Ramadan tahun ini, kaum mukminin berkesempatan untuk ikhtiar membangun rumah di surga.
Kita bersama keluarga yang sedang shalat berjamaah di masjid atau mushalla, adalah dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT, dan melaksanakan amanah dakwah.
Tradisi ini terinspirasi dari QS Ar ra’d (23) tentang keluarga yang sama-sama beriman, bisa dipertemukan di surga.
Disebutkan Allah dalam QS Ar ra’d (23) :
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَآئِهِمْ وَاَ زْوَا جِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَا بٍ
“(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasanganny, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 23)
“ketika kita bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah atau menjadi warga Muhammadiyah, atau sedang berjamaah di masjid, adalah bagian dari ikhtiar membangun rumah di surga bersama keluarga sesuai Sunnah.”
Kisah pengabdian panjang, Insya’Allah tercatat dan bernilai pahala di akhirat.
Maka ketika ada gema suara adzan, jangan disia siakan, jangan dianggap sepele, karena ada nilai ibadahnya. Apalagi ketika kaki kita masuk di masjid, rasanya belum lengkap jika belum mengisi kotak infak, sebagai bukti kongkrit iman kita kepada Allah telah ada, agar tidak terjadi penyesalan.
وَاَ نْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَ صَّدَّقَ وَاَ كُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia menyesali, “Ya Robbku, sekiranya Paduka berkenan menunda (kematian)ku sebentar waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 10)
Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir, Setiap orang yang melalaikan kewajiban, pasti akan merasa menyesal di saat meregang nyawanya, dan meminta agar usianya diperpanjang sekalipun hanya sebentar untuk bertobat, dan menyusul semua amal yang dilewatkannya.
Tetapi alangkah jauhnya, karena ibarat, nasi telah menjadi bubur, masing-masing orang akan menyesal kelalaiannya, adapun terhadap orang-orang kafir, keadaan mereka adalah sebagaimana disebutkan oleh firman Allah dalam surat Ibrahim ( 44):
وَاَ نْذِرِ النَّا سَ يَوْمَ يَأْتِيْهِمُ الْعَذَا بُ فَيَـقُوْلُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رَبَّنَاۤ اَخِّرْنَاۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَـتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ اَوَلَمْ تَكُوْنُوْۤااَقْسَمْتُمْ مِّنْ قَبْلُ مَا لَـكُمْ مِّنْ زَوَا لٍ
“Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, maka orang yang zalim berkata, “Ya Robb, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan), “Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? ” (QS. Ibrahim 14: Ayat 44)
Karenanya, berbekalah ! Persiapkan amal shalih senyampang masih hidup dan jauhilah kedurhakaan kepada Alloh SWT.
Kita bedoa dengan sebuah harapan, semoga bisa beramal solih selama hidup secara Istikomah.
Manusia seperti kita memiliki tubuh tentu memerlukan tempat untuk berlabuh dan beristirahat. Allah telah menjadikan rumah sebagai tempat kita berlindung, menyimpan rahasia dan juga memperoleh ketenangan. Akan tetapi yang dicela adalah kelalaian, yakni bila kita menumpahkan seluruh sumber daya yang kita miliki dan kita kumpulkan demi rumah-rumah Kita di dunia, tetapi melalaikan rumah-rumah kita di akhirat, kita harus ingat bahwa Allah menegur kealpaan ini, seperti tersebut dalam QS Al -a’la (16-17)
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا
“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia,”
(QS. Al-A’la 87: Ayat 16)
وَا لْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقٰى
“padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”(QS. Al-A’la 87: Ayat 17).
Pertanyaannya sekarang bagaimana kita bisa membangun rumah-rumah di akhirat nanti agar tidak termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia ?
Jawabannya
1. Membangun masjid
Diriwayatkan dari Abu Dzar: nabi bersabda: ” Siapa saja yang membangun masjid semata-mata Karena Allah walau hanya seukuran sarang burung merpati, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga. “(HR Al bazzar dan Tabrani dalam as-soghir). Ada yang berpendapat hadits ini diriwayatkan imam Muslim dari Usman bin Affan.
2. Mengerjakan 12 rakaat shalat rawatib secara kontinyu.
Ummu Habibah istri nabi Muhammad SAW berkisah: “saya mendengar Rasulullah bersabda, “tidak seorang hamba muslim pun yang setiap hari mengerjakan 12 rakaat shalat tathowwu’ (sukarela) semata-mata Karena Allah melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga. Ummu Habibah berkata: “maka sejak saat itu, saya selalu mengerjakannya.”(HR Muslim)
Dari riwayat lain yang bersumber dari Aisyah dinyatakan bahwa 12 rakaat itu adalah
4 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat sesudah dzuhur, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat sesudah isya, dan 2 rakaat sebelum subuh.
3. Mengisi shof yang lowong dalam shalat berjamaah
Aisyah berkata: ” Siapa saja yang mengisi shof kosong dalam shalat berjamaah, niscaya Allah mengangkat derajatnya satu tingkat dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga,” ( HR Tabrani dalam Ausath).
Oleh karenanya setiap kali hendak memimpin shalat sebelum takbiratul ihram, nabi selalu berbalik ke arah jamaah dan berseru:” rapat dan luruskan shof kalian.” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments