak yang mengira bahwa pembatasan pemakaian gadget hanya dengan durasi, padahal yang lebih utama pada kontennya. Apakah kontennya sesuai usia? Apakah mengandung kekerasan atau nilai yang menyimpang?
Seiring maraknya tema edukasi dari media, komunitas, dan himbauan dari lembaga resmi, perlahan ketidaktahuan ini mulai teratasi.
Permasalahan berikutnya yang tidak kalah penting adalah faktor ketidakmampuan. Faktor ini bisa muncul dari beberapa sisi:
- Ketidakmampuan ibu dalam menasihati dengan cara yang menyentuh, bukan menyuruh.
- Ketidakmampuan ibu dalam menciptakan aktivitas menarik agar anak betah tanpa gadget.
- Ketidakmampuan ibu dalam mendampingi proses belajar anak akibat sudah lelah karena bekerja.
Menjadi superwomen
Solusi untuk menjadikan ibu menjadi personal yang kuat tidak sebatas hanya melalui teknis parenting. Tapi harus mulai dari hulunya, yaitu menjaga kesehatan mental dan fisik sang ibu.
Ibu yang sehat lebih memiliki energi sabar yang kuat. Ibu yang kuat mentalnya akan mampu membedakan kapan anak membutuhkan hiburan dan ketika anak sedang ‘lari’ ke gadget karena merasa kosong.
Perempuan perlu memiliki waktu pribadi untuk beraktivitas sederhana — misalnya berkebun, menulis jurnal, berolahraga ringan, atau sekadar duduk dengan secangkir teh — agar bisa membantu mengisi ulang energi.
Aktivitas fisik yang menyenangkan akan membuat tubuh lebih sehat, dan kesehatan fisik akan mendukung kekuatan mental.
Seorang ibu dengan mental yang sehat tidak akan mudah menjadikan gadget sebagai jalan pintas untuk menenangkan anak.
Sebaliknya, ia akan kreatif mencari cara yang lebih bijak dan bermanfaat, seperti membaca bersama, bermain peran, membuat prakarya, atau sekadar mengobrol hangat sambil memasak.
Dengan ketenangan hatinya, ia mampu mengendalikan emosi, tidak mudah meledak, serta memahami bahwa tumbuh kembang anak membutuhkan kesabaran, bukan bentakan.
Namun tetap saja tidak bisa membiarkan perempuan berjuang sendirian. Dalam keluarga yang sehat, peran ayah dan ibu ada keseimbangan.
Meskipun tidak selalu bisa ideal, ayah perlu hadir dalam hal pengasuhan. Ayah tidak sekedar sebagai memberi nafkah. Tapi juga harus memberi dukungan secara emosional pada istri, sekaligus terlibat dalam proses pendidikan anak.
Hadirnya ayah yang suportif, ibu tidak merasa terbebani sendiri. Ia bisa berbagi cerita, berbagi lelah, dan berbagi tanggung jawab. Hal inilah yang akan menguatkan mental ibu untuk terus mendampingi anak dengan kesadaran, bukan dengan keterpaksaan.
Jika kita benar-benar ingin menciptakan generasi yang sehat digital, literasi digital harus menjadi bagian dari budaya keluarga. Tidak sekadar melarang atau membatasi, tapi juga mendidik dan membekali anak agar mereka bisa menjadi pengguna digital yang bijak.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Buat kesepakatan tentang waktu dan jenis konten yang boleh dikonsumsi.
- Libatkan anak dalam diskusi tentang manfaat dan bahaya internet.
- Gunakan aplikasi parenting untuk memantau aktivitas digital anak.
- Sediakan alternatif kegiatan menarik yang bisa mengalihkan perhatian dari layar.
- Jadilah teladan, dengan menunjukkan penggunaan gadget yang sehat dari orang tua sendiri.
Meski jalan ini tidak mudah, kita harus tetap berjuang dengan segenap kemampuan terbaik. Tanggung jawab menjaga generasi bangsa bukan hanya berada di pundak keluarga, tetapi juga negara dan masyarakat secara keseluruhan.
Sudah saatnya kita mendukung Kementerian Komunikasi dan Digital untuk lebih tegas dalam menyaring konten-konten berbahaya, sekaligus memperkuat edukasi literasi digital bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama para ibu.
Workshop, kampanye, hingga komunitas parenting digital perlu diperbanyak agar para perempuan merasa didampingi, bukan berjalan sendiri. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental dan fisik keluarga.
Dari rahim dan pelukan perempuanlah lahir generasi baru yang murni, masih bersih dari sampah digital. Tugas kita bersama adalah memastikan kemurnian itu tetap terjaga, tumbuh, dan berkembang hingga mereka dewasa.
Anak yang memperoleh bimbingan dari ibu yang sehat, akan pandai menggunakan gadget dan memiliki nilai, adab, dan hati nurani. Mereka tidak akan menjadi korban dunia digital, melainkan pelaku perubahan yang akan membangun peradaban yang lebih beradab.***





0 Tanggapan
Empty Comments