Pada era digital, media sosial (medsos) menjadi ruang publik baru yang sangat berpengaruh dalam membentuk cara berpikir, berkomunikasi, dan bersikap masyarakat.
Informasi mengalir begitu deras, batas antara fakta dan opini semakin kabur.
Interaksi digital menjadi seringkali berlangsung tanpa kendali etika yang memadai.
Fenomena ini merupakan tantangan serius, utamanya bagi kaum muda dan komunitas intelektual Muslim. Tak terkecuali mahasiswa Teknik Informatika di lingkungan Muhammadiyah.
Sebagai gerakan Islam modernis yang mengusung semangat tajdid (pembaruan), Muhammadiyah menjadikan perkembangan teknologi bukan sekadar kemajuan teknis, tetapi menjadi medan dakwah dan pengabdian.
Konsep “Islam Berkemajuan” menempatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman dalam satu tarikan napas: membangun peradaban yang cerdas, berakhlak, dan berkeadaban.
Karena itu, literasi digital dan etika bermedia sosial tidak dapat dipisahkan dari misi keislaman di era teknologi informasi.
Peluang dan Tantangan Dakwah Digital
Medsos sejatinya telah membuka peluang besar bagi penyebaran nilai-nilai Islam.
Dakwah tidak hanya sekadar dari atas mimbar masjid, tetapi juga perlu hadir dalam bentuk unggahan, komentar, video pendek, hingga diskusi daring.
Hanya saja di balik peluang tersebut, terdapat tantangan yang cukup serius yang berupa informasi hoaks, ujaran kebencian, provokasi, dan penyalahgunaan teknologi digital.
Ironisnya, perilaku tersebut tidak jarang justru pelakunya adalah individu yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan identitas keagamaan yang kuat.
Di sinilah literasi digital memainkan peran krusial sebagai instrumen untuk menyaring dan memproduksi konten digital secara kredibel.
Mahasiswa Teknik Informatika semestinya tidak hanya memandang literasi digital sebagai kecakapan teknis, melainkan sebagai komitmen moral untuk memanfaatkan inovasi teknologi bagi kepentingan masyarakat luas.
Literasi Digital dalam Perspektif Islam Berkemajuan
Islam Berkemajuan menempatkan akal dan ilmu sebagai instrumen utama dalam membangun kehidupan yang berkeadilan dan berkeadaban.
Prinsip ini sejalan dengan literasi digital yang menuntut sikap kritis, rasional, dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi.
Dalam Islam, konsep tabayyun (klarifikasi) menjadi landasan utama sebelum menyebarkan informasi.
Bukankah Al-Qur’an telah menegaskan agar umat tidak terjebak pada berita palsu yang menimbulkan kerusakan sosial?
Mahasiswa Teknik Informatika Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam konteks ini.
Mereka bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga calon pengembang sistem informasi, aplikasi, dan platform digital.
Tanpa fondasi etika yang kuat, keahlian teknologi justru berpotensi melahirkan kerusakan baru di ruang digital.
Sebaliknya, dengan literasi digital yang berlandaskan nilai AIK, teknologi dapat menjadi sarana dakwah pencerahan dan transformasi sosial.
Etika Bermedia Sosial sebagai Manifestasi Akhlak Digital
Etika bermedia sosial merupakan manifestasi akhlak Islami dalam ruang digital.
Nilai-nilai fundamental seperti kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, dan pengendalian diri wajib melandasi setiap aktivitas daring.
Dalam perspektif Muhammadiyah, etika digital melampaui sekadar norma sosial; ia merupakan bentuk ibadah dan tanggung jawab moral bagi setiap Muslim serta warga Persyarikatan.
Hasil kajian menegaskan bahwa individu dengan literasi digital yang mumpuni cenderung mempraktikkan etika bermedia sosial yang lebih luhur.
Mereka bersikap lebih selektif dalam mendistribusikan informasi, memitigasi provokasi, serta memosisikan diri secara bijak dalam diskursus daring.
Fenomena ini membuktikan bahwa literasi digital bukan sebatas kecakapan teknis, melainkan instrumen krusial dalam pembentukan karakter dan akhlak.
Bidang Teknik Informatika memiliki peran strategis dalam membangun peradaban digital yang beretika.
Mahasiswa dan lulusan informatika Muhammadiyah diharapkan tidak hanya unggul secara kompetensi teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etik dan spiritual.
Integrasi nilai AIK dalam pendidikan informatika menjadi kunci untuk melahirkan insan ulul albab yang mampu mengharmoniskan iman, ilmu, dan amal.
Islam Berkemajuan mendorong penguasaan teknologi sebagai sarana memajukan umat, bukan sekadar mengejar efisiensi dan keuntungan.
Oleh karena itu, literasi digital harus dipahami sebagai proses pembebasan manusia dari kebodohan informasi, manipulasi digital, dan degradasi moral di ruang maya.
Etika bermedia sosial menjadi benteng utama agar teknologi tetap berada dalam koridor kemanusiaan dan keadilan.
Ekosistem Digital yang Berkemajuan
Penguatan literasi digital dan etika bermedsos perlu secara sistematis melalui pendidikan, dakwah, dan kebijakan organisasi.
Muhammadiyah memiliki modal sosial dan intelektual yang besar untuk menjadi pelopor dalam membangun ekosistem digital yang berkemajuan.
Pelatihan literasi digital, penyusunan pedoman etika bermedia sosial, serta integrasi nilai AIK dalam kurikulum Teknik Informatika merupakan langkah strategis yang perlu terus dikembangkan.
Tantangan digital memang tak terelakkan, namun ia menanti untuk ditaklukkan dengan kesadaran dan keteguhan nilai.
Islam Berkemajuan mengamanatkan teknologi sebagai instrumen pembebasan, bukan akar kemaslahatan yang tercerabut.
Melalui literasi digital yang mumpuni dan etika Qur’ani, mahasiswa Teknik Informatika Muhammadiyah harus berdiri di garda terdepan sebagai arsitek peradaban yang mewujudkan ruang siber sehat, beradab, dan mencerahkan bangsa.***





0 Tanggapan
Empty Comments