Setelah sesi pertama yang meneguhkan tauhid, Darul Arqom Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur berlanjut ke materi sesi kedua yang tidak kalah penting: “Ideologi Muhammadiyah Menghadapi Dinamika Global, Nasional, dan Lokal (Glonakal)” (28/8/2025).
Materi ini disampaikan dengan penuh semangat oleh seorang akademisi dan intelektual Muhammadiyah yang dikenal kritis dan visioner, Moh. Mudzakkir SSos MA PhD.
Bertempat di Argo Mulia, Prigen, Pasuruan, ratusan kader muda Muhammadiyah larut dalam perenungan tentang bagaimana ideologi Muhammadiyah harus hidup, adaptif, dan transformatif di tengah derasnya arus perubahan dunia.
Mengurai Ideologi Muhammadiyah di Tengah Glonakal
Sesi kedua ini mengupas tuntas makna ideologi Muhammadiyah sebagai energi sosial yang menuntun gerak langkah persyarikatan.
Menurut Mudzakkir, ideologi bukan sekadar teori kering, melainkan daya dorong kolektif yang memberi arah perjuangan, mempersatukan, dan menjadi dasar legitimasi moral.
“Ideologi Muhammadiyah adalah Islam berkemajuan. Ia bukan ideologi tertutup yang kaku, melainkan ideologi terbuka, rasional, humanis, dan kosmopolit, yang selalu berlandaskan pada al-Quran dan Sunnah sahih,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada teks ideologi, tetapi harus menghidupkannya dalam tindakan nyata di ranah global, nasional, maupun lokal–yang disebutnya dengan istilah Glonakal.
Peserta terdiri dari kader IMM dan IPM Jawa Timur, generasi muda Muhammadiyah yang sedang digembleng menjadi garda depan persyarikatan. Banyak peserta yang mengaku materi ini membuka cakrawala baru.
“Saya baru sadar, ternyata ideologi Muhammadiyah itu tidak hanya untuk internal organisasi, tetapi juga punya peran strategis di level global,” ujar Nurul Hidayah, salah satu kader IPM asal Jombang.
Momentum di Era Perubahan
Pemilihan tema ideologi di awal acara menunjukkan bahwa panitia ingin menekankan pentingnya pijakan ideologis sebelum melangkah lebih jauh. Momentum ini sangat relevan.
Dunia kini dihadapkan pada tantangan globalisasi, digitalisasi, perubahan iklim, hingga konflik geopolitik. Sementara di level nasional, Indonesia tengah menghadapi problem ketimpangan sosial, krisis integritas, dan ancaman intoleransi.
“Jika tidak punya basis ideologi yang kuat, kader Muhammadiyah bisa terseret arus. Karena itu, penting untuk memahami ideologi Muhammadiyah sebagai penuntun,” tegas Mudzakkir.
Prigen yang Sejuk, Ruang Diskusi yang Hangat
Suasana sejuk Argo Mulia, Prigen menjadi latar diskusi ideologi yang mendalam. Ruang pelatihan dipenuhi antusiasme peserta yang serius menyimak paparan, mencatat poin-poin penting, bahkan aktif bertanya.
Sesi ini tidak hanya berlangsung formal, tetapi juga hangat dengan diskusi kritis. Beberapa peserta menanyakan bagaimana Muhammadiyah bisa tetap independen di tengah tarik-menarik kepentingan politik nasional.
Mudzakkir menjawab dengan tenang, “Muhammadiyah selalu mengambil posisi sebagai kekuatan moral bangsa. Kita tidak larut dalam pragmatisme politik, tetapi hadir dengan etika dan akhlak,” tuturnya.
Ideologi sebagai Energi Sosial
Mengapa ideologi Muhammadiyah begitu penting? Karena ia menjadi “living ideology” – ideologi yang hidup, adaptif, dan transformatif.
Di tingkat global, Muhammadiyah berperan dalam diplomasi pendidikan, isu perdamaian, migrasi, hingga pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Universitas-universitas Muhammadiyah bahkan sudah masuk radar internasional. Di tingkat nasional, Muhammadiyah hadir sebagai mitra kritis pemerintah, memperjuangkan kebijakan publik yang pro-rakyat, serta menjaga moralitas politik bangsa.
Sementara di tingkat lokal, Muhammadiyah membumi melalui sekolah, rumah sakit, pesantren, dan program pemberdayaan masyarakat.
“Jika ideologi kita hanya berhenti di ruang wacana, maka ia mati. Tetapi jika ideologi menjadi energi sosial, maka ia akan hidup dan menggerakkan perubahan,” kata Mudzakkir penuh penekanan.
Strategi Muhammadiyah Menghadapi Glonakal
Dalam pemaparannya, Mudzakkir menawarkan strategi konkret agar ideologi Muhammadiyah tetap relevan menghadapi dinamika Glonakal:
- Kritis-dialektis terhadap perubahan – Muhammadiyah harus berani menyaring pengaruh global dan hanya mengambil yang sejalan dengan tauhid.
- Adaptif tanpa kehilangan prinsip – Muhammadiyah bisa menerima kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan budaya, tetapi tetap menjaga akidah.
- Transformasional – Ideologi tidak berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan dalam amal usaha nyata seperti pendidikan, kesehatan, dan filantropi.
- Menguatkan peran Ortom – Organisasi otonom (Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, IMM, IPM, dsb.) harus menjadi garda depan kaderisasi ideologis.
- Internasionalisasi gerakan – Melalui diplomasi kebudayaan dan pendidikan, Muhammadiyah harus tampil sebagai wajah Islam berkemajuan di panggung dunia.
Suasana Sesi: Penuh Inspirasi
Diskusi sesi kedua berlangsung hidup. Peserta tampak terinspirasi saat Mudzakkir menceritakan kiprah Muhammadiyah di forum internasional, termasuk perannya dalam isu perdamaian dunia dan respon terhadap bencana global.
“Bayangkan, sebuah organisasi yang lahir dari kampung Kauman di Yogyakarta, kini bisa bicara di forum PBB. Itu bukti bahwa ideologi Muhammadiyah memang kosmopolit,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Beberapa kader muda bahkan menyampaikan tekad mereka untuk melanjutkan misi internasionalisasi Muhammadiyah.
“Kami ingin IMM dan IPM menjadi duta muda Muhammadiyah di forum global,” kata Humanika Dian Nusantara peserta dari IMM Sidoarjo
Ideologi yang Hidup dan Menggerakkan
Sesi kedua Darul Arqom ini menegaskan bahwa ideologi Muhammadiyah bukan sekadar dokumen organisasi, tetapi energi peradaban yang mampu menjawab tantangan global, nasional, dan lokal.
Dengan ideologi Islam berkemajuan, Muhammadiyah hadir sebagai kekuatan moral, agen perubahan sosial, sekaligus jembatan antara nilai-nilai Islam dan tuntutan zaman.
“Kalau ideologi Muhammadiyah terus kita rawat sebagai living ideology, insyaAllah kita tidak hanya menjadi penonton perubahan dunia, tetapi juga pelaku utama yang menebarkan rahmat bagi semesta,” pungkas Mudzakkir menutup sesi.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments