Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ilmu yang Menuntun, Bukan Menyesatkan

Iklan Landscape Smamda
Ilmu yang Menuntun, Bukan Menyesatkan
Foto: MuslimSG
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Ilmu yang bermanfaat adalah anugerah yang tidak semua orang mendapatkannya. Umar bin Abdil Aziz rahīmahullāhu menuturkan:

من عمل على غير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح

“Barangsiapa yang beramal tanpa berdasarkan ilmu, maka itu lebih banyak merusak dibanding memperbaiki.” (Lihat Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlihi : 1/131, Al-Faqih wal Mutafaqqih : 1/19)

Al Hasan Al Bashri rahīmahullāhu bertutur :

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْم

“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Hendaklah kalian menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun mereka meninggalkan belajar.” (Miftah Daris Sa’adah : 1/300)

Assyaikh Abdussalam bin Barjas rahīmahullāh mengatakan tentang mereka (orang-orang yang ilmunya bermanfaat) :

1. Mereka tidak memandang untuk diri mereka kedudukan. Mereka membenci dengan hati mereka pujian. Mereka tidak bersikap sombong kepada seorang pun.

Seorang yang ilmunya bermanfaat, setiap kali ilmu mereka bertambah, maka semakin bertambah pula sifat tawadhu (rendah hati) nya karena Allāh Ta’āla dan rasa takut serta merendahkan diri (kepada-Nya).

Iklan Landscape UM SURABAYA

2. Lari dari dunia, dan yang paling utama untuk mereka menjauh darinya adalah jabatan, popularitas dan pujian, menjauhi dari yang demikian itu serta bersungguh-sungguh menjauhinya adalah termasuk dari tanda-tanda ilmu yang bermanfaat.

Jika seandainya salah satu dari itu semua terjadi pada mereka, tanpa ada tujuan dan keinginan untuk mendapatkannya, maka mereka sangat khawatir dari kesudahannya.

Mereka khawatir bahwa ini adalah makar dan istidraj (diberi kenikmatan agar semakin jauh dari Allāh Ta’āla). Sebagaimana Al-Imam Ahmad rahīmahullāhu beliau mengkhawatirkan dirinya setelah nama beliau tenar,

3. Mereka tidak mengklaim memiliki ilmu (tidak menganggap diri mereka sebagai seorang ulama) tidak membanggakan kepada seorang pun, dan tidak menyandarkan sifat bodoh kepada orang lain, kecuali orang-orang yang menyelisihi assunnah dan pelakunya.

Mereka berbicara tentang orang-orang yang menyelisihi assunnah disebabkan marah karena Allah, bukan marah karena diri mereka dan tidak pula karena ingin mengangkat kedudukan diri mereka dihadapan orang lain.

4. Berburuk sangka terhadap diri mereka (menganggap bahwa diri mereka banyak sekali kekurangan) dan senantiasa berbaik sangka terhadap orang-orang sebelumnya dari para ulama. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu